Wacana

Persahabatan bagai Kepompong, Janji Pemimpin Mestinya bagai Merpati

Pemimpin, Janji, Kepemimpinan, Merpati, Kepompong, Persahabatan, Headline, Kritik
Sepadang Merpati (Foto: Pixabay.com)
Pemimpin seharusnya tidak ingkar janji jika persahabatan cuma kepompong, pemimpin harus seperti merpati jantan yang tidak pernah ingkar kepada pasangannya.

Dari berbagai jenis burung nampaknya hanya merpati yang tidak pernah ingkar janji. Mira W, penulis novel laris mengabadikannya dalam sebuah novel berjudul Merpati Tak Pernah Ingkar Janji.  Tahun 1986 novel itu dijadikan film dengan judul yang sama.

Merpati bukan cuma penganut paham “home sweet home,” tapi juga setia pada satu pasangan. Berbeda dengan burung jantan lain yang bisa menclok di punggung sembarang betina, sensor di hidung Merpati bukan hanya dapat mencium bau rumah dari jarak yang jauh, tapi juga dapat mencium aroma kekasih tercinta dengan tingkat akurasi nyaris seratus persen.

Merpati tak pernah ingkar janji. Bagi Merpati janji adalah utang yang harus dilunasi, apa pun risikonya. Demi janji , Merpati rela diselepet, di-bully, dicaci. Bukan karena takut dihajar balik oleh jejak digital, tapi demi janji itu sendiri.

Berbeda dengan burung lain. Janji bagi burung kebanyakan hanya kicauan yang tak bermakna. Bisa ditepati bisa juga tidak. Bukan hanya bisa seenaknya tidak menepati janji, bahkan burung kebanyakan bisa ngetawain merpati yang sok menetapi janji.” Hari geneeee masih menetapi janji. Hihihihihihi…”

Kalau misalnya hari ini burung kebanyakan berkicau, “Mengeritik bapak burung lebih indah dari bulu burung merak”. Maka pada kesempatan lain mereka dengan entengnya akan mengatakan, “Mengeritik bapak burung adalah perbuatan kucing garong”.

Kalau para lovers merpati menyodorkan jejak digital, dengan santai mereka akan bilang, “Ah, itu kan duluuuu. Burung merak sekarang sudah langka. Kucing garong dulu gemar makan ikan peda, sekarang selera makannya berbeda. Burung jadi menu utama mereka.

Maka tidak heran, pas lagi rame “Pilbarung,” pemilihan bapak burung, bertebaran sejumlah janji pencitraan.Misalnya,
“Burung tidak boleh merangkap jabatan menjadi kancil yang kerjanya cuma mencuri timun”, “Akan dibangun dua puluh ribu Puskesbung, pusat kesehatan burung”, dan Akan membuka sepuluh juta lapangan kerja”.

Baca Juga:  Jokowi Harus Minta Maaf pada Ustad Abdul Somad

Caranya, setiap burung minimal harus membawa biji-bijian untuk disebarkan ke seantero jagad. Sementara menunggu pohon tumbuh, makan saja apa yang ada, tidak boleh memakan barang impor dari manusia, kecuali mau menghabiskan sisa umur dalam sangkar.

Burung Merpati sudah lama dilarang ikut kontestasi Pilbarung. Alasannya, merpati sudah berkoalisi dengan manusia mengikuti kontes kecantikan burung dan lomba balap dengan iming-iming menclok di bokong betina pujaan hati. Sikap itu oleh para burung disebut sebagai bentuk radikalisme, intoleransi.

Padahal, sebenarnya para burung tidak mau tertular sifat tepat janji yang dianut oleh merpati. Lha, manusia saja sebagai mahluk yang paling mulia suka ingkar jani, masa binatang sebagai mahluk kelas dua harus menetapi janii?

13022018

***

Editor: Pepih Nugraha