Fakta

Anies Ditinggalkan, Sontak Netizen Pembelanya Merasa Terhina

Anies Baswedan, Walk Out, Ananda Sukarlan, Headline, Kolese Kanisius
Anies Baswedan (Foto: Tren Sulut)
Anies Baswedan merasa menghadiri undangan adalah kewajibannya selaku Gubernur DKI Jakarta. Bahwa ada insiden WO Ananda Sukarlan, ia menganggapnya enteng.

Anies Baswedan tak hanya menjadi buah bibir saat menjelang Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta. Sampai ia menghuni Balai Kota bersama Sandiaga Uno, cerita dan berita tentang mereka berdua tak pernah reda. Tak terkecuali hari ini, media arus utama sekelas Kompas.com dan Detik.com menjadi sasaran pembaca berita-berita seputar penguasa Jakarta Raya tersebut.

Sayangnya, muncul kesan jika media tak berpihak kepada kedua sosok tersebut. Pasalnya, berbagai pandangan miring acap menghiasi berbagai pemberitaan alih-alih mengangkat prestasi yang mulai mereka ukir -siapa tahu memang ada. Perhari Senin 13 November 2017, berita terpopuler di Kompas.com dan PepNews.com menempatkan kabar seputar Anies pada dua posisi sekaligus; kunjungan ke Kolese Kanisius yang mengadakan peringatan 90 tahun lembaga pendidikan itu sendiri.

Mengundang kehebohan lantaran salah satu alumni Kanisius, Ananda Sukarlan justru melakukan aksi walk-out alias meninggalkan lokasi di mana Anies sedang berpidato. Sikap pianis dan komponis ini sendiri memang tak lepas dari ketidaksetujuannya terhadap sikap Gubernur DKI yang dinilai olehnya telah menodai nilai-nilai kebangsaan, pluralisme, dan ke-Indonesiaan karena ambisi politik.

Menurut Ananda, sejak datang ke lokasi acara ia sudah merasa kaget lantaran merasa kurang tepat di acara yang menjadi wadah yang menghargai perbedaan justru merobek hal itu karena ambisi kekuasaan. Pasalnya dia melihat Anies masih kental dengan pola pikir yang tidak selaras dengan perbedaan, dan masih getol diwarnai dikotomi pribumi dan non-pribumi.

Ia sempat terpikir, kenapa panitia acara mengundang sosok Anies, walaupun ia memaklumi bahwa posisi tokoh tersebut sebagai Gubernur DKI cukup menjadi alasan logis di balik keputusan panitia mengundangnya. Ananda merasa bahwa inilah momen dirinya untuk melakukan protes, terlebih dia sendiri pun Muslim yang merasa perlu memberikan teguran dengan caranya. “Saya orang Jawa, Islam,” katanya, menegaskan.

Baca Juga:  Efek Prabowo Subianto di Pusaran Pilkada DKI Jakarta

Aksi itu membuat banyak alumni lainnya pun turut melakukan walk-out. Anies sendiri pun tak terlalu mempersoalkan aksi itu. Ia menilai jika tindakan dilakukan Ananda sebagai hal yang wajar karena perbedaan pendapat. “Saya menghormati perbedaan pandangan,” kata Gubernur DKI ini. “Saya memberikan hak kepada siapa saja untuk mengungkapkan dengan caranya.”

Di sisi lain Anies juga berpandangan jika keputusannya memenuhi undangan itu sebagai bagian dari prinsip bahwa ia sebagai pemimpin harus menyapa semua kalangan. “Jadi itu tanggung  jawab saya sebagai gubernur,” dia menegaskan. Selain, dia pun berjanji akan tetap berusaha mengayomi meskipun ada reaksi yang terasa negatif.

Ananda sendiri lewat akun Twitter-nya pun menegaskan jika aksi itu dilakukan tidak bertujuan agar terlihat keren. “Saya WO bukan supaya keren, Bang. Saya sudah keren sebelum WO, bahkan lahirpun sudah keren,” tulisnya di akun Twitter, setelah aksinya mengundang protes dari kalangan pendukung Anies.

Ananda juga menolak jika sikapnya itu dikait-kaitkan dengan Kanisius, lantaran menurutnya itu inisiatif pribadinya saja. “Bukan metode Kanisius untuk malu-maluin orang,” tulisnya lagi di akun @anandasukarlan.

Ditengarai, Ananda merasa terdorong melakukan itu lantaran ia meyakini jika faktor bahwa ia adalah seorang etnis Jawa dan juga seorang Muslim, lebih tepat untuk memberikan protes langsung kepada gubernur. Sebab jika itu dilakukan oleh non-Muslim dapat saja memunculkan riak di luar ekspektasi.

Sementara dengan identitas keagamaannya yang sama dengan Anies, setidaknya cukup menunjukkan jika sesama Muslim punya prinsip saling mengingatkan agar tak melukai yang berbeda agama apa pun alasannya.

Ya, semoga saja, masing-masing pihak dapat menjadikan polemik ini sebagai bagian konflik kecil yang mampu memberikan inspirasi besar untuk lebih baik. Sudah begini demokrasi, asal tak ada lagi yang saling caci maki. Sebab terkadang, diam dan meninggalkan sesuatu yang tak disukai masih lebih baik daripada mengumbar caci maki.

Baca Juga:  Surat Penyidikan Bocor, Apakah Beringin Tua Itu Masih Bisa Bertahan?

Juga Anda sendiri yang membaca ini. Jika punya kenangan masa lalu yang ingin dikubur, kubur sajalah, dan tinggalkan saja tanpa perlu mengatakan apa-apa jika merasa kata-kata justru kehilangan kekuatannya. Soal ditinggalkan itu sebagai sesuatu yang menyakitkan, yakini saja semua luka ada obatnya, semua sakit ada saat untuk pulihnya.

Jadi, jangan pernah takut ditinggalkan, tapi jangan juga meninggalkan sesuatu hanya karena tak ingin diusik pemberitahuan, “Saya sudah telat datang bulan, Bang!” Sebab siapa tahu, nanti malam bulan datang lagi jika di langit sedang tak dikuasai hitamnya awan pembawa hujan. Itu mendung, Mas!

***