Gaya

Harian Kompas dan Makhluk Halus

Catatan Harian, Harian Kompas, Makhluk Halus
Sebagian orang tidak percaya akan keberadaan makhluk halus, tetapi saya percaya karena pernah mengalaminya

Ketika menghadiri perayaan hari ulang tahun ke-50 Harian Kompas di Bentara Budaya Jakarta, Minggu 28 Juni 2015 lalu, saya disindir oleh seorang rekan senior, “Saya nyari-nyari testimonimu di Twitter soal HUT Kompas kok nggak nemu, ya?”

Begitu katanya. Saya kemudian menjelaskan, sudah banyak sekali teman menyampaikan testimoni yang hebat-hebat tentang Harian Kompas, terlalu hiruk-pikuk jadinya. “Saya nanti saja membuat tulisan ringan di Kompasiana,” kata saya. Kompasiana adalah blog sosial yang saya rintis.

Dan, inilah tulisan ringan yang saya maksud itu…

Ada hal yang tidak mungkin saya lupakan jika bicara soal Harian Kompas, tempat di mana selama 25 tahun saya bekerja, yakni perjumpaan saya dengan sejumlah makhluk halus.

Ah becanda…!! Masak saya percaya kepada hal yang begituan? Serius. Ini serius!

Saya tidak bermaksud menulis catatan klenik berbau tahayul tentunya, sesuatu yang sangat diharamkan di Harian Kompas. Tetapi, baiklah, soal ini saya ceritakan sambil lalu saja, sebab nggak penting-penting amat, bukan?

Akhir tahun 1989 saya membaca iklan di Harian Kompas saat saya sedang berlibur di kampung halaman, di sebuah sudut desa di Tasikmalaya. Iklan lowongan kerja yang cukup mencolok. Harian Kompas melalui iklan itu hendak merekrut calon wartawan, pustakawan, dan peneliti.

Saya sedih membaca iklan itu. Sedih karena saya saat itu belum lulus kuliah S1 di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, tinggal menyusun skripsi. Sedih, karena saya memang bercita-cita menjadi wartawan Kompas dan kesempatan rekrutmen tidak mungkin ada setiap tahun, mungkin harus menunggu 3-4 tahun lagi. Kesempatan jadi wartawan Kompas pun melayang dan harus saya kubur dalam-dalam.

Yang lebih menyedihkan lainnya saat itu, saya tidak bisa ikut melamar tes sebagai calon wartawan Harian Kompas karena saya belum mendapat ijazah S1. Ah, pilunya hati ini. “Ada kesempatan, tetapi sayang saya nggak bisa ikut testing,” kata saya saat membaca iklan itu. Almarhum Ibu kemudian menanggapi, “Bukan waktunya barangkali, harus selesai dulu kuliahnya, nanti ada waktunya juga.”

Demikian Ibu yang menghendaki saya jadi dosen selepas lulus nanti. Bagi Ibu yang guru sekolah dasar, anaknya menjadi dosen adalah suatu kebanggaan. Sedangkan bagi saya, dosen kurang menarik minat dan perhatian, bukan saya tidak mau.

Meski demikian, hati sedikit terobati ketika melihat persayaratan untuk tenaga pustakawan di Pusat Informasi Kompas (PIK) pada iklan yang sama. Benar bahwa iklan itu menyebutkan syaratnya S1 Sarjana Perpustakaan, tetapi ‘kan saat itu S1 Sarjana Perpustakaan baru ada di Fikom Unpad dan belum menghasilkan lulusan.

Sayalah angkatan pertama untuk jurusan baru itu di Fikom Unpad dan baru ada satu teman yang menjadi sarjana 3,5 tahun, yaitu Musyarafah. Jadi dapat saya pastikan, selain dia belum ada lulusan S1 Sarjana Perpustakaan. Nah, di sini saya berpeluang melamar pekerjaan di Jakarta. Pokoknya asal masih bagian Harian Kompas nggak apa-apalah, pikir saya.

Tanpa sepengetahuan orangtua, sambil nyeruput kopi tubruk, saya mengeluarkan mesin tik “Brother” legendaris. Saya bikin surat lamaran untuk yang pertama kalinya!

Saya tidak tahu bagaimana format dan gaya bahasanya, pokoknya asal menulis surat lamaran saja. Esoknya saya berangkat ke Bandung meminta transkrip nilai selama semester satu sampai delapan ke Fakultas sebagai lampiran. Tidak lupa saya lampirkan pula fotokopi beberapa cerpen dan artikel yang dimuat di majalah “Hai”, “Bobo”, “Gadis”, “Suara Karya”, “Suara Pembaruan” dan lain-lain. Ya, sekedar mengecoh penyortir surat lamaran saja bahwa saya bukan orang sembarangan hahaha….

Alamat yang tercantum bukan alamat rumah orangtua di Tasikmalaya, tetapi alamat kos-kosan saya di Haur Mekar B5 Bandung. Itu adalah “kandang merpati” (karena kamar berada di loteng dan terbuat dari kayu) tempat saya ngekos selama kurang lebih empat setengah tahun. Maksudnya biar mudah berkomunikasi karena saya akan lebih sering berada di Bandung tinimbang di kampung untuk menyelesaikan tugas akhir. Telepon? Belum akrab saat itu, bahkan hanya beberapa rumah saja yang memiliki fix telepon.

Saya bayangkan, alangkah senangnya bisa bergabung di koran yang didirikan PK Ojong dan Jakob Oetama itu. Kelak saya bisa berkenalan dengan para wartawan ternama seperti Parakitri T. Simbolon, Rudy Badil, GM Sudarta, AF Dwiyanta, J Widodo, Irving Noor, Sindhunata, JB Kristanto dan lain-lain, yang tulisannya hebat-hebat dan selalu menginspirasi itu. Saya juga mengagumi foto-foto karya Kartono Riyadi dan alangkah hebatnya kalau saya bisa bersua dengannya kelak di Kompas.

Ajaib! Sebulan kemudian, saya mendapat panggilan testing di Jalan Palmerah Selatan, di Gedung Kompas-Gramedia. Sungguh saya tidak percaya dan kegembiraan ini saya sampaikan kepada orangtua. Bahkan almarhum ayah bersedia mengantarkan saya ke Jakarta pada testing pertama, secara saya tidak punya saudara dekat di ibukota.

Saat testing pertama berlangsung, ternyata banyak sekali orang-orang yang “mengadu nasib” dan mereka rata-rata sudah pegang ijazah, meski mungkin bukan S1. Di luar dugaan, teman sekelas saya, Ria Purwiati, juga melamar di posisi yang sama; pustakawan. Waduh, saingan sama teman sendiri deh.

Baca Juga:  Selfie, Groofie, Dronie dan Upaya Manusia Kekinian untuk Eksis

Jadi, yang namanya pertama, pasti mendebarkan, apapun itu. Demikian juga testing pertama ini. Sungguh sangat menyiksa, padahal sekadar tes kemampuan saja, toh saya belum menyelesaikan skripsi, apalagi diwisuda. Diterima syukur, nggak diterima… kebangetan!

Ajaib lagi, saya dinyatakan lolos tes pertama setelah dua minggu kemudian mendapat surat untuk testing berikutnya. Nah, di testing kedua inilah saya harus berangkat sendiri.

Pada testing sebelumnya saat diantar ayah, kami menginap di Wisma PGRI di Jalan Tanah Abang. Pada testing kedua ini saya harus ke tempat yang sama. Bedanya sendirian, berbekal surat dari Ketua PGRI Ranting Pagerageung. Ya ayah sendiri. Dari Terminal Cililitan (sebelum terminal ini pindah ke Kampung Rambutan), saya naik bus kota 46 ke arah Slipi, kemudian diteruskan ke Tanah Abang menggunakan Mikrolet 09 dan dari Tanah Abang naik Mikrolet 08 ke tempat tujuan akhir.

Tetapi celaka… seluruh kamar sudah terisi karena ada semacam pertemuan para guru se-Indonesia waktu itu. Penuh tak tersisa. Saya tiba jelang petang dan segera menyerahkan “surat sakti” yang dibuat ayah, petugas hanya melirik sejenak, “Tapi nggak bisa, Dik, kamarnya sudah penuh semua.”

Oalah… Saya bingung mendapat jawaban itu, tidak tahu harus tidur di mana, padahal besok pagi sudah harus testing kedua, mana sudah malam lagi. Terpikir untuk kembali ke Terminal Bus Cililitan saja, di sana saya akan tidur di mushola.

“Saya harus tidur di mana ya, Pak, saya nggak punya saudara di Jakarta,” kata saya pasang wajah memelas sambil meraih kembali surat itu dan saya siap balik badan. Tidak ada jawaban dari petugas jaga. Mungkin dia juga bingung. Tetapi, tangan Tuhan ada di mana-mana.

Saat bersiap-siap pulang dan tidak tahu harus pergi ke mana, petugas Wisma PGRI memanggil, “Dik, kemari.” Saya pun berbalik, mungkin dia akan memberi alternatif solusi. “Mau nggak tidur di aula di lantai atas? Nanti saya sediakan velbed.”

Alhamdulillah…. Saya pastikan bahwa saya akan bayar ongkos menginap, sebab saya tahu saat itu biaya menginap semalam bagi anggota PGRI sebesar Rp125.000 sebelum dipotong 50 persen dan saya dibekali orangtua uang sebesar itu untuk jaga-jaga. “Sudahlah, besok saja urusannya,” kata petugas tatkala saya akan bayar di muka saking senangnya.

Jadilah malam itu saya ditempatkan di sebuah aula yang luas dan gelap. Saya merasa menjadi noktah kecil saja di sudut aula besar itu. Saya heran, mengapa petugas tidak menyalakan lampu. Tetapi lumayanlah, purnama yang bercahaya menembus kaca aula sehingga saya terbebas dari gelap buta.

Kasur lipat sudah disediakan, petugas juga membawa segelas teh manis. Saat air hangat itu melalui kerongkongan, terasa nikmatnya. Saya mulai rebahan dan heran sendiri karena tidak bisa memejamkan mata barang sekejap pun, padahal badan penat luar biasa. Ah, mungkin pengaruh teh manis pekat barusan. Melalui kaca jendela, saya masih mendengar suara klakson dan mesin mobil di luar, pertanda jantung kehidupan kota masih berdenyut. Udara terasa panas dan pengap.

Dari jauh sayup-sayup terdengar kaset mengaji dari mesjid, menandakan tengah malam sudah berlalu dan akan menuju “malam kecil” atau dinihari. Baru saja kesadaran saya akan hilang karena kantuk sudah mulai menyerang, tiba-tiba saya merasa tubuh terangkat, terpisah dari velbed seakan-akan menuju atap aula.

Astagfirullah… Betul-betul badan saya terangkat dari kasur lipat dalam posisi tidur!

Ingin berteriak keras, tetapi saya tak mampu. Mulut seperti terkunci, mata melotot, tetapi tidak melihat apa-apa, kecuali melihat kasur lipat yang ada di tegel aula saat saya masih “mengangkasa”. Peristiwa itu berlangsung beberapa detik sebelum kemudian saya diturunkan kembali ke posisi tidur.

Barulah saya tersadar dan melihat sekeliling gelap gulita, hanya cahaya lampu di luar yang menyelinap masuk melalui kaca jendela tanpa gorden. Segera saya menuju pintu aula dan membukakan pintu itu agar cahaya dari luar masuk. Sepi. Saya kemudian menyeret velbed itu ke luar dan tak lama kemudian tertidur di luar aula!

“Kenapa tidurnya di luar, Dik?” kata penjaga yang dengan baik hati mengantarkan saya nasi goreng dan secangkir kopi keesokan paginya, sekalian membangunkan saya. “Di dalam panas, Pak,” saya beralasan. Tentu saja saya tidak bercerita tentang peristiwa tadi malam, khawatir menyinggung perasaannya.

Opini pertama dimuat

Singkat cerita, saya diterima sebagai pustakawan di Harian Kompas, tepatnya di PIK, setelah testing sebanyak enam kali, di mana kesehatan merupakan testing terakhir. Saya dinyatakan lolos dan tercatat sebagai karyawan honorer per 1 Mei 1990 selama enam bulan ke depan.

Baca Juga:  Barak dan Penjara Monumen Derita Masa Silam [Pulau Galang 5]

Saya kemudian ngekos di Jalan Kota Bumi Ujung di belakang Restoran Sizzler. Di sana ada rumah saudara jauh dan saya ditempatkan di gudang yang disulap jadi tempat tidur di lantai dua. Benar-benar gudang. Loteng papan itu demikian pengap karena antara lantai papan dan langit-langit sedemikian dekat. Di loteng berubin kayu yang panas dan pengap inilah perjuangan hidup di ibukota dimulai.

Ke Jakarta saya berbekal mesin tik “Brother”. Saya belum menguasai komputer dan belum terbiasa mengetik menggunakan WS4. Saya masih menulis cerpen untuk “Bobo” dan “Hai”, juga majalah remaja lainnya saat itu. Karena loteng berdempetan dengan tetangga, saya diingatkan si empunya rumah agar suara mesin tik saya tidak mengganggu mereka.

“Nggak enak kalau sampai tetangga protes akibat berisik,” katanya. Saya mulai tidak nyaman karena larangan itu sepertinya ditujukan kepada saya juga. Cician deh gue!

Menurut catatan harian saya, tanggal 15 Juni 1990 saya sedang menyelesaikan sebuah artikel untuk halaman opini Harian Kompas dengan memijit tuts ekstra hati-hati, sepelan mungkin. Rubrik Opini masih ada di halaman 4. Iseng-iseng saja. Waktu itu ada konferensi atau pertemuan para pustakawan se-Asean. Karena saya sedemikian akrab dengan informasi berlimpah di PIK, maka menulis artikel pertama untuk Rubrik Opini pun saya selesaikan dengan mudah dan cepat bertemankan lagu “Tonight” dari NKOTB dan “More Than Word” dari Extreme yang saat itu sedang hit-hitnya. Saya kemudian tertidur setelah selesai mengetik artikel.

Lagi-lagi, saat tertidur pulas saya mendadak bangun karena merasa ada benda berat yang mengimpit dada saya sedemikian keras sampai-sampai saya sulit bernafas. Saya membelalakkan mata, tetapi saya tidak melihat apa-apa. Anehnya, benda berat itu masih menduduki dada saya. Lagi-lagi saya tidak bisa berteriak. Keringat dingin keluar karena menahan beban. Setelah berjuang dengan membaca ayat Kursi, barulah saya terlepas dari impitan makhluk kasat mata itu. Haduh…

Besoknya saya masukkan artikel ke dalam amplop dan menyerahkannya ke sekretariat Redaksi di Lantai 3. Alhamdulillah, tidak sampai sepekan, tepatnya Rabu 20 Juni 1990, artikel saya dimuat di Halaman Opini!

Bukan main senangnya hati saya. Bagi saya, itu pencapaian tertinggi dalam dunia tulis-menulis sepanjang hidup saya sampai saat itu. Lebih seru lagi, itulah artikel pertama yang saya kirim ke Kompas dan langsung dimuat. Amazing!

Saya diberi honor Rp250.000 di saat gaji honorer saya Rp390.000 per bulan. Artinya honor itu sudah sangat besar. Terbesar dari semua honor menulis yang pernah saya terima. Setelah itu, tulisan lainnya tak terbendung muncul di Harian Kompas, meski tidak lagi di halaman 4.

Enam bulan kemudian, tepatnya 1 November 1990, saya diangkat pegawai tetap di PIK sebagai pustakawan setelah saya selesai wisuda. Tetapi, ijazah belum ada di tangan saya karena masih harus diperbaiki. Jadi, gaji saya masih berpatokan pada transkip nilai itu.

Saya menjalani hari-hari di PIK dengan sukacita sebagai “pelayan” wartawan yang membutuhkan informasi. Bahan bacaan sedemikian banyak dan berlimpah. Saya baca Majalah Time, Newsweek, FEER, The Economist dan Asiaweek. Juga majalah Tempo, Basis, dan Prisma, selain Harian Kompas tentunya. Saya buka-buka ensikopedia ternama. Kemudian saya menulis banyak artikel untuk Majalah Intisari karena diminta Mas Rudy Badil yang saat itu menjadi Pemred majalah itu. Saya juga menulis cerpen untuk “Nova” dan beberapa untuk “Femina”.

Dalam bertugas, saya paling senang jika mendapat giliran jaga malam, dari pukul 16.30 sampai pukul 24.00. Soalnya saya bisa mengakses buku-buku terbaru yang saat itu jarang dijamah wartawan karena kesibukannya yang padat. Sayalah yang “memerawani” alias membaca pertama kali buku-buku baru. Saya mulai menulis resensi dan beberapa dimuat juga di Harian Kompas.

Koleksi buku terlarang

Selain itu hal yang menarik perhatian saya adalah satu kotak lemari kecil bertuliskan “buku terlarang”. Namanya diberi tahu begitu, semakin penasaranlah saya.

Saya kemudian bertanya kepada boss saya waktu itu, Herman Meming, apa maksud dari lemari itu. Dia menjelaskan, itu berisi buku-buku yang dilarang edar karena dilarang kejaksaan. Mas Herman kemudian menunjukkan kuncinya kalau-kalau suatu waktu buku-buku itu diperlukan wartawan. Tidak boleh dibawa pulang, hanya dibaca di tempat.

Seingat saya, sepanjang saya bekerja di PIK sampai kemudian menjadi wartawan, tidak ada seorang pun yang menjamah alias memerlukan buku-buku berharga itu. Sebaliknya saya, setiap malam saat bertugas, saya baca habis buku-buku Pramudya Ananta Toer seperti tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Juga ada Gadis Pantai, Cerita dari Blora, Panggil Aku Kartini, Arok Dedes, buku Leo Tolstoy dan seterusnya. Semua saya gares sampai habis tak bersisa!

Baca Juga:  Gal Gadot Akan "Out" dari Wonder Women 2, Ada Apa Ini?

Belakangan di saat Presiden Soeharto akan jatuh, saya sudah memiliki lengkap buku-buku Pram berkat membeli secara gelap dari seseorang yang biasa mengantarkan buku terbitan Hasta Mitra itu. Saya bisa memiliki Arus Balik, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu dan buku-buku Pram lainnya yang tidak bisa saya sebutkan lagi.

Buku Pram demikian bertenaga, mengubah pola pikir saya dan bahkan prilaku saya yang semula pemalu menjadi percaya diri. Saya ambil hal positif dari buku-buku Pram yang selalu bersemangat saat melawan ketidakadilan dan pentingnya kebebasan berpikir setiap manusia sebagai harta tak ternilai.

Buku Pram mengajarkan, setiap orang sebenarnya punya kesempatan yang sama asalkan dia mau berusaha. Mantap. Membaca buku terlarang adalah tantangan, dan saya habiskan semua buku terlarang itu selagi saya bertugas malam, di sela-sela saya sedang tidak melayani wartawan. Buku yang lebih “ringan” saya baca sampai habis antara lain karya Ahmad Tohari, Sydney Sheldon dan Eddy Suhendro.

Makhluk halus

Kadang ada hal yang tak terduga juga di PIK di lantai 4 gedung baru KG itu. Suatu malam, misalnya, saya sedang asyik mengetik di depan komputer menggunakan floppy disk sebagai penyimpan data dengan mesin DOS dan masih belum mengenal Windows. Sekilas saya melihat di balik pintu kaca di deretan rak buku seorang perempuan sedang mencari buku. Dia berjalan ke arah ujung membelakangi saya. Baru kemudian saya tersadar kalau akses masuk ke pintu kaca itu ada pada saya. Wow… dari mana dia masuk!?

Saya pikir itu Mbak “R” yang punya sosok tinggi putih yang baru kembali dari dinas luar negeri. Sebagai wartawati dia bisa saja punya akses. Saya berpikir keras; bukankah akses masuk ke rak buku itu hanya ada pada saya? Ah, jangan-jangan saya kecapekan dan sudah mulai berhalusinasi. Hanya rasa penasaran sajalah yang membuat saya beranjak dari meja kerja.

Meski agak merinding, saya masuk ke ruang kaca yang hanya berakses satu pintu itu menggunakan kunci digital. Setidaknya saya bisa menolong mencarikan buku yang diminatinya di dalam. Tetapi saya keliling sampai ke ujung rak, orang yang mengenakan gaun hijau yang saya lihat tadi sudah tidak ada. Sama sekali tidak nampak, bahkan bayangannya sekalipun.

Saya segera ke luar kaca dan kembali bekerja di meja. Saya tidak akan pernah cerita tentang hal ini kepada siapapun karena bisa dianggap bualan. Tetapi bagi saya, it’s real!

Kejadian lainnya saya alami bersama OB yang menemani saya. Panut namanya. Kejadiannya sama jelang tengah malam. Kami berdua sedang menonton televisi yang menyiarkan berita. Tanpa kami sadari, saking asyiknya, “seseorang” lewat begitu saja di depan kami, di antara kami dan televisi, lalu menghilang beberapa langkah kemudian. Saya pikir itu orang IT yang sedang bertugas.

Saya baru terjaga saat Mas Panut nyeletuk, “Perasaan barusan ada orang lewat, ke mana ya?” Hahaha…. saya tidak banyak komentar, sebab saya juga melihat “orang” yang sama, tetapi karena seperti tersihir, saya baru sadar setelah “orang” itu berlalu dan menghilang!

Begitulah perjumpaan saya dengan sejumlah makhluk halus saat harus bercerita tentang Harian Kompas. Agak mistis mungkin. Tidak dapat dihindarkan sebab itulah peristiwa yang paling menancap di ingatan. Saya tidak punya cerita yang hebat-hebat mengenai pergulatan saya dengan Harian Kompas. Sebagai wartawan pun, prestasi saya biasa-biasa saja, jadi tidak ada yang perlu dibanggakan.

Memang tidak ada yang bisa saya banggakan kecuali saya berhasil mendirikan blog sosial bernama Kompasiana.

Tentang karier saya di PIK, pada akhirnya saya harus menjadi seorang “murtad” di Harian Kompas karena saya tidak bisa mempertahankan keajegan profesi saya sebagai pustakawan. Pun ketika saya ditarik ke Litbang yang berarti naik pangkat, itu hanya ada di atas kertas pengangkatan saja. Selebihnya saya tidak bertahan lama karena diberi kesempatan tes untuk menjadi wartawan Harian Kompas di tahun 1995 atau lima tahun setelah saya menjadi pustakawan dan hanya sebentar saja di Litbang.

Menjadi wartawan Harian Kompas adalah cita-cita saya sejak SMA, berpuncak pada iklan lowongan kerja di akhir 1989 yang mengecewakan itu.

Kesempatan emas itu akhirnya datang juga. Pak Polycarpus Swantoro dan Joseph Widodo, seingat saya, keduanya termasuk “boss besar” di Kompas, memberi saya kesempatan testing mengikuti pendidikan wartawan. “Kamu belum tentu lulus loh,” kata Widyarto Adi PS dari HRD yang menghubungi saya agar bersiap-siap mengikuti tes bersama peserta tes lainnya.

Gusti Allah rupanya menghendaki saya lulus tes, kendati ujiannya berat luar biasa. Saya pun berhak menempuh pendidikan in house training selama setahun sebelum benar-benar diterjunkan ke lapangan sebagai wartasan Harian Kompas.

Rupanya saya menemui takdir sebagai wartawan, bahkan hingga sekarang.

***

Catatan: ditayangkan ulang dari Kompasiana