Leang-leang

Taman Prasejarah Leang-Leang adalah situs purbakala yang sangat layak Anda kunjungi. Penting, murah, dekat, dan menebalkan rasa cinta pada tanah air sendiri.

Jumat, 6 Mei 2022 | 06:34 WIB
0
38
Leang-leang
Gua Leang-leang (Foto: dok. Pribadi)

Puluhan ribu tahun silam, entah berapa milenium, kawasan sekitar Bantimurung di Maros konon adalah laut. Lalu dasar samudera bergeser dan lautan melandai. Yang tersisa adalah daratan dengan batu-batuan gamping tak beraturan yang teronggok berserakan di tanah yang rendah, juga perbukitan karst yang memanjang dari Maros hingga Pangkep. Bentuk bukit-bukit karst itu terlihat khas dan unik, sekilas mirip bukit-bukit yang menyembul di perairan Raja Ampat di Papua, atau Halong Bay yang terkenal di Vietnam.

Akan tetapi, bukan batu-batu gamping itu yang istimewa sesungguhnya. Yang membuat perbukitan karst ini jadi perhatian dunia adalah: gua-gua di tebing-tebingnya meninggalkan jejak kehidupan manusia purba dari zaman pleistosen -- sekitar 45.000 tahun silam -- berupa lukisan-lukisan tangan di dinding batu, juga aneka artefak kuno. Ada lukisan serupa babi rusa, cetakan telapak tangan, dan lain-lain. 

Inilah kawasan taman purbakala, Anda tentu pernah mendengarnya: Leang-Leang di Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ke sanalah kami, datang berwisata siang tadi. 

Lokasinya tak jauh dari Makassar sebenarnya, tak sampai sejam perjalanan. Bahkan saya kerap melewati jalan ke arah Leang-Leang itu setiap kali datang ke permandian umum Air Terjun Bantimurung dulu. Dekat sekali.

Jalan menuju Taman Prasejarah Leang-Leang adalah suguhan keindahan alam tersendiri. Jalan beraspal mulus membelah persawahan, ditengahi rumah-rumah penduduk yang renggang, berpagar pebukitan karst yang sepertinya tak terjamah manusia. Indah dan misterius. Di beberapa kelokan jalan terlihat penanda bertuliskan arah ke berbagai Leang (gua, bhs Bugis) di sekitar kawasan itu. Dalam catatan pengelola kawasan, di area seluas 43.750 hektare, wilayah ini memiliki 286 gua dengan lebih dari 30 gua prasejarah.

Salah satunya adalah Leang Pettakere, gua yang hendak kami datangi ini. Dan ternyata, yang kami temukan bukan sekadar gua. Kawasan Leang Pettakere sendiri adalah bentang alam nan indah dan sungguh terawat. Memasuki gerbang berpenjaga, kami membayar tiket pengunjung domestik yang hanya 15.000 per orang, lalu diantar oleh Pak Haris, menuju gua. Dari gerbang, lokasi gua sekitar 300 meter. 

Jalan menuju gua berupa setapak beton, kiri kanannya berupa hamparan rumput yang terawat rapi, dan di sela-selanya teronggok batu-batu karst warna gelap membentuk bayangan hitam yang magis. Berjalan menyusuri setapak di sela-sela bebatuan itu, saya teringat barisan batu Stonehenge dengan daya magis yang lain di Bath, Inggris yang saya kunjungi sekian tahun lampau.

Kami menyeberangi jembatan di atas sungai kecil berair jernih sebelum tiba di dasar tebing, dan langsung berhadapan dengan dinding batu yang menjulang dan hening. Hanya terdengar gemercik air. Tak ada suara burung sama sekali. Leang Pettakere terletak di atas, di tengah-tengah tebing batu itu. Pemerintah telah membangun undakan tangga beton lalu tangga besi di area curam menuju gua. 

Tak sampai setengah jam, kami telah sampai tepat di dasar gua. Begitu mendongak, di dinding atas karst yang tersembunyi, lukisan itu terlihat kasat mata. Mata saya langsung memicing oleh sinar yang menyelusup dari sela pepohonan. Ada dua lukisan serupa babi rusa besar berwarna gelap dan merah marun, di sekitarnya bertebaran aneka cetakan telapak tangan. 

Berbagai penelitian arkelogi yang dilakukan sejak tahun 1902 menyimpulkan, gua ini telah dihuni manusia 50.000 tahun sebelum Masehi hingga 6000 tahun yang lalu. 

Dalam rentang waktu itulah, lukisan-lukisan itu dibuat dan terhampar di dinding gua sampai hari ini. Lukisan-lukisan itu terlihat cukup terlindungi, meski tergerus di sana-sini oleh lumut, hawa, kelelawar, dan sarang-sarang tawon.

Selain lukisan, para peneliti juga menemukan artefak-artefak batu dan sisa makanan manusia purba di dalam gua itu.

Begitulah. Saya menghabiskan waktu hampir sejam lamanya memandang, merenung-renung, mencoba membayangkan suasana dalam gua di masa pleistosen ketika areal di kaki tebing karst ini masih berupa laut. Ombaknya datang menggulung, menggempur, dan menampar-nampar tebing membentuk rongga-rongga batu gamping yang kini seperti biennale seni rupa abstrak di kaki pebukitan. 

Saya meninggalkan gua Pettakere menjelang sore dengan rasa puas yang tulus. Di kaki tebing, saya bertemu banyak pengunjung lain, ada sekelompok turis dari Latvia, dari Taiwan, dan puluhan wisatawan nusantara. 

Taman Prasejarah ini sungguh terawat, dikelola dengan profesional. Tak ada pungutan lain di luar tarif resmi di sini. Taman Prasejarah Leang-Leang adalah situs purbakala yang sangat layak Anda kunjungi. Penting, murah, dekat, dan menebalkan rasa cinta pada tanah air sendiri.

***