Aku Pernah ke Banyuwangi, Kamu Kapan!?

nas meyakinkan masyarakat, wisatawan akan datang ke Banyuwangi kalau alamnya terjaga. Partisipasi publik pun meningkat sebab mereka merasakan langsung efek hadirnya wisatawan.

Rabu, 8 Januari 2020 | 07:20 WIB
0
143
Aku Pernah ke Banyuwangi, Kamu Kapan!?
Saya di Banyuwangi bersama Bupati Anas (Foto: Dok. pribadi)

Kuno, kalau kepala daerah masih mengeksploitasi lingkungan dan sumber daya alam untuk sumber pendapatan. Sepintas, strategi itu memang cepat meningkatkan hasil, tapi kalau dibandingkan dampak kerusakan, kerugiannya lebih banyak. Bahkan tak mungkin dikoreksi.

Mari kita belajar pada Abdullah Azwar Anas. Ia sering berkonsultasi dengan Megawati Soekarnoputri dalam hal pelestarian lingkungan, budaya, pengembangan pasar tradisional, dan promosi produk lokal.

Di periode pertama kepemimpinannya sebagai bupati, ia menetapkan strategi eco tourism untuk memajukan Banyuwangi. Pemikirannya itu tak hanya sesuai dengan kondisi alam Banyuwangi tetapi juga sejalan dengan pesan Megawati.

Meskipun tak memberi arahan secara langsung, pesan pelestarian lingkungan ala Megawati sering disampaikan dengan meminta tanaman langka yang ada di kabupaten itu. Kalau Mega saja memperhatikan, ia yang lebih muda juga harus peduli.

Melestarikan lingkungan tak hanya dilakukan Bupati dan jajarannya tetapi merasuk ke masyarakat dalam bentuk program sedekah oksigen. Menanam pohon menjadi syarat mencairkan bantuan pemerintah. Maka mereka berlomba-lomba menghijaukan kawasannya.

Alhasil berbagai program pelestarian lingkungan untuk mendukung eco tourism mendapat pengakuan. Unesco menetapkan Banyuwangi sebagai cagar biosfer dunia karena diapit tiga taman nasional yaitu Alas Purwo, Ijen, dan Pulau Merah.

Kenapa bisa? Karena Anas meyakinkan masyarakat, wisatawan akan datang ke Banyuwangi kalau alamnya terjaga. Partisipasi publik pun meningkat sebab mereka merasakan langsung efek hadirnya wisatawan. Bisnis kuliner lokal tumbuh pesat, penginapan kelas guest house pun mendapat porsi. Pemerintah tinggal memfasilitasi dan memberi pelatihan agar servis tidak mengecewakan.

Pertumbuhan ekonomi tidak terpusat di kota karena desa dan kota sama saja. Dan inilah strategi mengembangkan pasar tradisional seperti dipesankan Megawati. Ia tak membuka kran izin toko retail berjaringan. Bahkan izin mendirikan mall pun ditolak.

Dampaknya, warung-warung kecil tumbuh. Pasar tradisional menjadi pusat transaksi ekonomi rakyat. Pertumbuhan ekonomi dinikmati orang Banyuwangi, bukan orang-orang yang NPWP-nya entah ada di mana.

Sekarang, Banyuwangi bukan hanya menjadi tujuan wisata alam tetapi juga tujuan studi banding. Wah... peluang baru, pengembangan baru, potensi penghasilan baru. Masih banyak yang bisa dilihat dan dipelajari di Banyuwangi.

Aku sudah pernah ke Banyuwangi! Kamu kapan?

Kristin Samah

***