Komunisme di Laos dan Vietnam

Sikap peduli pada keyakinan beragama orang lain yang ditunjukkan oleh penjual snack ketan bakar ini sungguh membuat saya salut dan kagum.

Jumat, 8 Juli 2022 | 13:10 WIB
0
70
Komunisme di Laos dan Vietnam
Patung tokoh komunis Vietnam (,Foto: dok. Pribadi)

Apa yang ada di benak Anda jika mendengar kata 'komunis' atau 'komunisme'? Apakah yang muncul di kepala Anda adalah hal-hal negatif dan menyeramkan? 

Laos dan Vietnam merupakan dua dari hanya lima negara komunis yang ada di dunia. Negara komunis tampaknya berguguran dan komunisme menjadi tidak laku.

Tapi gambaran tentang komunisme yang negatif, miskin, dan anti agama sama sekali tidak tampak di Laos dan begitu juga di Vietnam. Bahkan sebenarnya 66% penduduk Laos itu beragama Buddha, 30% lebih beragama lokal Laos, sekitar 2% Kristen, dll.

Jadi kalau menganggap bahwa komunisme itu memusuhi agama atau umat beragama sungguh tidak tepat.

Saya dan istri telah mengunjungi Vietnam dan Laos, dua negara komunis yang bersahabat dan sama sekali tidak ada pandangan dan sikap bermusuhan dari penduduknya pada kami. Bahkan di Vientiane ada sebuah masjid dekat Istana Presiden yang saya lihat dari papan petunjuknya. Sayang saya tidak sempat mampir di masjid tersebut. 

Pemahaman kita tentang 'komunis' dan 'komunisme' sungguh akan diuji jika kita berkunjung ke dua negara tersebut. Tapi mari saya tunjukkan apa yang saya lihat baru-baru ini di Laos.

- Meski jauh kalah makmur ketimbang Indonesia tapi tidak ada orang miskin atau pengemis yang kami lihat sepanjang perjalanan kami di tiga kota di Laos. Tidak ada pengamen, apalagi pengemis yang harus berpura-pura berkaki buntung seperti di Indonesia. Tidak ada gembel dan juga tidak ada orang gila berkeliaran.

- ‎Tidak ada anak-anak muda pengangguran yang cangkruk atau nongkrong di pinggir jalan. Luas wilayah Laos sekitar 236.800 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 6,6 juta jiwa. Jadi penduduknya memang sedikit. Tidak ada warung-warung kopi pinggir jalan tempat anak-anak muda ngobrol menghabiskan waktu seperti di negara kita

- ‎Tidak ada corat-coret di tembok. Tidak ada sampah bertebaran. Tidak ada anak muda yang tampak urakan, jelalatan, bersikap sok jagoan, kebut-kebutan, nyetir dengan ugal-ugalan, pakai knalpot brong atau semacamnya. Mereka nampak ndeso dan lugu. Mereka semua ramah, sopan dalam berkata dan bersikap, dan jujur. Ini jelas berbeda jika Anda bandingkan dengan di India. Mayoritas teman yang pernah ke India akan mendapatkan kesan bahwa orang India itu kurang jujur.

- ‎Perempuan Laos berpakaian sopan dan tertutup. Meski pun banyak turis wanita yang rata-rata memakai celana pendek atau hotpants tapi perempuan Laos tidak ikut-ikutan para turis tersebut. Mereka kebanyakan memakai rok di bawah lutut.

- ‎Tingkat kriminalitas rendah. Belum pernah ada laporan turis yang ditipu, dibohongi, atau mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan. Bahkan dibandingkan dengan orang Thailand penduduk Laos lebih jujur, sopan, dan rendah hati. Kesannya memang lebih ndeso dan lugu ketimbang orang Thailand.

- ‎Harga bahan bakar di Vientiane adalah 9.140 Kip atau Rp14.625,-/liter. Ini artinya bahan bakar di Indonesia jauh lebih murah ketimbang di Laos.

- ‎Semua siswa berpakaian seragam yang sama. Baju putih dan celana hitam bagi siswa dan baju putih rok hitam panjang bagi siswi, baik itu SD, SMP, atau SMA.

Satu hal yang membuat saya terkesan adalah ketika beli makanan di sebuah warung di tengah perjalanan dari Vientiane ke Vang Vieng. Waktu itu semua penumpang diturunkan untuk istirahat selama 20 menit untuk buang air kecil atau beli mamin. Dari belasan penumpang yang semuanya turis hanya kami berdua yang muslim. Sisanya adalah bule-bule yang mayoritas perempuan muda. Warung itu jual kue ketan panggang dan juga daging babi panggang.

Ketika kami minta kue ketan panggang penjualnya tidak mengambilkan dari panggangan di mana daging babi juga dipanggang. Sebaliknya dia mengambilkan dari panggangan terpisah di mana tidak ada daging babinya.

Ini menunjukkan bahwa ia peduli pada kepentingan keyakinan beragama pelanggannya yang muslim. Padahal kami jelas adalah minoritas dan juga tidak menuntut perlakuan yang berbeda. Tapi penjualnya rupanya tahu bahwa bagi muslim daging babi itu haram dan sangat sensitif dengannya. 

Sikap peduli pada keyakinan beragama orang lain yang ditunjukkan oleh penjual snack ketan bakar ini sungguh membuat saya salut dan kagum. Seandainya saja kita bisa melakukan hal yang sama kepada sesama umat beragama lain... 

AirAsia XT 327, KL - SUB, 14 April 2018

Satria Dharma