Memoles Kabupaten Pesawaran Agar Didatangi Turis Bule

Ketika potensi alam, birokrasi, kepala daerah, dan masyarakat tadi sudah terbangun secara baik, pengusaha selaku pemilik modal dipastikan akan berbondong-bondong datang menanamkan kapital mereka.

Minggu, 14 Juli 2019 | 22:08 WIB
0
231
Memoles Kabupaten Pesawaran Agar Didatangi Turis Bule
Pantai Mandapa di Pesawaran (Foto: Travelingyuk.com)

Namanya memang belum setenar Banyuwangi, Lombok, Tana Toraja, Labuhan Bajo, dan kabupaten lain yang memiliki destinasi wisata kelas dunia, namun Kabupaten Pesawaran di Provinsi Lampung, adalah salah satu kabupaten yang menyimpan potensi wisata yang tak kalah menariknya.

Kabupaten yang beribukota di Gedon Tataan, sekitar 30-an kilometer arah barat Kota Bandar Lampung, atau sekitar 50 menit perjalanan darat ini, punya destinasi wisata alam, baik di darat maupun laut yang menarik.

Untuk destinasi wisata laut, Pesawaran memiliki pantai dan pulau yang eksotik di Teluk Lampung. Sebut saja misalnya Pulau Pahawang, Pulau Tanjung Putus, Pulau Tegal Mas, Pantai Mutun, dan Pantai Klara.

Untuk darat pegunungan, destinasi wisatanya ada Gunung Pesawaran dan Gunung Betung. Ada juga air terjun seperti air terjun Sinar Tiga, Tanah Longsor, dan Talang Rabun.

Potensi ini menyimpan kekuatan ekonomi besar jika diolah dan dikembangkan secara benar oleh masyarakat dan pemerintah setempat.

Dengan pengolahan dan pengembangan yang benar, potensi wisata tadi bisa digunakan untuk mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat setempat.

Sudah banyak contohnya bahwa suatu daerah berkembang pesat hanya dengan mengandalkan industri wisatanya. Sebut saja yang terkini adalah Banyuwangi.

Dalam sepuluh tahun terakhir, Banyuwangi langsung dikenal luas di luar negeri, karena destinasi wisatanya. Industri wisata di Banyuwangi berkembang pesat. Mulai dari pantai, pegunungan, pertanian, penginapan, pegunungan, makanan, sampai olahraga, telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang mampu memberi kesejahteraan bagi masyarakat setempat.

Pesawaran juga bisa berkembang seperti Banyuwangi!

Lokasinya yang dekat dengan Jakarta. Hanya 30 menit perjalanan udara ditambah 90 menit perjalanan darat dari Bandar Udara di Branti, turis dari Jakarta sudah bisa sampai di jantung kota Pesawaran, Gedong Tataan.

Tetapi, Pesawaran sekarang masih butuh penanganan secara terencana agar bisa menjadi daerah tujuan wisata berkelas dalam tempo yang tidak terlalu lama.

Penanganan secara terencana itu mesti didukung secara sungguh-sungguh oleh kehendak politik dari bupati, birokrasi, masyarakat, infrastruktur, serta pengusaha.

Variabel tadi mesti berjalan simultan dan saling menunjang. Jika salah satu variabelnya tidak berjalan simultan maka potensi wisatanya sulit dikembangkan sesuai harapan.

Dari variabal kepala dearah misalnya, Pesawaran sudah memiliki Bupati yang potensial, Dendi Ramadhona (36 tahun). Dia adalah Bupati yang masih muda, energik, dan bervisi maju.

Dia juga punya hasrat besar untuk menjadikan daerahnya berkembang dengan kebijakan yang menitikberatkan pada industri wisatanya.

Dia cerdik dalam melihat kemolekan daerahnya untuk dikembangkan agar mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat setempat.

Lihatlah upayanya dalam menjaring investor di Jakarta agar mau datang dan menanamkan modalnya di Pesawaran. Salah satu terobosannya adalah membuat event Pesawaran Investment Promotion 2018 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta pada 14 November 2018.

Selain membuat event bisnis tadi, Dendi juga gemar membuat diskusi-diskusi tentang pengembangan wisata di daerahnya.

Langkah Dendi tadi menunjukkan bahwa dia adalah bupati yang punya visi, kehendak, serta terobosan maju yang jarang dimiliki oleh kepala daerah lainnya.

“Pak Dendi punya visi bagus dalam membangun industri wisata di kampung saya,” ujar salah seorang warga Pesawaran yang merantau di Jakarta.

Tinggal bagaimana visi dan hasrat Dendi ini disambut oleh birokrasinya. Dendi mesti lebih banyak memacu birokrasinya agar berkonsentrasi menggerakan budaya dan seni lokal agar bisa memberi efek kepada turis untuk datang ke Pesawaran.

Teknisnya misalnya, pemerintah mesti rutin menggelar festival seni dan budaya lokal berunsur aneka etnis seperti tari-tarian, pertunjukan seni busana, maupun festival makanan, yang bisa menyedot aktivitas manusia.

Pemerintah lokal juga dituntut untuk berani menggelontorkan anggaran guna membangun infrastruktur sebagai penunjang kenyamanan para turis. Jalan, jembatan, kebersihan, dan keindahan, mesti mendapat anggaran besar agar daerah itu memiliki fasilitas memadai bagi turis.

Selain itu, variabel masyarakat juga tak kalah pentingnya untuk menjadikan Pesawaran sebagai destinasi wisata masa depan. Masyarakat setempat mesti diedukasi agar memiliki keterbukaan dan toleransi tinggi dalam menerima kehadiran hal-hal baru, karena sedikit banyak akan menimbulkan perbedaan dengan kearifan lokal.

Sikap terbuka dan toleransi amat penting mengingat industri wisata hanya bisa berkembang bila di situ muncul suasana hangat, bersahabat, nyaman, dan jauh dari konflik fisik maupun psikis.

Turis, terutama dari luar negeri amat sensitif manakala masyarakatnya tidak terbuka, apalagi sampai menganggap turis sebagai obyek penderita.

Ketika potensi alam, birokrasi, kepala daerah, dan masyarakat tadi sudah terbangun secara baik, pengusaha selaku pemilik modal dipastikan akan berbondong-bondong datang menanamkan kapital mereka.

Setelah variabel tadi sudah berjalan simultan, Dendi Ramadhona tinggal merawatnya melalui branding di media. Komunikasi menggunakan media nasional dan internasional, akan mempercepat pematangannya.

Ketika para turis dari luar negeri, khususnya yang berwajah bule telah mengalir datang ke Pesawaran maka saat itulah pekerjaan Sang Bupati dalam memoles daerahnya sebagai tujuan wisata sudah bisa disebut paripurna. (*)

Krista Riyanto, penulis dan mantan jurnalis.

***