Mobil Listrik, Infrastruktur Bukan Soal Utama

Yang paling utama adalah mengubah kerangka atau pola berpikir. Yakni seseorang harus merencanakan perjalanannya sebelum ia meninggalkan rumah.

Senin, 10 Oktober 2022 | 06:01 WIB
0
86
Mobil Listrik, Infrastruktur Bukan Soal Utama
Mobil (Foto: Facebook.com)

Banyak yang mengaitkan kecepatan perkembangan penggunaan mobil listrik dengan kecepatan ketersediaan infrastruktur, atau ketersediaan stasiun pengisian listrik. Namun, pendapat itu tidak benar. Infrastruktur bukanlah masalah yang utama.

Menurut Chief Executive Officer Citroën Vincent Cobee, yang paling utama adalah mengubah kerangka atau pola berpikir.

Oleh karena berbeda dengan mobil konvensial, di mana penggunanya tidak pernah berpikir, atau merencanakan perjalanannya, sebelum berangkat. Mereka menghidupkan mobil dan berangkat, kalau persediaan bensin di tangki tinggal sedikit mereka memasuki Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU), mengisi bensin, lalu melanjutkan perjalanan.

Dengan mobil listrik semuanya berbeda. Setiap orang merancang perjalanannya sebelum berangkat. Misalnya, saat akan melakukan perjalanan, penggunanya harus mengecek berapa persediaan listrik di dalam baterai, dan berapa jauh perjalanan dapat dilakukan.

Dalam hasil studi diketahui bahwa di kota besar (seperti Jakarta) umumnya orang melakukan perjalanan sekitar 25-30 kilometer (km) per hari. Jika persediaan listrik di dalam baterai memungkinkan seseorang untuk menempuh perjalanan sejauh 50 km, maka ia dapat melakukan perjalanan dengan tenang, dan kembali mengisi baterai saat ia tiba kembali di rumah. 

Sekarang ini, dalam keadaan baterai terisi penuh, daya jelajah mobil itu hingga 219 mil (kurang lebih 350 km).

Oleh karena itu, seseorang dapat menggunakan mobil listriknya selama beberapa hari sebelum ia mengisi kembali baterai di rumahnya. Dengan demikian, infrastruktur bukanlah hal yang paling utama.

Yang paling utama adalah mengubah kerangka atau pola berpikir. Yakni seseorang harus merencanakan perjalanannya sebelum ia meninggalkan rumah. ”Orang harus menyakinkan dirinya sendiri untuk bepergian tanpa mampir ke SPBU,” ujar Cobee.

Di masa lalu, ketika daya jelajah mobil listrik 100 km, atau kurang dari itu, maka infrastruktur menjadi penting. Namun, ketika kemajuan teknologi memungkinkan mobil listrik melakukan perjalanan sejauh 350-500 km, sebelum perlu mengisi baterai kembali, maka infrastruktur kekurangan nilai pentingnya. 

Yang diperlukan hanyalah mengubah kerangka atau pola berpikir, atau mengubah mental (mental transition). Yakni merencanakan perjalanan secara saksama sebelum meninggalkan rumah.

Rasanya merencanakan perjalanan sebelum meninggalkan rumah, bukanlah hal yang besar. Mengingat saat ini orang sudah terbiasa memperhitungkan kapan ia harus mengisi kembali baterai telepon genggam sebelum meninggalkan rumah.

Berbeda dengan mobil konvensional, di mana pembeli terus berhubungan dengan toko di mana ia membeli mobil itu untuk pemeliharaan rutin dan perbaikan, saat membeli mobil listrik secara teoretis ia tidak akan berhubungan lagi dengan toko di mana ia membeli mobil listrik itu kecuali mobil mengalami kerusakan.

Mobil listrik tidak perlu mengganti oli setiap periode tertentu, dan juga tidak perlu mengisi bensin.

Dengan kata lain, membeli mobil listrik pun hampir sama seperti membeli telepon genggam, kalau seseorang tidak menemui masalah dengan telepon genggamnya, maka ia tidak akan berhubungan dengan toko di mana ia membeli telepon genggam itu.

Secara teoretis, orang hanya kembali ke toko kalau mengalami kerusakan, atau masa garansi motor listrik dan baterai habis. Minimal setelah penggunaan tiga tahun, atau lebih, tergantung dari jaminan yang diberikan pabrikan.

Namun, karena kehadiran mobil listrik Indonesia masih baru, maka disarankan melakukan cek setiap enam bulan.

***