Hasil Mesin Pencarian Google: Banjir sebagai Panggung (Pamer) Kebodohan

Itulah sesungguhnya tragedi yang terjadi di atas panggung episode banjir di ibukota pada awal tahun baru ini yang terekam oleh Google.

Sabtu, 11 Januari 2020 | 08:21 WIB
0
98
Hasil Mesin Pencarian Google: Banjir sebagai Panggung (Pamer) Kebodohan
Google dan Gubernur (Foto: Mediasulsel.com)

Google, mesin pencarian canggih dengan kata kunci di jaringan internet, mencatat nama “Gubernur Terbodoh”. Coba saja ketik kata kunci itu. Dan lihat hasilnya: sebuah nama muncul. Sudah tahu, ya, siapa dia gubernur terbodoh.

Google itu memang mesin pencari yang super pintar. Bekerja dengan sistem algoritma komputer sangat canggih. Semua jejak digital akan terekam di “otak” Google. Saat ada permintaan dengan kata kunci pasti bisa dijawab dengan tepat oleh Google.

Google merekam semua ucapan dan tindakan kita dalam jejak digital. Sepertinya ada gubernur yang bangga pamer kebodohan selama ini yang jejak digitalnya terdeteksi dan lalu tersimpan di “otak” Google.

Apa yang disebut Google terbukti.

Nama yang dimaksud Google tampak memperlihatkan kebodohannya saat banjir seperti tsunami yang meluluh-lantakkan banyak wilayah Ibukota Jakarta akibat hujan yang sangat deras menyambut Tahun Baru 2020. Bahkan banjir di hari pertama tahun baru ini seperti sengaja ia jadikan panggung untuk mempertontonkan kebodohannya. Dan ia sungguh begitu menikmatinya.

Banyak orang yang sudah memperingatkan dirinya soal kesiapan menghadiri banjir. Peringatan ini berkali-kali dilayangkan. Tapi apa yang terjadi? Peringatan-peringatan itu seperti masuk dari kuping kiri lalu langsung keluar kuping kanan. Peringatan-peringatan itu tidak ada yang pernah benar-benar mampir di otaknya sedetik pun.

Ketika banjir benar-benar terjadi dan sebagian warga kota yang mengalaminya menjadi susah ia justru tak melakukan apa-apa untuk bekerja secepat mungkin mengatasinya. Ia justru sibuk membantah dengan mengeluarkan jurus-jurus mengeles lewat kata-kata panjang yang tak ada artinya sama sekali yang membuat warga semakin bingung dan ia terlihat seperti orang bodoh.

Kebodohan itu ia pamerkan di atas penderitaan korban banjir. Saat ada yang mengajak untuk segera bekerja ia justru menantang berdebat. Saat ditemukan banyak bukti bahwa pompa air banyak yang tak berfungsi -antara lain karena bahan bakar solarnya dijual- ia mencari alasan mengapa pompa-pompa air itu tidak difungsikan.

Ia pun berbohong dengan menyebut tak ada banjir di kawasan pemukiman elite padahal ketinggian banjir di situ sampai dua meter. Ketika ditugaskan untuk segera membereskan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya malah ia lempar ke orang lain yang harus menyelesaikannya.

Bukan itu saja. Kelalaian mengatasi banjir ini ia jadikan ajang main sinetron dengan judul “Gubernur Rasa Presiden” - dengan pemeran pembantu salah satu anak buahnya sendiri yang menyamar jadi warga gadungan - disaksikan beberapa media online yang sudah di-booking sebagai humas yang menyiarkan sinopsis copy paste.

Ia memilih mengambil alih pekerjaan pasukan oranye daripada memberdayakan pasukan oranye untuk bersiap-siap menghadapi banjir jauh-jauh hari sebelum banjir itu datang. Ia tega menyunat anggaran untuk mencegah banjir - termasuk anggaran untuk kerja pasukan oranye - yang dipotong sampai setengah triliun rupiah.

Ada yang bilang jangan kasih panggung orang bodoh buat dia terkenal. Tapi yang terjadi ada orang yang berdiri di atas panggung warga yang kelelep banjir untuk mempertontonkan kebodohannya. Dan dari atas panggung itu pun dia berteriak-teriak pakai TOA untuk membodoh-bodohi warga yang dianggap semuanya bodoh seperti dirinya.

Itulah sesungguhnya tragedi yang terjadi di atas panggung episode banjir di ibukota pada awal tahun baru ini yang terekam oleh Google: ada orang yang sengaja membodohi diri sendiri mengajak orang lain berbuat kebodohan yang sama dengannya dan terus berulang-ulang sampai tahun 2024 mendatang.

***