Media Sosial sebagai Pengeras Suara dan Datanya di Indonesia

Ini era individu perlu lebih aktif menyatakan dirinya, gagasannya, rasa keadilannya. Teknologi sudah sampai di tahap ini.

Senin, 11 September 2023 | 08:24 WIB
0
84
Media Sosial sebagai Pengeras Suara dan Datanya di Indonesia

Kita sudah sampai di era teknologi yang memperkuat individu. Walau kita tak punya stasiun TV, walau tak punya penerbitan koran, tapi jika kita memiliki akun media sosial: Facebook, atau Instagram, Tik Tok, Twitter hingga YouTube, maka suara kita, gagasan kita, bisa menyebar melampaui batas-batas provinsi, bahkan melampaui batas-batas negara.

Ini yang dialami oleh seorang wanita bernama Nadia Murad di tahun 2016. Ia berasal dari etnik Yazidi, yang tinggal di seputar negara Syria, Irak, Iran Turki. Nadia ujungnya mendapatkan nobel perdamaian (Nobel Peace Prize) di tahun 2018.

Nadia diculik dan dijadikan budak seksual oleh ISIS. Ia ceritakan pengalamannya lewat buku, dan dilanjutkan banyak pihak melalui media sosial.

Akhirnya pengalamannya didengar oleh PBB. Kita pun terbelalak mata, mengetahui ternyata telah terjadi di sana peristiwa Genocide. Bahkan terjadi Ethnic Cleansing atas etnik (Etnoreligius) Yazidi oleh ISIS. Sebuah etnis dibasmi dan ditindas atas nama ideologi, agama, perang.

Kita melihat hebatnya buku dan media sosial di sini. Tapi bagaimana dengan Indonesia? Seberapa banyak di Indonesia yang memiliki akun media sosial?

Kita mulai dengan data. Ini survei LSI Denny JA, bulan Agustus 2023.

Di Indonesia, ternyata yang sudah memiliki akun Facebook itu sebanyak 49,3%, hampir separuh populasi Indonesia. 

Yang menonton YouTube sudah di atas majoritas, di 57.3 %.

Yang memiliki akun Tik Tok 29,3%. Sebernarnya, angka pemain TikTok lebih banyak lagi. Data LSI hanya dari warga yang sudah memiliki hak pilih, di atas 17 tahun. Tapi penggemar tiktok juga banyak sekali menjangkau mereka yang dibawah 17 tahun.

Yang memiliki Instagram sebanyak 26%. Punya akun Twitter sebanyak 7%. Di luar medsos, mereka yang menggunakan di WA sebanyak 64,6%.

Sudah banyak sekali di Indonesia yang menggunakan media sosial!

Ini era individu perlu lebih aktif menyatakan dirinya, gagasannya, rasa keadilannya. Teknologi sudah sampai di tahap ini. 

Terhidang sudah media sosial bagi kita untuk seluas-luasnya menyampaikan gagasan, untuk mencerahkan, untuk menyentuh hati publik luas.

Denny JA

***