Menertawakan Wajah Tua Kita

Di sosmed orang menertawakan foto dirinya yang diubah jadi keriput. Di depan cermin, kita berjuang untuk tidak terlihat tua.

Sabtu, 20 Juli 2019 | 11:37 WIB
0
281
Menertawakan Wajah Tua Kita
Hasil foto Face App (Foto: Facebook)

Jokowi mau mencari menteri berusia muda. Tapi di Facebook orang-orang berebut menjadi tua. Sepertinya orang-orang itu memang tidak bermimpi jadi menteri. Mereka senang mendapatkan wajahnya jadi kriput, bergelambir, rambut yang rentan menandakan usia yang panjang.

Disini, jadi tua adalah semacam lelucon. Sama seperti anak-anak muda yang menertawakan kepikunan neneknya. Bedanya kita ingin menertawakan diri sendiri.

Tapi mungkin, diri kita yang lain. Yang justru kita posisikan sebagai bukan kita. Ia orang lain yang menyerupai wajah kita dengan beban lemak dan kulit kendor.

Memandang wajah sendiri yang keriput, dengan sudut pandang saat ini ketika masih segar bugar, mungkin bisa jadi sesuatu yang menggembirakan. Berbeda dengan saat kita sudah keriput, lalu memandang foto masa muda dulu.

Akan ada semacam perasaan yang terbang menggali kenangan. Ada kesedihan terselip, mengapa waktu begitu cepat? Kemana larinya kekuatan dan kecantikan yang dulu? Dimanakah tenaga dan vitalitas. Dimanakah semangat itu sekarang?

Saat itu kamu bisa saja masih bersemangat, tapi asam urrat dan kolesterol membatasi semuanya. Encok, problem hernia, pinggul yang kaku dan kaki yang mudah kesemutan menghambat gerakan. Juga ingatan yang kabur.

Sementara kita tidak pernah sanggup memutar jarum jam.

Maka kini kita tertawa memandang wajah tua kita yang diubah aplikasi ponsel. Sebab kita tidak benar-benar berada di usia itu. Akan berbeda jika kita nanti tiba disana. Adakah yang masih bisa kita tertawakan?

Itulah yang mungkin dipikirkan Soe Hok Gie, ketika dia mengatakan, beruntunglah mereka yang mati muda. Sebab kematian datang lebih cepat dari ketidakberdayaan melawan kehidupan.

Aplikasi hanya bisa mengubah wajah kita menjadi tua. Tapi tidak benar-benar membawa kita menghayati rasanya menjadi tua. Sebab menjadi renta bukan pilihan yang menarik. Buktinya Ratna Sarumpaet saja harus melakukan operasi plastik untuk melawannya.

Juga cat rambut dan kosmetik.

Di sosmed orang menertawakan foto dirinya yang diubah jadi keriput. Di depan cermin, kita berjuang untuk tidak terlihat tua.

Mungkin kitalah mahluk yang hidup dari satu paradoks ke paradoks lainnya. Justru karena itulah, manusia punya teka-teki yang selalu gagal ditebak bahkan oleh dirinya sendiri.

"Mas, sampeyan lagi nulis apaan sih?"

"Iseng Kum..."

"Inilah akibatnya kalau gak khusyuk saat malam Jumat," ujar Abu Kumkum.

***