Jangan Berkata Lagi Sepakbola bukan Matematika

Selain menggambarkan pandangan yang sempit, juga sedikit-banyak bisa merintangi kreativitas teknik tendangan yang merupakan modal esensial untuk mengecoh serta mengejutkan lawan.

Sabtu, 18 Juli 2020 | 16:08 WIB
0
47
Jangan Berkata Lagi  Sepakbola bukan Matematika
Analisis Performa & Statistik (panditfootball.com)

     PERNAH seorang pelatih level dunia, mengatakan, “Sepakbola Bukan Matematika” (SBM). Sebab, tidak seorang pun bisa menjamin apa yang akan terjadi. Maksudnya siapa yang akan jadi juara dalam kompetisi.

     Nada yang sama sering juga terdengar dari para komentator sepakbola.

      SBM bisa ditafsirkan bahwa setiap tim memiliki kesempatan untuk kalah atau menang. Berlaku bagi tim mana pun dengan. Bila demikian untuk apa FIFA capek-capek tiap periode  mengumumkan peringkat setiap negara anggotanya.

     Boleh jadi adanya ungkapan “SBM” dipengaruhi karakteristik khas pada bola. Ia bangun dimensi tiga yang semua permukaannya hanya terdiri dari bidang lengkung. Lain dengan bangun, seperti kubus, silinder, dan balok, yang mengandung bidang datar.

Sehingga bila bola disimpan di bidang datar dengan posisi sembarang, dipastikan "selalu labil" atau "sangat sensitif". Terusik sedikit saja langsung bergoyang, bergerak, atau melompat. Tidak ada bangun dimensi tiga yang seunik bola dalam pergaulannya dengan manusia.

          Tetapi tetap tidak bisa dijadikan alasan tiap kali melihat hasil pertandingan. Ucapan itu mengandung "pesimistis". Seolah-olah "sepakbola" sebagai pertandingan yang mengandung "ketidakpastian". Peluang memenangkannya, "fifti-fifti", tanpa melihat kelebihan dan kekurangan setiap kesebelasan dalam berbagai aspek. Jadi mutu keterampilan tidak jadi penentu.

     Malah bisa dianggap pembodohan intelektual. Karena pengucapan tanpa henti seperti itu sama saja dengan mengapresiasikan kekeliruan pada generasi berikutnya.

     Seharusnya yang diapresiasikan ialah komentar "teknik permainan". Kalau hanya dengan komentar "SBM" tentu kita tidak bisa menaksir peluang masing-masing kesebelasan, meskipun taroklah yang bertanding itu adalah Jerman dan Indonesia. Padahal peta kekuatannya sudah jelas.

     Untuk kondisi dulu, pelampiasan seperti itu  mungkin bisa dimaklumi.  Tradisi pertandingan ketika itu kebanyakan mengandalkan fisik secara alami. Siapa yang kuat, ia yang menang. Tapi paradigma seperti itu tidak bisa lagi dipertahankan.

     Karenanya, komentar "SBM " selain menggambarkan pandangan yang sempit, juga sedikit-banyak bisa merintangi kreativitas teknik tendangan yang merupakan modal esensial untuk mengecoh serta mengejutkan lawan. (Nasrullah Idris/Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi)

***