Eggi Sudjana dan Jejak Digital Itu

Kamis, 14 Maret 2019 | 23:28 WIB
0
511
Eggi Sudjana dan Jejak Digital Itu
Eggi Sudjana (Foto: Merdeka.com)

Apakah pernah mendengar istilah “Mulutmu, harimaumu”? Setiap pembaca pasti telah tahu maksud dari kata-kata ini, yakni ajakan untuk berhati-hati dalam berkata-kata atau dengan kata lain segala perkataan yang dikeluarkan bila tidak dipikirkan dahulu maka dapat merugikan diri sendiri.

Istilah ini sangat dekat dengan realita di mana setiap pikiran yang terbentuk dalam kata-kata akan memasuki tahap pembuktian, dalam arti perkataan yang terucapkan, secara disadari atau tidak, akan nampak dalam kenyataan.

Misalnya, cerita tentang salah satu kebiasaan penduduk yang tinggal di kepulauan Solomon, Pasifik Selatan yang memiliki kebiasaan menarik, yakni meneriaki pohon. Kebiasaan ini mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.

Caranya, beberapa penduduk yang lebih kuat akan menaiki pohon itu dan bersama penduduk yang di bawah pohon bersama-sama meneriaki pohon itu. Mereka melakukan itu berjam-jam selama empat puluh hari. Alhasil, pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daun dan dahannya mulai mongering dan akhirnya mati sehingga mudah ditumbangkan.

Istilah “mulutmu, harimaumu” memperlihatkan rambu etika sosial yang mengajak kita mengembangkan sikap santun, hormat, dan bijak dalam berkata-kata terhadap siapapun, termasuk orang yang tidak sependapat dengan kita sekalipun. Bila rambu tersebut dilupakan atau sengaja dilanggar, secara langsung atau tidak, maka tahap pembuktian akan menampilkannya dalam kenyataan.

Sebagai contoh, adanya suatu segmen yang ditayangkan oleh TVOne dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) beberapa waktu lalu dengan caption “Berebut Suara Ulama” yang dihadiri oleh nara sumber dari kubu petahana, Maman Imanulhaq, dan dari oposan, Eggi Sudjana.

Ada salah satu momen krusial di acara tersebut yang menggelitik dada ini sekaligus juga menguatkan maksud dari istilah di atas. Pasalnya, segmen diskusi yang rencana diakhiri oleh Eggi Sudjana dengan landing mulus dan membuat penumpang turun dengan lega menjadi pendaratan berbatu yang membuat penumpang trauma.

Awalnya berita dimulai dengan isu tentang pengaruh ulama dalam perolehan suara pilpres 2019, seperti Ustad Abdul Somad dan AA Gym yang dianggap keberpihakan mereka kepada salah satu kubu dapat memberi angin segar bagi kubu tersebut dan keresahan bagi kubu lainnya.

Dalam diskusi disampaikan bahwa suara ulama sangat penting bagi kedua kubu, namun apakah suara akan cukup signifikan bila telah mengantongi suara ulama? Di akhir segmen, Maman Imanulhaq mengatakan, “bagi kubu 01, Jokowi, kehadiran ulama dalam pentas politik ini menjadi kekuatan besar sehingga ulama-ulama yang menginginkan Indonesia lebih baik, optimis, dan sebagainya pasti akan dukung 01” .

Tiba giliran Eggi Sudjana berbicara, “Itu harapan boleh, tetapi faktanya, termasuk doa yang nilainya sangat spiritual ya, otaknya ibadah itu doa, mbah Maimun saja yang sudah diklaim kelompok sana doain kite gitu loh.. itu yang ngatur siapa? Ga mungkin kejadian tanpa seizin Allah, tidak mungkin... izin Allah! itu serius... jadi dengan pendekatan itu, apalagi Ijtima ulama udah ada dan ulama secara formil, saya sudah bilang, dan substansial dukungnya kosong satu (01).. ah kosong dua.”

‘Eng.. ing.. eng’ atau berbagai emoticon ‘LOL’ dalam mesin komen medsos menyambut akhir dari pernyataan politikus PAN ini. Dapat terbayang bagaimana oposan melihat momen ini dan berupaya mmenghilangkannya dari ingatan masyarakat. Namun, jejak digital itu menyakitkan. Berusaha menjaring suara, namun seperti menjaring angin.

Menariknya adegan ‘salah ucap’ itu tidak banyak dipercakapkan di sosial media. Ia seakan-akan berlalu begitu saja, terdengar sesaat di telinga kemudian terkesan hilang. Ia seperti telah menjadi pembahasan yang, bila dapat dikatakan, membosankan untuk diperbincangkan lebih lanjut lagi.

Dapat dimengerti karena berita-berita ‘blunder’ semacam itu terbilang cukup sering terjadi, atau mungkin dikarenakan sikap partisan pro pemerintah yang mudah memaafkan, seperti terlihat dari karakter Jokowi yang seakan-akan tidak mengindahkan cercaan dan fitnah yang menyerangnya, dan terus fokus pada motto “kerja, kerja, kerja”.

Dalam salah satu kesempatan, Jokowi berpesan bahwa rakyat Indonesia harus memiliki sikap optimis menatap masa depan dengan pikiran positif yang bergerak maju.

Bila diperhatikan perkataan-perkataan yang diucapkan Jokowi yang positif dan optimis sejak awal masa kepemimpinannya ini telah membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Hal ini berbanding terbalik dari sikap Eggi Sudjana yang menyinggung ‘salah ucap’ Mbah Maimun ketika mendoakan Jokowi, yang pada akhirnya ditutup dengan ‘salah ucap’nya sendiri yang akan menjadi catatan penting untuk memahami arti "mulutmu, harimaumu".

Di sinilah pelajaran penting bahwa jejak digital bagi sebagian orang bermanfaat untuk kepentingan kemanusiaan, namun bagi sebagian lainnya menjadi alat yang menyakitkan. Seperti seekor tikus dalam perangkapnya, demikian jejak digital bagi orang yang berkata-kata tanpa dipikirkannya terlebih dahulu.

***