Kelahiran Media Sosial

Kita harus beradaptasi dengan fenomena medsos ini. Jangan gampang terpancing dengan opini yang tidak sesuai dengan selera kita.

Minggu, 1 Mei 2022 | 07:52 WIB
0
50
Kelahiran Media Sosial
Media Sosial (Foto: Okezone.com)

Kelahiran media sosial (medsos) sebagai saingan media konvensional memang membawa banyak konsekuensi. Kalo media konvensional (media cetak dan media elektronik/televisi) bisa dikontrol, maka medsos sama sekali tidak ada pengontrolnya.

Semua orang di seantero bumi ini bisa menjadi wartawan, menjadi komentator (penulis opini), bahkan menulis berita yang dicampuraduk dengan opini. Dan kedigdayaan medsos yang tidak mungkin disaingi oleh media konvensional adalah keviralannya. Dia bisa dibaca dan ditonton oleh ratusan juta orang di seluruh dunia dalam tempo singkat, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh koran atau televisi yang dibatasi oleh oplag (tiras) dan daya jangkau penyiaran.

Karena dua karakteristik medsos di atas, kita tidak bisa mengharapkan berita dan opini yang obyektif dan kredibel dari media sosial. Banyak berita bohong (hoax), berita yang dipelintir, opini yang menghasut, yang provokatif, yang tidak selaras dengan mindset kita pribadi. Juga yang menurut ukuran pemikiran kita termasuk penistaan agama, ujaran kebencian, ujaran rasisme, dan kasar (rude).

Kita bisa saja melaporkan orang yang  membuat tulisan/video yang kontroversial menurut kita pribadi itu, dan orang tersebut bisa dijerat secara hukum dan dipenjara.

Tetapi hal ini tidak akan menghentikan orang menulis atau membuat video sesuai dengan seleranya. Namanya saja citizen journalism, jadi semua orang di muka bumi ini bebas menjadi wartawan dan menjadi komentator sendiri. Tidak mungkin ada sensor seperti dilakukan di zaman dulu. Yang menyensor opini milyaran manusia di media sosial. 

Jadi, sikap kita bilamana sudah berkecimpung di dalam media sosial harus tidak baperan. Kalo ada opini yang tidak cocok atau mengusik perasaan kita, ya abaikan (skip) aja. Dan selanjutnya kita tidak usah membaca atau menonton video netizen tersebut. Kalo kita marah-marah atau tersinggung berat terhadap suatu tulisan/video di medsos ini sebetulnya merugikan kesehatan mental kita sendiri.

Dan pada banyak unggahan di medsos, ini yang diharapkan oleh mereka. Seperti konten Saifudin Ibrahim atau Paul Zhang yang gencar menghina agama, ini jelas dengan sengaja mengompori supaya kita marah-marah dan ngamuk. 

Intinya, kita harus beradaptasi dengan fenomena medsos ini. Jangan gampang terpancing dengan opini yang tidak sesuai dengan selera kita. Kalo ada opini yang bagus menurut kita, ya "follow" si penulis, kalo ada opini yang sampah menurut kita ya buang saja dan gak usah baca-baca lagi opininya.

Ada pepatah yang berbunyi kepala boleh sama-sama berambut hitam, tapi isinya (benaknya) bisa bermacam-macam. Jadi kalo ada netizen yang berbeda pendapat tentang agama, politik, nilai budaya dgn Anda, ya biarkan saja. 

***