Riset "Big Data" Google untuk Menulis Artikel atau Berita

Di era keterbukaan informasi ini, seorang penulis atau wartawan dapat memanfaatkan "Big Data" yang disediakan Google, tentu syaratnya dengan melakukan riset terlebih dahulu.

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 08:24 WIB
0
377
Riset "Big Data" Google untuk Menulis Artikel atau Berita
Ilustrasi

Era "Big Data" saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Ketika sejumlah media besar dan bahkan kantor berita sudah berhasil mengolah data yang besar untuk dijadikan sebuah berita, di situlah pentingnya penulis dan wartawan "sadar data".

Bayangkan, dengan mengolah "Big Data", sebuah institusi media dan bahkan kantor berita seperti Associated Press (AP) di Amerika Serikat sudah mampu meramal kejatuhan sebuah negara atau bakal terjadinya kudeta di sejumlah negara dalam periode tertentu.

Lalu di mana fungsi dan tugas wartawan/penulis di era "Big Data" ini? Jawabannya sederhana; MEMANFAATKAN "Big Data" tersebut.

Data banyak tersebar di berbagai tempat. Mungkin sering Anda lupa bahwa Google adalah tempat semua orang bisa mengakses "Big Data" tersebut.

Saya tersadarkan ketika selesai membaca buku "Everybody Lies" karya Seth Stephens-Davidowitz yang sangat mencerahkan itu. Di sana terungkap, asalkan kita (maksudnya penulis atau jurnalis) mau melakukan riset dengan memasukkan kata kurci tertentu ke peramban "Mbah Gugel", maka dari sekumpulan data itu ada "fakta" yang menarik untuk Anda tulis dan ceritakan.

Sebagai contoh kecil yang dikemukakan Davidowitz dalam bukunya itu, mana yang lebih populer antara pizza atau hotdog dalam kurun waktu tahun 1800 hingga tahun 2019 (selama kurun waktu dua abad). Secara intuisi Anda bisa saja menebak "Hotdog" yang paling populer atau "Pizza" yang lebih populer karena dipengaruhi kesukaan Anda terhadap dua jenis makanan tersebut.

Tetapi, dengan bantuan data Google dan akses terhadap informasi yang sudah sedemikian terbuka di Amerika Serikat, juga di negeri kita ini, maka jawaban mengejutkan akan segera muncul.

Apakah riset remeh temeh soal pizza atau hotdog ini penting atau menarik untuk ditulis dan dikonsumsi sebagai bacaan?

Tergantung; bisa menarik, bisa juga penting!

Menarik, bisa sekadar menambah wawasan dan pengetahuan tentang perjalanan sejarah sebuah makanan. Mungkin Anda sekadar berguman, "Oh, gitu toh...!?" Tapi 'kan sekarang Anda menjadi tahu dan berpengetahuan, minimal soal hotdog dan pizza itu.

Penting, data ini bisa digunakan oleh pebisnis untuk menentukan apakah ia harus berjualan pizza atau hotdog jika melihat popularitas kedua jenis makanan itu dan preferensi orang di suatu wilayah untuk menyantap lebih banyak satu di antara dua pilihan makanan itu.

Demikian pula tulisan mengenai sepak bola yang dipaparkan Denny JA dalam sebuah tulisan berjudul Ketika Sepak Bola Menjadi Seperti Agama, tulisan ini menjadi menarik karena disertai riset.

Riset sederhana adalah ucapan dua "Dewa Sepak Bola" bernama Maradona dan Pele yang sama-sama menganggap sepak bola sudah seperti agama saking dipujanya sedemikian rupa. Pele bahkan pernah mengatakan, "Bagi saya, sepak bola itu sudah seperti agama. Saya memuja bola sedikit di bawah memuja Tuhan".

Nah, kalimat, kata-kata, ucapan orang ternama itu adalah data atau sekumpulan data yang terserak di Google. Tidak menjadi masalah jika Google merujuk kepada tautan tertentu, dia hanya membimbing Anda untuk membuka tautan dimaksud, dan... di sanalah data-data yang besar itu berada.

Bagi Denny JA yang seorang periset, misalnya, akan sangat mudah menentukan klub sepakbola mana yang paling besar dan paling populer di jagat raya. Lalu ia menuliskannya dalam sebuah catatan perjalanan yang menarik.

***