Kompas Inside [12] Arswendo Atmowiloto

Selepas dari tahanan, Arswendo menulis sejumlah buku, salah satu buku menceritakan kehidupannya di tahanan. Ia merekam hal-hal yang lucu saat pertama kali masuk tahanan, serba canggung dan tidak biasa.

Sabtu, 1 Januari 2022 | 09:05 WIB
0
217
Kompas Inside [12] Arswendo Atmowiloto
Arswendo Atmowiloto (Foto: Tribunnews.com)

Arswendo Atmowiloto, kini sudah almarhum, adalah penulis sangat produktif yang dimiliki Indonesia pada masanya. Produktivitasnya dalam menulis mungkin hanya bisa diimbangi Remy Sylado. Berbagai ragam penulisan dia "sikat" dengan gampang, sebagaimana buku yang ditulisnya "Mengarang Itu Gampang", dan namanya berkibar di belantara literasi negeri ini.

Bahkan, saat berada dalam tahanan selama lima tahun karena terbukti menistakan agama tahun 1990, Arswendo yang bernama asli Sarwendo Atmowiloto itu produktif menulis novel, drama, skenario, artikel, dan lain-lain.

Arswendo dibesarkan di lingkungan Kompas-Gramedia. Saat media cetak masih berjaya di tahun 1980-1990an, Arswendo dikenal sebagai Midas, apa pun yang disentuhnya menjadi emas.

Majalah HAI tidak lepas dari tangan dinginnya. Majalah SENANG yang sangat-sangat ringan dan tabloid MONITOR adalah sebagian dari hasil tangan Midas-nya itu. Semuanya jadi.

Arswendo adalah sosok editor atau pemimpin redaksi majalah apa pun yang dikelolanya dengan menyontohkan sendiri bagaimana menulis dan mengisi medianya tersebut.

Dengan demikian, anak buahnya terpacu untuk melakukan hal yang sama. Namun sebagai manusia, Arswendo tidak luput dari kesalahan fatal karena menyinggung isu SARA, kesalahan yang membuatnya terpental dari Kompas-Gramedia saat ia menjalani hukuman kurungan lima tahun.

Saya ingat persis saat masih bertugas di Pusat Informasi Kompas (PIK) dan masih mengirimkan naskah cerpen saya untuk HAI, beberapa kali saya bertemu dengannya, membalas sapaan saya dengan "Hallo Mas" kalau saya menyapanya pas kebetulan saya menyerahkan naskah dalam bentuk print-out ke Redaksi Majalah HAI. Beberapa kali saya melihat Arswendo di lorong lantai 5 berbicara dengan para editor dan wartawan HAI, guyub sekali. Suaranga menggelegar, tetapi penuh tawa.

Arwendo juga kerap datang ke PIK mencari buku. Saat itu tulisan-tulisannya seperti air mengalir tak terbendung. Salah satu cerita bersambung yang saya ikuti dan dimuat di Harian Kompas adalah Titi Nginung, Canting, Opera Hong Kong, dan Opera Bulu Tangkis.

Bagi saya, novel-novelnya itu masuk kategori menghibur, ringan, tetapi dengan ide yang nakal dan sukar ditebak pada akhirnya (ending). Arswendo juga menulis "Musashi" ala Indonesia, yaitu "Senopati Pamungkas" yang terbit berjilid-jilid.

Selepas dari tahanan, Arswendo menulis sejumlah buku, salah satu buku menceritakan kehidupannya di tahanan. Ia merekam hal-hal yang lucu saat pertama kali masuk tahanan, serba canggung dan tidak biasa.

Semua diceritakan, termasuk urusan mandi di tempat mandi kolosal alias tempat mandi ramai-ramai. "Semula saya ragu untuk mandi," tulisnya. "Bukan malu karena harus memperlihatkan "punya" saya, tetapi sungguh geli melihat "punya"-nya mereka. Ada yang sebesar kelingking, tetapi ada juga yang sebesar kucing tidur!"

Itu kalimat yang saya ingat dan menancap betul di otak saat membaca salah satu bukunya.

Arswendo yang lahir tahun 1948 tutup usia pada Jumat, 19 Juli 2019 akibat kanker prostat.

***

Tulisan sebelumnya: Kompas Inside [11] Petrus Kanisius Ojong atau Auw Jong Peng Koen