In Memoriam: Sugeng Tindak Romo Tanto SJ

Pernah sesekali, Romo Tanto solis biola, padahal beliau memegang tongkat dirigen, konduktor orkes Merto. Beruntung, sempat ikut duduk sebagai violis Orkes Merto, di bangku biola pertama.

Rabu, 2 Maret 2022 | 10:47 WIB
0
66
In Memoriam: Sugeng Tindak Romo Tanto SJ
Romo Tanto (Foto: Facebook.com)

Suatu hari Romo Tanto memanggil saya ke kamarnya. Ketika itu, Romo A Soetanto SJ masih Frater, belum ditahbiskan sebagai imam. Masih “Romo Mudo”, menjadi Romo Surveillant kami, yang masih ‘bèyès-bèyès’ usia SMP tahun kedua. Dan beliau bahkan tetap sebagai romo pengawas sampai kami usia SMA di Seminari Mertoyudan, Magelang – sebuah sekolah asrama milik Jesuit yang diperuntukkan para siswa yang berkeinginan menjadi pastor. Ketika itu sekitar 1966-1970-an.

Saya memang termasuk sering keluar masuk, dipanggil ke kamar beliau. Karena sering kedapatan nakal – bikin berisik Dormitorium (Bangsal Tidur Massal yang berisi sekitar 30-an bed susun, tanpa kasur, hanya selembar tikar di atas papan kayu, bed besi seperti bed rumah sakit, hanya satu bantal, dan satu selimut lorek, tanpa guling).

Kenakalan kurang ajar saya, dan juga sobat saya Gemboes (semua siswa di Seminari Mertoyudan selalu memiliki julukan miring, alias yang wagu-wagu atau jelek-jelek) adalah menakut-nakuti teman-teman sekelas yang sudah tidur di kegelapan dormit, sebagai “suster kesot”. Di keremangan lampu dormit, setelah lampu terang dimatikan dan sudah mulai pada mendengkur, kami berdua sering memainkan peran ini. Caranya? Pakai sarung, diikatkan di kepala di atas mata, lalu dibalik sedemikian rupa sehingga yang terbuka hanya bagian mata. Persis kayak ninja!

Paginya? Jangan tanya gemparnya. Banyak yang pada cerita: “Tadi malam aku diparanin (didatengin) Suster Kesot...,” salah satu korban yang saya ingat, adalah sobatku Kancil. Teman satu bed-ku, Akiem (kini almarhum) yang tidur di bawahku, aku di atas bed susun, biasanya senyum-senyum, tahu sekali kenakalanku. Akiem – temanku sejak Sekolah Dasar di Bruderan Solo – biasanya kompak. Malah membumbui. Suster Kesot pun beredar dari mulut-ke-mulut. (Blom ada henpon, viralnya manual saja, dari mulut-ke-mulut).

Ngithir

Tetapi rupanya kena karma Suster Kesot. Suatu ketika di kegelapan malam, sempat buang air di kegelapan malam. Nggak pada tempatnya. Di tritisan pinggir Dormitorium. Eh, kena sorot senter Romo Surveillant, yang curiga mendengar bunyi gemericik tidak pada tempatnya.

Gara-gara ketangkap basah, “ngithir di kegelapan” pinggiran dormit, maka sontak teman-teman pun memanggilku dengan julukan baru, Ngithir. Whaini. Karma Suster Kesot.

Kenakalan lain? Sering bergitar, memainkan lagu-lagu pop, yang tentu saja lumayan menyimpang di asrama, yang lebih banyak “Ora et Labora” (Bekerja, belajar dan Berdoa). Bekerja di kebun (kami sebutnya opera, alias pekerjaan), ngosek WC, atau bertukang. Lagi-lagi, pernah dipanggil Romo Tanto yang sabar melihat kenakalan-kenakalan teman-teman kami yang masih usia SMP ini. Majalah-majalah musik yang saya bawa masuk ke asrama, seperti Pop Melodies, Discorina dan majalah-majalah penyanyi pop, disita Romo Tanto. Nanti kalau sudah mau liburan dan siap pulang kampung, majalah pun dikembalikan.

Tetapi suatu ketika, saya dipanggil Romo Tanto bukan karena kenakalan. Tetapi untuk mendengarkan musik, yang beliau bawa dari Belanda. “Aku punya musik untukmu...,” kata Romo Tanto. Beliau tunjukkan sebuah piringan hitam single, dari Led Zeppelin. Sebuah grup Rock Keras, dengan rekaman perdananya untuk album itu, Immigrant Song. Dan di baliknya, Tangerine. Wuaduh. Kaget setengah mati saya...

Meski setiap saat, di Mertoyudan kami diajar musik klasik, baik teori membaca not balok, sejarah musik sampai bermain untuk orkes (saya beruntung kebagian main instrumen biola), saya dan beberapa teman membandel, sesekali dan berkali-kali mendengarkan musik-musik rock, dan pop, dari lagu barat sampai lagu pop lokal, di zaman Titiek Sandhora, Anna Mathovani, Tetty Kadi, Koes Bersaudara, Panbers. Pokoknya yang jadhoel-jadhoel. Musik Barat? Zamannya The Beatles, The Animals, The Marmalade, The Tremeloes. Banyak sekali baratnya...

Nah, ketika disodori Romo Tanto yang lulusan sekolah musik di Belanda ini, musik “underground” Led Zeppelin punya, jenis hardrock? Ya kaget setengah mati. Karena, lagu-lagu kesenangan saya dulu itu, hanya sempat saya dengar di radio. Dari radio-radio amatir di Solo, jika saat libur sekolah, seperti Radio PTPN, Radio Atmajaya, Radio SAS. Atau, kalau lewat tengah malam, melalui radio tabung di rumah saya di Solo, mendengarkan sayup-sayup Blues Program dari Radio Retjo Buntung, Geronimo dari kota tetangga, Yogyakarta.

Jago Biola

Romo Tanto jago main biola dan piano, organ. Beliau pula, yang menganjurkan saya untuk memilih agar saya main instrumen biola, atau flute. Dan saya memilih biola. Guru pertama saya, seorang “virtuoso” kelas Mertoyudan, mas Kemis (nama aslinya rahasia). Guru kedua, ehm, kini Monsigneur Uskup Agung Jakarta. Juga pernah, diajar oleh Mas Jepun – bukan orang Jepang. Tetapi karena konon, wajah beliau mirip seseorang lain asal Klaten yang julukannya Jepun.

Romo Tanto tidak hanya jago biola, dan vibrasi kirinya ketat, tidak mengalun seperti Mas Kemis. Pernah sesekali, Romo Tanto solis biola, padahal beliau memegang tongkat dirigen, konduktor orkes Merto. Beruntung, sempat ikut duduk sebagai violis Orkes Merto, di bangku biola pertama.

Romo Tanto pula, yang bertahun-tahun kami saat di bangku SMA Seminari di Mertoyudan, mengajar kami Cantus – sebutan untuk pelajaran musik, tak hanya menulis not-not balok, serta sejarah musik klasik – akan tetapi juga menulis not Gregorian. (Kalau not balok, garis nadanya lima garis, maka Gregorian hanya empat garis).

Dalam pelajaran Cantus, tak hanya diajar teori. Akan tetapi juga apresiasi. Sesekali diperdengarkan musik klasik, dengan alat pemutar piringan hitam yang kami sebut Phono. Bagaimana membedakan musik Barok-Rokoko di era Johan Sebastian Bach, dengan musik era Klasik Mozart, Vivaldi, serta musik-musik era Romantik seperti Beethoven. Jangan tanya, ekspresionis, sulit dicerna jika mendengar musik-musik Arnold Schoenberg, Anton Webern, atau Alban Berg. Dissonansi juga merupakan keindahan dalam bermusik...

Ah, tetapi Romo Tanto yang dulu mengajari kami pertama bermusik itu sudah pergi. Persis 1 Maret 2022 petang, beliau sowan Gusti di keabadian setelah sekian lama sakit di Kolese St Stanislaus Girisonta, Jawa Tengah – setelah sebelumnya mengemban tugas terakhir di Paroki Tanjungpriok, Jakarta Utara, dan Gereja St Servatius di Paroki Kampung Sawah, Jatiasih, Bekasi Jawa Barat. Beliau adalah komponis musik Gereja sampai masa tuanya.

Sekali lagi, mohon maaf kenakalan saya dulu ya Romo. Semoga Romo istirahat dalam damai di keabadian... *

JIMMY S HARIANTO (Ngithir van Mertoyudan)

***