Wawancara Jan-Krzystof Duda

Untuk bisa bersaing dengan sepuluh besar dunia, Anda harus mampu memainkan hampir semua hal dan memiliki pengetahuan yang luas.

Sabtu, 15 Februari 2020 | 23:31 WIB
0
333
Wawancara Jan-Krzystof Duda
Jan Kryzstof Duda (Foto: Vladimir Barsky)

Pecatur muda Jan-Krzysztof Duda lahir pada 26 April 1998, di Krakow, Polandia. Dia belajar catur pada usia lima tahun. Berkat bakat caturnya yang istimewa, hanya dalam waktu empat tahun Duda sudah mampu menjuarai World Youth Chess Championship kategori U-10 di Vietnam sehingga dianugerahi gelar FM.

Duda meraih gelar Master Internasional tahun 2012 disusul kemudian gelar Grandmaster tahun 2013 pada usia 15 tahun 21 hari. Ia menjadi GM termuda kedua saat itu di dunia setelah Wei Yi.

Karena prestasinya ini, Duda dinominasikan oleh presiden FIDE menjadi salah satu peserta Piala Dunia 2013 di Tromsø, Norwegia, namun Duda tersingkir di tangan GM Vassily Ivanchuk pada babak pertama.

Di usia yang masih sangat muda, 16 tahun, Duda sudah bermain untuk tim Polandia di Olimpiade Catur ke-41 di Tromsø, Norwegia. Ia mencetak skor 8½ poin dari 11 babak di papan tiga. Jan-Krzysztof Duda menjadi pecatur nomor satu Polandia pada bulan Juli 2018.

Beberapa waktu lalu David Cox dari Chess.com mewawancarai GM Jan-Krzysztof Duda sebelum ia turun di Prague Chess Festival Masters dan dari wawancara panjang itu, inilah beberapa petikannya:

David Cox: Sebagai permulaan, dapatkah Anda menceritakan betapa istimewanya peran dari seorang ibu bagi Anda? Kami tahu bahwa ibu Anda memegang peran yang sangat penting dalam perjalanan karier catur Anda.

Jan-Krzysztof Duda: Sayangnya, ayah saya meninggal pada saat saya berusia dua tahun, jadi ibu saya yang membesarkan saya pada saat yang sama dengan dia menjalankan bisnisnya. Ibu berusaha untuk menemukan apa yang menjadi bakat saya, dan ketika saya berusia lima tahun, saya mencoba banyak aktivitas olahraga seperti berenang, tenis meja, tenis, senam, catur, dan musik. Saya lantas jatuh cinta pada catur, mungkin karena saya mampu tetap fokus untuk waktu yang lama meski saya masih anak-anak. Saya memang seperti itu. Saya sudah terbiasa bermain dengan mainan saya selama berjam-jam. Dan kemudian ketika saya mulai banyak bepergian untuk mengikuti turnamen, bisnis ibu saya memungkinkannya untuk ikut mendampingi saya. Sampai saya berusia 18 tahun, dia menemani saya ke mana-mana ke seluruh dunia. Saya berutang budi padanya.

David Cox: Banyak pecatur top seperti Anda bepergian ke mana-mana dengan didampingi orangtua. Magnus Carlsen dan Fabiano Caruana misalnya memiliki ayah sebagai pendamping mereka. Wesley So masih bepergian dengan ibu tirinya Lotis. Mengingat catur bisa menjadi permainan yang sulit secara psikologis, dapatkah Anda menjelaskan tentang manfaat dari dukungan orangtua semacam ini?

JKD: Secara umum, itu berarti saya tidak perlu memikirkan hal-hal lain selain catur. Ibu manajer saya juga. Jadi dia yang mengatur pelatihan. Penerbangan. Semuanya. Saya hanya bermain catur. Itu saja. Selain itu ibu juga tahu apa yang harus dilakukannya saat saya kalah. Karena saya masih muda, saya tidak selalu mampu menerima kekalahan. Saya akan bereaksi sangat buruk sesudahnya, seperti melompat-lompat di tempat tidur dan sebagainya. Beberapa dari teman lama masih suka menceritakan hal ini. Tetapi ibu selalu tahu cara untuk menenangkan saya. Setelah dewasa hal-hal seperti ini kemudian berhenti sendiri.

David Cox: Saya dengar selain bermain catur, Anda juga belajar pendidikan jasmani. Seberapa pentingkah menjaga kebugaran bagi seorang pemain catur?

JKD: Ya, saat ini saya sedang belajar di Academy of Physical Education di Krakow, dan melalui ini, saya memiliki kesempatan untuk bekerja dengan pelatih dan spesialis olahraga Polandia terkemuka, misalnya, ahli fisiologi mantan bintang tenis Polandia Agnieszka Radwanska. Tanpa ini, saya hanya akan menjadi seoran pecatur yang lemah karena tidak akan pernah mampu menahan ketegangan. Saya pikir menjadi bugar adalah suatu keharusan bagi pecatur top. Magnus adalah contoh yang baik dari ini karena dia adalah pecatur yang sangat sporty, dan dia mampu menyingkirkan tekanan dalam pertandingan lalu saat kejuaraan dunia melawan Anand, lebih baik daripada Vishy. Ok, dia memang jauh lebih muda, tapi saya pikir itu adalah salah satu alasan mengapa dia menang mudah saat itu.

David Cox: Apakah Anda punya cara lain untuk mengatasi ketegangan ini?

JKD: Secara umum, saya percaya takhayul dan banyak juga pecatur lain seperti saya. Saya tidak benar-benar percaya 100 persen, tetapi saya ingin memiliki kepercayaan ini hanya untuk memastikan. Jadi saya dulu punya pulpen keberuntungan, dan sekarang saya juga memiliki pakaian keberuntungan. Tetapi jika Anda memenangkan terlalu banyak partai berturut-turut, itu bisa menjadi masalah. Sebagai contoh, ketika saya memenangi kejuaraan nasional Polandia pada tahun 2018, saya remis empat laga berturut-turut. Saya menekan sebagian besar dari mereka tetapi tidak mampu mengubahnya menjadi kemenangan. Kemudian setelah saya memenangi laga pertama saya, saya juga memenangkan tiga laga berikutnya, semua dengan mengenakan pakaian yang sama persis. Bagian terburuknya adalah saya juga memakan makanan yang sama. Saya makan steak pada hari kemenangan pertama, jadi sejak saat itu, dua steak sehari. Agak mahal, tapi masa bodohlah. Saya suka steak!

David Cox: Berbicara tentang pakaian, Anda selalu berpakaian bagus. Apakah ini memang sesuatu yang Anda perhatikan?

JKD: Sebaliknya. Saya justru terkejut mendengar pertanyaan Anda ini karena ini adalah kode berpakaian dari FIDE untuk memakai jas saat pertandingan. Saya dulu sangat tidak suka bermain dengan memakai setelan jas, tapi saya akhirnya jadi terbiasa, namun sayangnya banyak pecatur lain tidak menghormati peraturan ini. Sedikit membuat saya marah. Mungkin karena itu, saya kalah dari Wesley So di Grand Prix Moskow ketika dia tidak mengenakan kemeja yang layak, Shakhriyar Mamedyarov di Riga yang memakai jeans, dan Jeffrey Xiong di Piala Dunia yang memakai kaus. Saya tipe orang yang mengikuti aturan dan itu adalah sikap profesionalisme saya.

David Cox: Saya tahu Anda tidak nyaman melakukan wawancara ini dalam bahasa Inggris. Apa yang membuat Anda lebih gugup, wawancara ini atau bermain di final Grand Prix?

JKD: Hahaha... bahasa Inggris saya memang mengerikan! Sangat berbeda dengan Polandia. Terkadang sulit. Saya sudah belajar selama bertahun-tahun di sekolah, tetapi saya terlalu malas untuk mencoba dan memperbaikinya setiap hari. Ketika saya terbang ke Saint Louis, ini memang jadi masalah. Tetapi itu semua relatif. Ketika saya bercakap-cakap dengan beberapa pecatur China, saya tidak lagi merasa sedih dengan bahasa Inggris saya. Saya sering mengatakan suatu hal dalam bahasa Inggris yang sangat berbeda dari apa yang sebenarnya saya maksud. Sebagai contoh, saya memberi wawancara setelah menang dari Anish Giri di Speed Chess Championship tahun lalu. Saya membaca beritanya beberapa hari kemudian, dan ada kutipan yang sama sekali berbeda dengan apa yang ingin saya katakan dan itu membuat saya tertawa.

David Cox: Siapa menurut Anda pecatur yang paling menakutkan untuk dihadapi dari semua pecatur top dunia?

JKD: Selalu ada beberapa pecatur yang bermain sangat baik atau buruk melawan Anda. Saya selalu kesulitan menghadapi GM Wesley So. Untuk beberapa alasan, gaya permainannya tidak cocok dengan saya, tetapi pada saat yang sama, saya juga pernah memenangkan beberapa partai miniatur melawannya. Saya menghancurkannya sekali hanya dalam 17 langkah, dan di Grand Prix tahun lalu, saya juga menaklukkannya dalam 25 langkah. Tetapi jika dia selamat dari pembukaan, dia adalah pecatur yang tidak menyenangkan untuk dihadapi! Di masa lalu, saya juga takut menghadapi pecatur China. Saya selalu bermain buruk saat berhadapan dengan mereka. Saya ingat lawan Wei Yi di kejuaraan dunia U14. Saya memiliki posisi yang sepenuhnya menang dan bisa diraih dalam 2-3 langkah, tetapi saya melewatkan kombinasinya. Dia kemudian keluar sebagai juara turnamen itu dan menjadi superstar di negaranya. Saya selalu merasa bersalah karena saya, orang ini menjadi bintang besar, karena tanpa kemenangan ini, ia bisa saja bukan siapa-siapa di China. Situasi ini berubah setelah Federasi China mengundang saya untuk bermain di negara itu beberapa tahun yang lalu, dan setelah mendapat hasil bagus melawan semua GM super China, saya tahu bahwa saya tidak berbeda dengan mereka. Ini adalah waktu ketika saya menyadari bahwa saya dapat melakukan banyak hal lebih baik. Di sisi lain, saya suka bermain dengan pecatur Rusia. Mereka mewakili semacam "budaya catur" dan di setiap partai yang saya mainkan, itu lebih dari sekadar permainan, itu adalah gabungan semua elemen dalam catur: seni, sains, dan olahraga digabung menjadi satu.

David Cox: Selama bertahun-tahun, Radosław Wojtaszek menjadi pecatur terkuat Polandia. Apakah dia membantu Anda menjadi seorang pecatur top seperti saat ini?

JKD: Saat saya masih sangat muda, Federasi Catur Polandia telah mengembangkan program khusus di bawah bimbingan Radek untuk pecatur junior yang paling menjanjikan. Saya adalah bagian dari program itu dan memiliki kesempatan untuk belajar darinya. Kami sendiri adalah dua pecatur yang sangat berbeda dengan pendekatan yang juga sama sekali berbeda. Radek adalah sekondan Anand, dan setelah itu, dia menembus rating 2700 dan pada dasarnya menjadi orang pertama yang membukakan pintu gerbang. Dia selalu berusaha keras untuk memeriksa, meneliti setiap saat, menghafal jalur-jalur dan variasi sementara saya tidak melakukannya sama sekali. Tetapi saya juga memiliki beberapa keterampilan yang tidak ia miliki. Misalnya, dia tidak bisa menggertak. Terutama di pembukaan. Dia tidak akan pernah memainkan sesuatu yang belum dia periksa, bahkan meskipun itu dalam partai blitz sekalipun. Saya pikir jika dia mengembangkan lebih banyak keberanian dan mengambil lebih banyak risiko, dia mungkin akan mencapai puncak. Untuk bisa bersaing dengan sepuluh besar dunia, Anda harus mampu memainkan hampir semua hal dan memiliki pengetahuan yang luas.

***