Sherly Malinton dan Perempuan Penyapu Halaman

Sampai saat ini dua Novel yang yang sudah terbit lebih awal, yakni Alena dan Perempuan Penyapu Halaman, sangat direspon publik, semoga novel Dua Ustad juga begitu.

Selasa, 22 Juni 2021 | 19:15 WIB
0
273
Sherly Malinton dan Perempuan Penyapu Halaman
Foto:doc.pribadi

Agak kaget juga saya ketika kang Pepih Nugraha mereferensikan wajah Sherly Malinton masih muda, sebagai wajah di dalam cover Novel Perempuan Penyapu Halaman ini. Dalam kemasan perempuan desa yang sedang menyapu halaman.

Berapa sulitnya Saya memvisualkan sosok Sherly Malinton di masa muda, sesuai dengan imajinasi kang Pepih, tapi ini tantangan yang harus saya jawab sebagai seorang desainer.

Cover ini berkali-kali bongkar pasang, karena begitu saya dapat memvisualkan Sosok Sherly Malinton di masa muda, saya harus mengimajinasikan pandangannya yang sesuai dengan keinginan kang Pepih.

Jelas itu tidak mudah, saya harus menterjemahkan deskripsi yang dikemukakan kang Pepih. Bagaimana pandangan yang kosong, namun tidak terkesan seperti gadis yang buta, dan tetap tervisualkan sosok gadis desa yang cantik yang sedang memegang sapu sapu halaman. 

Saya harus mencari banyak referensi secara visual yang menggambarkan sosok perempuan yang memandang kedepan dengan pandangan yang kosong, itu pun harus berkali-kali dipresentasikan. Sesuatu yang imajinatif itu memang harus dengan rasa dalam memvisualkannya.

Entah pada presentasi ke berapa baru kang Pepih meng-iyakan, dan saya begitu sangat senang dengan pencapaian itu. Saya mengerti, karena sosok perempuan yang divisualkan harus memberikan kesan yang mendalam bagi pembaca novel ini.

Disamping itu saya juga harus memvisualkan sosok lelaki yang tak kalah penting, lelaki desa yang muda dan kekar, dengan wajah mewakili lelaki desa, namun harus menarik. Kalau ini tidak terlalu sulit, karena dari awal saya sajikan kang Pepih langsung oke, begitu juga sosok dangau yang ada di latar belakang cover.

Saya senang, karena kang Pepih sudah mengeksplor imajinasi saya dalam mendesain cover ini. Saya teringat waktu zaman masih kuliah dulu, dimana saya harus menguras ide dan imajinasi untuk sebuah tugas kuliah.

Benar kata kang Pepih, ini adalah bentuk kolaborasi imajinasi antara  penulis dengan desainer grafis. Memang saya sangat menyadari, untuk mencapai sebuah kerja yang maksimal, dibutuhkan totalitas dalam mengerjakannya. 

Dari 3 Novel kang Pepih, Alena, Perempuan Penyapu Halaman, dan Dua Ustad, tidak ada yang mudah memvisualkan imajinasinya, karena imajinasi itu begitu melekat dalam benak kang Pepih sebagai penulis. 

Saya sangat kenal dengan kesungguhan kang Pepih dalam segala hal, dia tidak pernah main-main, dan setengah-setengah dalam mengerjakan sesuatu, sehingga saat apa yang ada dalam bayangannya belum terwujud, maka dia akan berusaha dengan keras untuk mewujudkannya. 

Secara mental akhirnya saya terbawa dengan ritme kerja dan imajinasi visual kang Pepih. Saya tidak memosisikan diri sebagai seorang penerima pesanan, saya lebih merasa sebagai partner kerja kang Pepih. 

Bukan cuma saya yang sudah menerima tantangan ini, sebelumnya sudah ada desainer yang mengerjakan cover-cover tersebut, dan saya adalah orang ketiga yang dipercaya untuk mendesainnya. Alhamdulillah, ketiga cover novel tersebut berhasil saya wujudkan. 

Semoga novel-novel kang Pepih tersebut bisa dinikmati pembacanya. Sampai saat ini dua Novel yang yang sudah terbit lebih awal, yakni Alena dan Perempuan Penyapu Halaman, sangat direspon publik, semoga novel Dua Ustad juga begitu. 

***