Picasso

Sekumpulan orang dengan nilai-nilai yang sama, namun gagal bersepakat tentang nyata atau tidaknya suatu kejadian. Hoax atau tidaknya suatu kejadian, banyak orang gagal paham.

Minggu, 5 September 2021 | 12:42 WIB
0
29
Picasso
Pablo Picasso (Foto: IDN Times)

Setiap melihat lukisan kubisme, abstrak ataupun nama Pablo Picasso, saya pasti teringat ayah saya. Bapak selalu jengkel melihat lukisan abstrak. "Aku nggak tahu di mana letak indahnya. Bahkan aku sering mikir, jangan-jangan pelukisnya nggak bisa melukis. Berlindung kebebasan berkreasi dan pesan-pesan terselubung dalam lukisannya. Kita mau melihat lukisan dan bukan mau berpikir..."

Sebenarnya untuk ukuran orang seangkatannya, Bapak cukup progresif. Pernah hobi ngegim, dengan gim jadul seperti Doom. Dan pada waktu itu, selalu gegap gempita mengikuti polemik tentang post modernisme yang sedang ramai.

"Posmo itu memutarbalikkan nilai, "kata Bapak." Apa yang kita anggap bernilai saat ini, saat lain akan berbeda. Bapak lalu menjelaskan tentang botol dalam film Gods Must Be Crazy. Botol yang jatuh di tengah pemukiman suku terasing, mendadak menjadi benda ajaib bagi mereka. Semua memperebutkannya. Padahal itu hanya botol.

Makin maju peradaban, banyak nilai-nilai lama dimaknai beda. Apple dan Blackberry bukan lagi hanya nama buah-buahan. Beranak banyak kini jadi pandangan yang ditertawakan, tetapi kelak mungkin pandangan ini diterima lagi.

Itulah Bapak saya. Seseorang yang bisa memahami posmo, tetapi tidak mampu memahami Picasso. Karena memang ada sisi-sisi konservatif dari diri Beliau.

Kini posmo bukan lagi wacana yang ramai dibahas. Tergantikan topik baru bernama 'post-truth'. Posmo jauh lebih kompleks menurut saya. Sedang pada post-truth, yang dipersoalkan adalah hanya realitas.

Sekumpulan orang dengan nilai-nilai yang sama, namun gagal bersepakat tentang nyata atau tidaknya suatu kejadian. Hoax atau tidaknya suatu kejadian, banyak orang gagal paham.

Pertanyaannya, ketika engkau bertemu seseorang, dengan pendapat-pendapat super cerdas yang mengingatkanmu pada Bapak, dan menganggapnya sebagai kerasukan Bapak atau barangkali malah justru inkarnasi Bapak, apakah ini fenomena post-truth juga?

Pertanyaannya lagi, wajarkah ia untuk dirindukan?

***