Muammar Khaddafi [1] Sang Kolonel Kebanggaan Bangsa Libya

Khaddafi sangat menyukai puisi-puisi tentang persahabatan. Ia selalu diliputi kerinduan pada teman-temannya.

Selasa, 11 Juni 2019 | 22:48 WIB
0
416
Muammar Khaddafi [1] Sang Kolonel Kebanggaan Bangsa Libya
Moamar Khaddafi (Foto: Tirto.id)

Tepat 77 tahun lalu, tanggal 7 Juni 1942 lahir seorang bayi laki-laki di kota kecil, Sirte, Libya bagian utara. Kelak ia menjadi kebanggaan Bangsa Libya, namun ironisnya ia pun mati secara tragis di tangan rakyat Libya. Dialah Muammar Khaddafi, Sang Kolonel.

Menjelang subuh pada satu malam di bulan April tahun 1954, angin Syahrokko mulai bertiup dari Marokko (karenanya dinamakan Angin Syahrokko) berhembus melintasi Afrika Utara menuju Jazirah Arab. Angin yang hanya bertiup di Bulan Ramadhan itu mengantarkan satu rombongan keluarga yang mirip kafilah kecil.

Barang-barang diangkut duabelas gerobak yang ditarik keledai, diiringi seratusan ekor domba, bergerak meninggalkan kota Sirte di utara Libya, menuju Sheba. Separuh bulan dan satu bintang masih tampak di langit timur menerangi jalan mereka. Seorang anak beranjak remaja, berselimmut kulit domba terselip di salah satu gerobak. Hatinya riang menjemput masa depan.

Suara letusan peluru atau dentuman bom, bukanlah suara yang asing di telinga Muammar Abu Minyar al-Qaddafi atau Muammar Khaddafi. Ia lahir 7 Juni 1942, di sebuah tenda suku Qadhdhafa (salah satu suku Badwi) di gurun Sirt, Utara Libya. Saat itu tengah berkecamuk perang antara Inggris melawan Jerman yang berkongsi dengan Italia di hampir sepanjang pesisir timur Afrika Utara.

Ayah Khaddafi, seorang petani miskin, Muhammad Abdul Salam bin Hamed bin Muhammad Al-Gadhafi alias Abu Meniar dan ibunya bernama Aisha Al-Gadhafi, seorang Yahudi yang masuk Islam sejak masih anak-anak, berharap suatu hari kelak, Khaddafi akan menjadi pemimpin. Karenanya diberi nama Muammar, pemimpin.

Selain gemuruh perang, yang juga akrab di telinga dan hati Khaddafi adalah lagu rakyat, puisi dan angin gurun. Kebanyakan lagu dan puisi gurun pasir bercerita tentang keislaman, gurun pasir itu sendiri, mata air, angin, rembulan dan kerinduan. Karena keluarganya selalu berpindah-pindah (nomadic), Khaddafi sangat menyukai puisi-puisi tentang persahabatan. Ia selalu diliputi kerinduan pada teman-temannya.

Pohon zaitun yang rimbun, bersumur jernih, di sanakah engkau berteduh?
Bulan jingga berbintang cerlang, di sanakah engkau menunggu?
Cakrawala gurun memerah, di balik itukah kau bernyanyi?
Oh, oh, oh, sahabat-sahabatku, kapan bersama lagi?

Puisi-puisi itu biasanya ia senandungkan ketika menggembala domba atau menjaga kebun yang digarap ayahnya. Saat itu, Khaddafi kecil acapkali harus mendongakkan kepalanya untuk melihat tempat yang jauh, kalau-kalau domba-domba merusak tanaman di kebun, atau ada srigala yang harus segera ia usir.

Kebiasaan ini, rupanya terbawa sampai sekarang. Hampir semua foto-foto Khaddafi yang ditampilkan media, tak satupun kepalanya tengah menunduk. Selalu mendongak.

Meskipun beberapa kali berhenti saat duduk di sekolah dasar, karena harus ikut ayahnya berpindah tempat tinggal, Khaddafi kecil sangat berprestasi. Bahkan, beberapa kali ia lompat kelas. Baru tahun 1954, ketika ia duduk di bangku SMP ayahnya pindah dan menetap ke kota Sheba. Sejak saat itu Khaddafi lebih banyak membaca buku, dan mengikuti perkembangan politik yang terjadi di Timut Tengah lewat radio.

Seperti halnya kaum muda di se-antero Timur Tengah, Khaddafi-pun sangat mengidolakan Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser. Tidak hanya Khaddafi yang terkagum-kagum dengan Nasser, ternyata Mubarrak muda, juga Saddam Hussein muda, yang kemudian sama-sama menjadi pemimpin negaranya. Sampai-sampai, di dinding kamar Khaddafi terpampang beberapa foto Nasser. Revolusi yang terjadi di Mesir, kemudian di Aljazair, sangat berpengaruh dalam pembentukan karakternya.

Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di Sheba, Khaddafi melanjutkan pendidikannya di Universitas Benghazi, dengan mengambil jurusan sejarah. Di sinipun prestasi akademik Khaddafi kembali cemerlang, ia menjadi lulusan terbaik di jurusannya saat wisuda.

Ketika masih kuliah, pada 5 Oktober 1961 Khaddafi memimpin demonstrasi mahasiswa di ibukota propinsi Fezzan untuk mendukung Presiden Nasser mempersatukan negara-negara Arab. Akibatnya, ia ditangkap dan dikeluarkan dari kampus. Baru setahun kemudian dia bisa merampungkan kuliahnya. Maklum, saat itu pemerintahan Raja Idris yang bisa dikatakan sebagai boneka Barat, tidak begitu senang dengan munculnya Nasser sebagai bintang di Timur Tengah.

Bukannya surut, semangat Khaddafi makin menyala untuk menggerakkan revolusi di negaranya. Tapi untuk sementara waktu dia harus menahan gejolak itu.

Dua tahun kemudian, 1963, Khaddafi masuk Akademi Militer di Benghazi. Secara diam-diam, dia dan sejumlah taruna membentuk kelompok yang pada saatnya akan memulai revolusi guna mengakhiri monarkhi Raja Idris. Ia lulus dari Akademi Militer tahun 1965.

Karena dinilai berprestasi, Khaddafi dikirim ke Inggris untuk mengikuti pelatikan komando selama satu tahun.

***