Kisah Sukses Ridwan Kamil [1] Tahun 2013–2018 Bandung Juara

Setiap orang adalah pemimpin, minimal pemimpin untuk diri sendiri. Tapi banyak orang, memimpin diri sendiri pun tidak sanggup.

Rabu, 10 Juli 2019 | 08:16 WIB
0
33
Kisah Sukses Ridwan Kamil [1] Tahun 2013–2018 Bandung Juara
Ridwan Kamil (Foto: jadiberita.com)

Sebelum tahun 2013, Bandung sangat identik dengan lalu lintas yang semerawut dan macet, jalan-jalan raya rusak, tumpukan sampah di mana-mana, banjir, dan tingkat kriminalitas yang tinggi. Untuk mengekspresikan kekesalan atas kondisi tersebut, sebagai warga Bandung, musisi Doel Sumbang menciptakan lagu ‘Bandung Kusta’.

Bandung, Bandung, Bandung... (2x), baheula Paris van Java, ayeuna borok jeung kusta, bareto dilingkung gunung, ayeuna heurin ku tangtung.

Bandung, Bandung, Bandung... (2x), gering nangtung ngalanglayung, panas tiris humarurung, baheula lautan api, ayeuna lautan…runtah. 

(Bandung, Bandung, Bandung, dahulu Paris van Java, sekarang borok dan kusta, dahulu dikelilingi gunung, sekarang padat penduduk. Bandung, Bandung, Bandung, menderita bathin berkepanjangan, demam menggigil, dahulu lautan api, sekarang lautan sampah.)

Sejarah membuktikan, kota-kota terkemuka di dunia, seperti Roma, Athena, London, Wina, Paris, Praha, Barcelona, dan lain-lain dibangun oleh para arsitek perfectionistic. Begitu juga Bandung. Ibukota Jawa Barat ini, sebelumnya dalam berbagai survei ‘Kota Terbaik’ selalu menempati ranking di atas 200 dari 500 kota di Indonesia. Setelah empat tahun ditangani Ridwan Kamil, Walikota yang seorang arsitek, beberapa kali Bandung menempati ranking 1 sebagai ‘Kota Terbaik’ di Indonesia. 

Tahun 2013 Ridwan Kamil maju menjadi Calon Walikota Bandung dan meraih 45% suara, mengalahkan tujuh pasangan lain. Dalam kampanye, Ridwan Kamil yang lebih sering disapa Kang Emil, menerapkan creative campaign dengan menggunakan media sosial. 

Setiap blusukan ke kampung-kampung yang tidak memiliki akses terhadap air bersih, ia membawa filter air, lalu meminum air yang sudah dijernihkan dengan alat itu. Adegan itu direkam dan disebarkan via sosial media. Hasilnya, di kampung-kampung itu Emil meraup 90% suara. “Saya gunakan teknologi dan inovasi sebagai sarana branding dalam kampanye,” kata Emil. 

Bagi Emil, politik adalah gelanggang yang baru sama sekali, sesuatu yang ia tidak mengerti. Emil mengaku, tidak sengaja ‘belok’ jadi Walikota Bandung.

Ceritanya, ketika itu sering bolak-balik Bandung-Jakarta naik minibus travel. Kalau pulang ke Bandung ia selalu tidur di perjalanan. Karenanya Emil selalu minta kepada sopir, agar dibangunkan kalau sudah sampai Bandung. Tapi satu kali Sang Sopir menjawab, “Pak, kalau sudah sampai Bandung, pasti Pak Emil bangun sendiri. Karena jalannya rusak.” 

Emil, kelahiran Bandung 4 Oktober 1971, pernah tinggal di Surabaya, Jakarta, Taipei, Jerman, dan Amerika, di mana jalan-jalan rayanya rata dan bagus. Ia merasa tersindir dengan jawaban sopir itu. Kisah itulah yang memperkuat tekad Emil untuk maju dalam Pilkada Kota Bandung 2013. 

Ia memahami, setiap orang adalah pemimpin, minimal pemimpin untuk diri sendiri. Tapi banyak orang, memimpin diri sendiri pun tidak sanggup. Kadang-kadang mereka tidak tahu kapan harus belok kiri atau kanan. Ketika naik motor, lalu lintas macet, mereka tidak tahu motor naik ke trotoar itu boleh atau tidak? Ketika lampu lalu lintas menyala merah boleh terabas atau berhenti? 

“Nah, setelah memimpin diri sendiri, kita memimpin keluarga. Saya harus jadi teladan. Nanti naik level lagi, jadi pemimpin masyarakat. Sekarang Tuhan sedang menakdirkan saya sebagai Walikota.”

Ada nilai-nilai yang harus ia pahami sebagai pemimpin. Pertama, harus punya visi, harus berani mengambil risiko. Dalam politik, tidak ada keputusan yang bisa membahagiakan semua orang. Kalau mau membahagiakan semua orang, namanya kompromi. Kedua, pemimpin harus bisa menjadi problem solver. Emil merasa beruntung menjadi arsitek. Karena sudah biasa menghadapi klien dengan budget terbatas, solusinya menurunkan ekspektasi tapi tetap solutif.

“Seorang arsitek diberkahi Tuhan daya imajinasi yang kuat. Tugas pemimpin hanya dua, membawa perubahan, dan mengakselerasi kemajuan. Kalau membawa perubahan itu menciptakan ‘dari yang tidak ada menjadi ada’. Mengakselerasi kemajuan adalah ‘membuat situasi yang biasa menjadi luar biasa’,” papar Emil. 

Menurutnya, ada beberapa tipe pemimpin. Pertama, pemimpin berbasis ideologi. Misalnya, rasul dan nabi, pemimpin karena sabdanya. Titahnya diikuti umat. Kedua, pemimpin karena geografisnya, yaitu raja atau ratu. Tapi sekarang sudah mulai tidak relevan, hanya simbol saja. Ketiga, pemimpin yang membebaskan, seperti Kemal Ataturk, Soekarno, Mahatma Ghandi, dan lain-lain.

Tipe pemimpin yang keempat, adalah pemimpin yang muncul dari kaum kebanyakan. Dia bukan anak raja, bukan anak politikus, bukan anak konglomerat, bukan anak pemilik partai politik. Di alam demokrasi, siapapun sekarang bisa jadi pemimpin. “Jadi kalau saya bisa, anda yang mendengar suara saya juga pasti bisa, asal mau saja turun ke dunia politik yang mengguncang emosi dan nalar.”

Menata Bandung

Bandung adalah kota berhawa sejuk yang berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut, berpenduduk 2,8 juta jiwa di mana 60% di antaranya berusia di bawah 40 tahun. Pendapatan Domestik Kota Bandung 55% berasal dari usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Pada tahun 2016 lalu ekonomi Kota Bandung tumbuh 7,8%, jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,02%. Angka pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi tersebut karena berkembangnya sektor pariwisata. Tercatat pada tahun 2016, sebanyak enam juta wisatawan (domestik dan mancanegara) berkunjung ke Bandung. 

“Jika satu wisatawan yang datang menghabiskan uang Rp1 juta dalam beberapa kali kunjungan selama setahun, maka pendapatan dari pariwisata mencapai Rp6 triliun,” kata Emil. 

Secara makro, fakta paling nyata mengenai Kota Bandung adalah semakin padat, bahkan paling padat di Asia. Ia blusukan ke kawasan-kawasan miskin. Umumnya, warga miskin tinggal di rumah yang mirip kos-kosan berukuran tiga kali lima meter persegi, tapi anaknya empat atau lima orang.

Problemnya dimulai dari populasi. Atas dasar itulah Emil menetapkan ko-efisien luas bangunan (KLB) di satu tempat dengan tempat lain di Kota Bandung, berbeda-beda. 

“Kenapa saya menghitung KLB berbasis populasi? Karena saya memprediksi pada tahun 2030 penduduk Bandung akan mencapai empat juta jiwa. Saat ini sudah 2,8 juta,” kata Emil.

Dengan asumsi populasi empat juta jiwa itu, harus sudah dihitung sejak sekarang, berapa luas kebutuhan untuk perumahan, kantor, pasar, dan sekolah.

Dalam menentukan KLB di tiap wilayah, ia memakai teori balon, dipencet di satu tempat, maka akan menggelembung di tempat lain. Maka keluarlah rumus, bahwa KLB di satu wilayah bisa tujuh atau delapan, karena mengambil dari tempat di tempat lain yang KLB-nya dinol-kan. 

Jadi, dengan begitu Emil bisa mempertanggungjawabkan kebijakan itu secara ilmiah. Jadi Pemkot punya rencana tata ruang wilayah (RT-RW) dan rencana detail tata ruang (RD-TR), yang ujungnya adalah Kota Bandung siap dengan sebuah situasi di mana populasinya mencapai empat juta jiwa. 

“Saya bisa pertanggungjawabkan, mengapa saya mengeluarkan IMB dengan KLB tinggi, ya untuk keseimbangan. Kadang-kadang orang tidak paham, selalu berbicara kepadatan semata-mata urusan visual atau matematis saja.”

(Bersambung)

***