Belajar dari Kasus Ahmad Dhani

Selasa, 29 Januari 2019 | 07:01 WIB
1
354
Belajar dari Kasus Ahmad Dhani
Ahmad Dhani (Foto: Kompas.com)

Saya bukan peramal, dan merasa tidak punya kemampuan membaca masa depan. Tapi saya sudah melihat bahwa "pada waktunya", Ahmad Dani ini akan merasakan (entah) panasnya atau dinginnya jeruji besi.

Tahun 1999, atau sekira 20 tahun yang lalu, saya dikompor-kompori oleh Majalah Gatra untuk memperkarakan dia, karena menjiplak buku yang saya terbitkan. Judulnya "Kasidah Cinta" yang saat itu dipublish salah satu anak usaha saya yang bernama Tarawang Press.

Sempat agak tergoda, tapi kemudian saya putuskan berkonsultasi dengan keluarga almarhum Hartojo Andangjaya di Sala. Karena saya pikir yang menciptakan "judul" itu kan dirinya, penterjemahannya beliau. Tentu beliau-lah yang lebih berhak, dan (sialnya) saat itu beliau sudah almarhum.

Dan apa jawab istrinya? Kok ya ada orang lain lagi yang main-main dengan teks-teks kesufian Jalaluddin Rumi. Apa ya dia kuat menyangganya.

Lalu dia bercerita tentang suaminya, seorang penyair yang sangat sederhana tapi memiliki karya-karya yang kuat. Tak ada puisi yang paling kuat dan abadi yang menggambarkan citra seorang rakyat, kecuali karyanya. Berkat istri-nyalah, saya sedikit tahu bahwa setiap rima yang ada dalam karya tersebut sebenarnya adalah mantra. Sederhana bahasanya, tapi memiliki kedalaman makna yang tak terhingga. Kalau meminjam istilah Arifin C. Noor sejenis "sumur tanpa dasar".

Karena itu, janganlah bermain-main dengannya. Saking takutnya, saat itu juga saya kembalikan hak penerbitannya kepada beliau, dan saya tak ingin mencetaknya ulang lagi. Selesai bagi saya, tidak bagi Ahmad Dhani (AD) dan Dewa 19-nya!

Saya lega dan biarkan, walau kemudian ternyata dia juga bermasalah dengan Pakde Yudhistira Massardi. Karena salah satu albumnya berjudul Arjuna Mencari Cinta mencatut karya novelnya dengan serampangan saja. Beliau tentu lebih pemberani daripada saya, yang ternyata (kemudian) saya sadari ndesit dan antirame-rami ini. Saya tidak mengikuti akhir dari kasus yang berujung ke pengadilan ini.

Dan seperti yang kita lihat, AD tetap bersikap arogan, thengil dan nyebahi. Selalu merasa tidak bersalah dan tak pernah menganggap serius setiap masalah. Ia bak petualang di dunia entertainment, bikin grup ini itu. Demikian mudah mencampakkan kawan, bahkan bagian yang paling tidak masuk akal nggege mangsa, ia melawan arah waktu. Membuat sebuah film otobiografi grup Dewa, bahkan ketika seluruh anggota personel dan para mantannya masih hidup.

Artinya apa? Ia ingin menokohkan dirinya, melegendakan dirinya, bahkan ketika ia masih hidup dan sebanranya belum pada puncak kariernya!

Begitulah dunia komersial, jagad entertainment yang bisa seenak-enaknya membolak-balik sebuah konsesus atau konvensi sosial yang ada dalam masyarakat lumrah. Ia seenaknya saja meneriakkan kalimat-kalimat kasidah cinta, menjualnya dengan harga tiket mahal. Padahal itu adalah ajaran sufi yang semestinya sudah sangat menjauh dari hore-hore, sorak-sorai keduniawian yang lekat dengan kekotoran.

Kalau pun disenandungkan tentu dengan lembut dan sangat lirih. Saya sampai hari ini, tidak bisa mengerti bagaimana orang yang konon menggilai ajaran sufisme, hingga "tega" menamai ketiga anaknya dengan nama-nama tokoh sufi yang disucikan, tapi setiap hari mencari musuh ke sana kemari. Ngacapruk hina sana sini, tanpa peduli menyakiti hati liyan...

Ia sebenarnya pada awalnya adalah lelaki yang sangat beruntung. Sebagai orang hybrid-blasteran, setengah lokal setengah interlokal. Bapaknya Sunda, Ibunya berdarah Jerman. Ia diwarisi sedemikian banyak bakat alami. Bahkan saking menyombongkan kecerdasannya, ia pernah mendaku selain Aria ada darah Yahudi dalam dirinya. Sebuah statement yang sangat absurd, karena bangsa Aria (yang diwakili Hitler) adalah pembenci Yahudi nomor satu.

Karenanya di tangan dirinya simbol swastika betul-betul kehilangan makna. Coba pakai itu di jalanan Jerman sana. kalau gak bonyok digebukin orang!

Ia semula beristrikan Maia Estianti, cucu langsung dari tokoh nasional HOS Tjokroaminoto. Seorang tokoh sosialisme Islam yang menjadi godfather para pemikir dan pendiri bangsa ini.

Kalau kita sedikit jeli, saat-saat terakhir dia di pengadilan dan akhirnya harus langsung ditahan di LP Cipinang. Pakaian jas berdasi dan berblangkon itu menjiplak habis pakaian yang dipopulerkan oleh HOS Tjokroaminoto. Pakaian yang menyiratkan kelas intelektual baru di kalangan Bumiputra. Sebuah kostum yang sebenarya acak adut, ya ada Barat-nya, ada lokal Jawanya, tapi juga menyiratkan karakter ke-Islaman.

Baratnya di jas dan dasi, Jawanya di blangkon, Islam-nya (kadang) dengan bersarung. Tapi kemudian dia malah memilih seorang janda penyanyi kafe, yang dikereknya naik habis-habisan. Mentelantarkan dan mengusir pergi istrinya yang tak sekedar ayu, anggun, tapi berdarah biru. Yang dulunya konon dinikahinya untuk bisa mengangkat harkat dan derajatnya. Apa yang dalam tradisi Jawa disebut sebagai tuku (membeli) bobot-bibit lan bebet-nya....

Dan bila masih ada yang membela, bahwa ia dikriminalisasi oleh rezim yang berkuasa dengan bla bla ba.... Mudah diduga, kalau tidak ia pendukung Prabowo, yang barangkali tidak bisa membedakan auman harimau dan suara bebek itu. Tentu mereka tidaklah terlalu mengenal sosok super-keminthi ini.

Sedemikian merendahkan semua reputasi musikalnya, jutaan keping kaset yang memberi double atau malah triple platinum itu, hanya sekedar ingin jadi cawabup di Bekasi.

Ia telah terlibat ratusan kasus, dan saya pikir sebagian besar duitnya habis hanya untuk bayar pengacara. Untuk mengurus konfliknya dengan anggota band-nya sendiri, percerian dengan istrinya, berseteru dengan orang sejenis Farhat Abbas, bahkan ketika ia merendahkan warga kota kelahirannya sendiri.

Dan dasarnya cuma satu: dunia entertainment sangat butuh figur seperti dia dunia tak rame, tanpa Ahmad Dhani!

Apa yang bisa kita bisa pelajari dari dirinya. Ia adalah contoh ketika mengambil pilihan teman yang salah.

Bagi figur seperti dia: tak kan lari bui dikejar, hilang arogansi dipenjaralah ia....

***