Cerita Lady Evelyn dan "Hijrah" Dee Lestari

Menjadi Budhis tidak otomatis menjadi tenang dan damai, seperti yang dibayangkan sebelumnya.

Sabtu, 18 Juni 2022 | 11:38 WIB
0
37
Cerita Lady Evelyn dan "Hijrah" Dee Lestari
Dee Lestari (Foto: Facebook.com)

Saya termasuk yang tidak terlalu tertarik membahas pesohor yang pindah agama. Alasannya, setiap orang punya riwayat perjalanan spiritualnya sendiri. Siapa saja berhak menentukan jalan menuju Tuhan yang diyakininya, untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan spiritual masing masing. 

Dalam praktik kewartawanan, saya malas menulis orang yang pindah agama. Bagi saya, semua agama sama saja. Sama sama jalan menuju Tuhan. Selama ini orang beragama karena keturunan, keyakinan, jodoh dan perjalanan spiritual masing masing.  

Bagi saya, agama itu sama dengan HP; banyak merknya, tapi sama sama alat untuk komunikasi. Dan sama dengan kendaraan yang beda bentuk dan pabriknya, tapi fungsinya sama sama; membawa pengemudi dan penumpangnya ke tujuan. 

Saya juga tidak tertarik pindah agama, meski sering dikecewakan oleh praktik praktik keagamaan yang ekstrim, ketinggalan zaman dan menyimpang dari nilai nilai dan moralitas kekinian yang saya yakini dan saya dapat dari bacaan, referensi, perenungan dan pengalaman sendiri. 

Mbah Cocomeo alias J. Erwiyantoro, dedengkot Kandang Ayam menegaskan, agama itu sepenuhnya ciptaan manusia. Bisa bisanya yang bikin aja. Tuhan sendiri tidak menciptakan agama. 

Tuhan boleh jadi menciptakan semesta, planet bumi dan seisinya – dan boleh jadi Tuhan hanya sistem, yang mengatur semesta. Yang terakhir ini pernyataan dari saya. Sesekali saya berdoa juga. Mencari peneguhan alias afirmasi 

Menjelang acara Tahlilan dan Yasinan setahun meninggalnya Neta S. Pane, di markas Kandang Ayam Rawa Mangun, kemarin, di bagian dapur Kandang Ayam, rekan jurnalis Gunawan Wibosono mengisahkan bangsawan Inggris yang hijrah ke Islam. Dia mengisahkan sebagai penulis kisah kisah sejarah Eropa, yang selama ini menekuni topik dan serba serbi Perang Dunia. 

Pada tahun 1930-an, ketika informasi belum secanggih sekarang, kata Gun, ada seorang bangsawan yang tinggal di perbatasan Inggris Skotlandia, memutuskan hijrah dan pergi haji.  

Lantaran dia bangsawan, dia bisa menghubungi langsung Raja Arab dan dia mendapat penyambutan untuk ritual puncak dalam kewajibannya sebagai muslim itu. Saat pergi haji dia sudah 65 tahun.

Bangsawan perempuan itu sudah meninggal pada Januari 1963 pada musim dingin yang lebih dingin dari biasanya dan dikubur di lereng bukit terpencil di perkebunan Glencarron miliknya. Makamnya kini jadi tempat ziarah bagi umat muslim Eropa, hampir 60 tahun kemudian.

Lady Evelyn menghabiskan masa kecilnya di Skotlandia dan Afrika Utara. Di benua tua itu, ia pertama kali mengenal Islam, berkunjung ke masjid bersama kawan-kawannya dari Aljazair. "Tanpa disadari, dalam hati saya sudah sedikit Muslim," tulisnya di kemudian hari.

Tidak ada yang tahu pasti kapan perempuan Inggris itu mulai memeluk Islam. Namun pertemuan kebetulan dengan Paus saat ia berkunjung ke Roma tampaknya menguatkan keyakinannya, BBC menulis. 

"Ketika Yang Mulia tiba-tiba berbicara kepada saya dengan bertanya apakah saya seorang Katolik, saya terkejut sejenak kemudian menjawab bahwa saya Muslim," ujarnya. "Entah apa yang merasuki saya, saya sama sekali tidak tahu karena saya sudah bertahun-tahun tidak memikirkan Islam."

Di Timur Tengah, Lady Evelyn dikenal dengan nama Lady Zainab oleh kawan-kawan Arabnya. Ia punya akses luas dan pernah menulis tentang "pengaruh dominan perempuan di budaya Muslim".

Gunawan Wibosono mengakhiri kisahnya dengan menyatakan, keterpanggilan seseorang untuk pindah atau ganti agama, mendalami agama yang berbeda dengan leluhurnya adalah pengalaman spiritual dan pribadi orang lain dan itu adalah haknya. 

Mendapat hidayah atau panggilan adalah misteri Tuhan. 

Meski kurang tertarik, tokh saya tetap tergoda ketika mendengar kabar bahwa penulis dan novelis Dewi ‘Dee’ Lestari telah “hijrah” ke Buddha, dimana orangtuanya merupakan penganut Kristen taat, bahkan tokoh di gereja.  

Tentulah prosesnya melalui perjalanan spiritual yang panjang.

Dee yang sebelumnya dikenal sebagai penulis lagu dan penyanyi trio RSD (Rida, Sita, Dewi, 1995-2003) mengungkapkan saat berbagi kisah dalam kanal YouTube Daniel Mananta beberapa waktu lalu. 

Saat remaja, pemilik nama Dewi Lestari Simangunsong ini mempertanyakan mengapa harus menjalani Sekolah Minggu. “Sekolah sampai Sabtu kan? Minggu cuma satu-satunya kesempatan gue libur, bertahun-tahun gue selalu tanya kaya ‘Why, gue harus sekolah Minggu?” kata pesohor 46 tahun ini. 

Sampai akhirnya, penulis kelahiran Bandung, 20 Januari 1976 yang karya karyanya difilmkan dan diterjemahkan ke sejumlah bahasa asing, merasa tak memerlukan agama. 

Namun saat tak memeluk agama mana pun, mantan istri penyanyi Marcel Siahaan tersebut merasa ada yang hilang dalam hidupnya, yaitu kebutuhan untuk memiliki sebuah ritual. Saat itu, untuk menghormati keberadaan Tuhan, ia memilih untuk melakukan meditasi dan yoga. Ia kemudian mencari ajaran agama yang paling dekat dengan hal tersebut. 

Dee, yang menelorkan banyak novel laris; "Supernova", "Perahu Kertas", "Madre", "Filosofi Kopi", "Rapi Jali"", merasa tertarik dengan seni meditasi itu Dari lima agama yang ada, Dee merasa yang paling sering berbicara tentang meditasi atau mendalami meditasi adalah Budhisme, ucapnya.

Dia mengungkap pengalaman menarik saat mengunjungi vihara di Lembang, Bandung. Saat itu ia menyampaikan niatnya untuk memeluk agama Buddha kepada salah satu biksu.

"'Mau jadi Buddhis? Saya rasa kamu pikir-pikir dulu. Jadi orang baik aja. Nggak usah kok jadi Buddhis. Direnungkan saja dulu, kalau mantap datang lagi',” sambut Biksu di sana.

Alih-alih kecewa atas tanggapan Biksu, Dee justru memantapkan niatnya.  

Setelah melalui suatu prosesi yang bernama "upasaka upasika", Dewi Lestari akhirnya resmi memeluk agama Buddha. Selain itu dia juga mendapat nama baru.

"Kemudian gue dapat nama Siri Candhani sebagai nama Buddhis gue. Ya, sudah, sejak itu gue jalani dan akhirnya, kayak anak gue sekarang, ketika dia masuk sekolah, ya, sudah, jadi Buddhis,” kata istri Reza Gunawan ini.

Menjadi Budhis tidak otomatis menjadi tenang dan damai, seperti yang dibayangkan sebelumnya. Masa masa sulit masih dialami Dee Lestari, “bahkan dengan kenyataan sudah sampai selevel ini, dengan pengetahuan sebanyak ini, masih mengalami hal ini. Saya sempat mempertanyakan, “ akuinya. 

Bagian menarik dari obrolan Dee Lestari dengan Daniel Mananta adalah semua agama mengingatkan bahaya minum alkohol, bahaya mabuk.   

Namun, ironinya adalah mabuk yang paling berbahaya - dan harus dihindari - justru mabuk agama.

 ***