Umbu Landu Paranggi

Umbu Wulang Landu Paranggi (10 Agustus 1943 – 6 April 2021), yang subuh tadi meninggal dunia. Sang Pangeran Sumba. Presiden Malioboro. Mahaguru kehidupan.

Selasa, 6 April 2021 | 07:22 WIB
0
21
Umbu Landu Paranggi
Lukisan Umbu Landu Paranggi (Foto: Facebook/Sunardian Wirodono)

Semalam, dalam ndremimil waktu yang kutuliskan di sini, aku ragu untuk menyebutkan namamu. Lelaki yang membayangiku dan menanyai apa yang kucari, di depan Vredenburgh.

Karena rasanya tak pantas, dan memang juga bukan. Bahkan untuk sekedar menyamakan, atau mengandaikannya sebagai Bambang Ekalaya. Lagian engkau juga bukan Pandita Dorna, wahai Umbu Landu Paranggi. Bertemu pun tidak. Tidak pernah.

Walaupun engkau masih di Yogya, dan dengan celana pendek, malam-malam aku berhenti di Perpustakaan Negara, yang berdampingan dengan kantor PLPY, Pelopor Yogya. Membacai lembar Sabana, dan kemudian mendengarkan cerita-cerita tentangmu.

Dari Mas Linus Suryadi AG (alm., penyair Pengakuan Pariyem), aku banyak mendengar cerita. Juga dari Mas Ragil Suwarno Pragolapati (alm., sohib Umbu). Hingga kemudian kuberanikan menulis artikel, “Wawancara Imajiner dengan Umbu Landu Paranggi.” Dan dimuat di lembaran itu. Aku lupa tahun berapa, mungkin 80-an.

Waktu itu, redakturnya Mas Teguh Ranusastra Asmara (alm., salah satu sohib Umbu), kakak lain ibu dari Mas Iman Budi Santosa (alm., juga sohib dan murid Umbu). Mas Teguh dalam pengantarnya menuliskan bahwa aku adalah salah satu murid Umbu Landu Paranggi. Padal, mohon ampun, sungguh tidak.

Waktu aku berkirim artikel itu, Umbu sudah ke Bali. Dan aku baru pertama kali menyambangi kamar tidur Umbu di Malioboro 175 Atas, ketika beliaunya sudah hengkang dari Yogya.

Betapa menggetarkan. Sebuah ruangan gelap penuh dengan tumpukan koran. Di mana dulu kehidupan seolah di balik, dimulai dari senja hari hingga subuh. Baru kemudian ke peraduan ketika matari muncul, hingga kembali matari tenggelam.

Aku mengetahuinya ketika sering dolan ke Perpustakaan Negara, yang berdampingan dengan kantornya itu. Waktu itu, aku satu-satunya pengunjung perpustakaan dengan celana pendek, karena selebihnya perpustakaan itu lebih banyak dikunjungi mahasiswa.

Tapi, bagaimana pun, terimakasih Ulanpar, Umbu Wulang Landu Paranggi (10 Agustus 1943 – 6 April 2021), yang subuh tadi meninggal dunia. Sang Pangeran Sumba. Presiden Malioboro. Mahaguru kehidupan.

Karenanya, ketika duluuu pernah dibaptis menjadi penyair, dalam kumpulan sajak ‘Lanskap Kota’ (1980), aku menuliskannya sebagai penghormatan; 

MALIOBORO 175 ATAS

-Ulanpar

Dalam pengap lorongmu

ada tanya tak terjawab

puisi-puisi menjaring angin lalu-lalang

puisi-puisi menjerat kuda jalang

nyanyian padang petualang

Bagalo! Laki-laki pengembara

bakar dan gulingkan ranjang

berjagalah di batas langit tuhan

tikamkan belati pada dada-dada hampa

tikamkan belati pada dada-dada hampa

***

1979