In Memoriam Mas Djaduk

Statusnya yang selain dari pemusik, penata musik, juga produser dan pemilik studo rekaman. Juga masih jadi sutradara teater, aktor, dan bahkan tour leader.

Kamis, 14 November 2019 | 00:05 WIB
0
93
In Memoriam Mas Djaduk
Djaduk Ferianto (Foto: Facebook/Andi Setiono Mangoenprasodjo)

Kami terhubung sebagai kakak kelas dan adik kelas di Marsudirini. Sebuah perguruan yang punya nama Katolik SD Materdei, yang belakangan baru saya tahu artinya Maria Bunda Allah. Kami sering nongkrong di depan kantin yang ada di aula sekolah, duduk-duduk di atas gulungan babud. Babud itu matras untuk gulung-gulung latihan senam yang terbuat dari sabut kelapa yang dianyam sangat lebar dan cukup tebal.

Dia bagi saya adalah seorang big boss, yang selalu "njanjakne", mentraktir saya jajan pas jam istirahat. Sebagai anak seorang seniman kondang, tentu saja sangu-nya selalu banyak. Entah kenapa, saya kok yang selalu dijajakne. Hanya sekedar es kelapa atau sebungkus bakmi yang kala itu harganya Rp5, sekira tahun 1977, sangu Rp25 itu sudah mewah banget.

Entah bagaimana ceritanya, kebetulan saya sekelas (sebangku lagi) dengan Petra yang kelak menjadi istri Mas Djaduk. Petra di luar anak yang berprestasi secara akademis, memang sejak muda dikenal memiliki suara emas. Mereka dipertemukan belasan tahun kemudian, ketika menjadi anggota kontingen seni saat melawat ke Korea Selatan.

Saya bertemu lagi, secara tak sengaja saat pertunjukan Gandrik di Teater Arena TIM Jakarta, sekira awal tahun 1990-an. Niat saya sesungguhnya menemui Mbah Kartono, sebagai sesama orang Jagalan Beji yang kenal saya sejak bayi. Mbah Kartono sendiri adalah teman sekaligus "musuh bebuyutan" dari Mbah Kakung saya.

Walau sama-sama meminati seni, Mbah Kakung saya yang dulunya penampung S. Bagio, saat pertama kali hijrah dari Banyumas ke Jogja. Namun secara popularitas kalah moncer dari Mbah Kartono (alm). Yang setelah aktif di Teater Jeprik-nya Mas Noor WA, kemudian turut diangkut oleh anak ideologisnya yang kemudian mencomot gaya sampakannya: Teater Gandrik.

Pertemuan segitiga itulah, yang belakangan membuat Mas Djaduk selalu menyebut saya sebagai "Cah mBeji". Kampung yang selalu saya anggap model komunitas warga dengan fasilitas seni budaya yang nyaris sempurna pada masanya.

Di kampung ini pernah ada Kantor Harian Bernas, ada percetakan Liberty, punya radio Rasia Lima, punya bioskop Permata. Grup teater, ketoprak, keroncong, seriosa, apa pun ada berikut tokoh-tokoh besarnya. Sedikit menghapus stigma buruk, bahwa sebelum tahun 1965, kampung kami jadi sarang dan kantor partai paria yang bernama PKI.

Dalam konteks kerja-budaya, saya bertemu lagi dengan mas Djaduk saat diajak mas Linus Suryad AG, menyelenggarakan acara "Pak Kayam Pamit Pensiun" di tahun 1997. Tentu saja, ia menjadi penata musik dengan ikon Kursi Goyang-nya Pak Ageng. Saya sering berpikir bahwa dari event inilah, kakaknya Butet Kertaredjasa mulai merintis karir sebagai pembaca monolog, sehingga hingga hari ini statusnya sebagai raja yang tak tergoyahkan. Setelahnya saya hanya menjadi penonton bagi pertunjukan karya-karyanya.

Apakah itu dalam wadah grup musik Sinten Remen, Kuaetnika, atau event tahunan yang diinisiasinya seperti Ngayogyajazz atau Kerocongan Kotagede. Walau setahu saya, ia memiliki gelar RM (Raden Mas) sebagai keluarga yang masih terhitung cicit dari Sri Sultan HB kesekian (saya lupa, mungkin ke tujuh).

Namun belakangan, dia sudah jadi Raden Ngabehi (R.Ng), karena beragamnya pekerjaan yang dilakukannya. Statusnya yang selain dari pemusik, penata musik, juga produser dan pemilik studo rekaman. Juga masih jadi sutradara teater, aktor, dan bahkan tour leader. Sehingga walau sudah cukup lama didiagnosa sakit jantung, ia mengabaikannya. Hingga serangan mendadak semalam, membuatnya harus berhenti.

Wis mas sugeng tindak, sesuk yen ketemu nang swarga. Sebagai senior tanggungjawabmu njajakne meneh....

***