Tunggu di Sana Ya, Bir!

Dunia selalu dihiasi oleh kematian yang indah. Bagi saya, Bir telah menjalani kehidupan yang indah. Ia kukuh berdiri di atas keyakinannya.

Sabtu, 15 Mei 2021 | 14:52 WIB
0
33
Tunggu di Sana Ya, Bir!
Birgaldo Sinaga (Foto: istimewa)

Buka FB, saya dikagetkan dengan sebuah berita: Birgaldo Sinaga pergi mendahului. 

Dua minggu ini dia memang mengabarkan terserang Covid19. Terakhir kami masih bertukar kabar via WA sebelum ia berangkat ke RS. 

Lima atau empat bulan lalu, Birgaldo ke Jakarta. Sayangnya, kami gak sempat bertemu. Padahal sudah nyusun janji. Kesibukan masing-masing membuat kita susah cari waktu. 

Perjumpaan pertama dengan Birgaldo, saya ingat di sebuah kafe di pusat perbelanjaan sekitar 2016. Kami merasa sudah saling kenal meski belum pernah bertemu. Saya penikmat tulisannya di FB. Begitupun sebaliknya. 

Di situ juga saya pertama bertemu dengan Denny Siregar. "Lu kalau nulis gak langsung nembak. Cuma nyentil," komentar Denny waktu itu atas tulisan-tukisanku di FB. Gue cuma nyengir. 

Selanjutnya momen ketika kami (Saya, Denny, Bir, Permadi dan Mbok Niluh) sempat bertemu langsung. Keempat orang di sekeliling saya ini punya karakter yang sama-sama kuat. Saya menikmati momen itu. Saya seperti terdongkrak oleh kuatnya karakter mereka. 

Yang bisa saya lakukan hanyalah mengisinya dengan guyonan. Sekadar mencairkan suasana. 

Kami punya keresahan yang sama tentang Indonesia. Ketika paham intoleran merajalela merusak kehidupan. Kami melawannya. Dengan segala resikonya. 

Melalui tulisan-tulisan di FB perlawanan itu kami lakukan. Sebisa-bisanya. Sehormat-hormatnya. 

Momen Pilkada Jakarta makin mengukuhkan sikap kami. Indonesia telah dirusak oleh gerombolan pengasong agama. 

Saya ingat, saat Bir menggelar demonstrasi di Ragunan tempat persidangan Ahok. Ia kontak saya. Minta saya mengisi panggung orasi saat itu. Denny juga ikut berorasi. Suasana panas. Sebab saat bersamaan gerombolan berjubah putih juga menggelar demonstrasi. 

Untung saja aparat membatasi dua kelompok masa dengan pagar berduri. 

Bir memang pejuang yang ulet. Ia berjuang bukan hanya via tulisan dan opini. Ia juga turun ke jalan. Mengorganisir masa. Melakukan advokasi langsung. Sesuatu yang belum tentu bisa saya lakukan. 

Ia punya perhatian besar pada anak-anak korban terorisme. Ia sering menceritakannya di halaman Facebook tentang perjalanan Triniti, anak perempuan yang harus mengalami trauma panjang karena terkena bom. Bir mendampingi Trinity sampai ke China ketika bocah kecil itu harus melakukan operasi penting. 

Terakhir Bir memposting Trinity yang sedang memakai gaun balet. Bir mendampingi Trinity seperti ia mendampingi anaknya sendiri. 

Kamu sadar apa yang kami lakukan juga beresiko buat orang-orang di sekitar kami. Ancaman dan persekusi selalu menghantui kami. Karena itu, di antara kami seperti ada kesepakatan tidak tertulis. Kami jarang menginformasikan kehidupan pribadi di halaman FB. Melindungi keluarga dari resiko aktifitas kami. 

Karena itu, saya gak banyak tahu kehidupan pribadi masing-masing. Sampai sekarang. Yan saya tahu, Bir berbasis di Batam. Denny di Surabaya. Niluh di Bali. Saya dan Permadi di Jakarta. Itu saja. 

Pagi ini saya tercekat. Berita kepergian Birgaldo menghiasi medsos. Sejak pagi saya gak sanggup memposting tulisan. Saya hanya membuka-buka halaman FB Birgaldo. Mengenang perjalanan bersamanya. 

Dunia selalu dihiasi oleh kematian yang indah. Bagi saya, Bir telah menjalani kehidupan yang indah. Ia kukuh berdiri di atas keyakinannya. Sebuah kehidupan yang terus menerjang badai. Bir adalah salah satu inspirasi saya untuk terus bersuara. 

Bir kini telah pergi. Jauh di Batam, seperti menitipkan salam buat kita semua. Bagaimana cara mencintai Indonesia dengan hati yang penuh. 

Broh, terimakasih telah mengisi semangat buat kami. Pergilah dengan damai. Tunggu kami. Suatu saat kita akan berjumpa lagi. Dengan candaan yang gak pernah kering. 

Do'akan kami yang masih harus bergumul dengan persoalan-peraoalan kecil disini. Hari ini. Sementara lu, betapa egoisnya. Sudah berangkat lebih dulu menikmati keindahan di alam yang lain. Meninggalkan kami yang masih ngungun di sini. 

Seperti yang selalu kita bicarakan broh. Agama lu sama gue beda. Tapi kita selalu sepakat, kita akan kembali pada Tuhan yang satu. Tuhan yang kita tidak pernah tahu apa agamanya. 

Salam hormat broh. Salam. Jika gue kangen ngobrol sama lu. Gue akan buka halaman FB lu. Kita masih bisa becanda lagi disana.

Eko Kuntadhi

***