Mengapa Ia Ingin Dipanggil BTP Saja?

Senin, 4 Februari 2019 | 08:53 WIB
1
632
Mengapa Ia Ingin Dipanggil BTP Saja?
BTP (Foto: Facebook/Andi Setiono Mangoenprasodjo)

Dua malam lalu saya mengajak istri saya menonton The Glass, sebuah film psiko-thriller yang merupakan bagian akhir dari sebuah trilogi. Saya sungguh tidak tahu apakah film ini sejak mula ingin dijadikan trilogi, atau baru kemudian saja. Hollywood memang paling bisa mereka-reka kreativitas dan otaknya, hanya demi bisnis dan kesenangan penontonnya semata.

Bila melihat Unbreakable direlease tahun 2000, lalu baru 16 tahun kemudian Split muncul. Dan Terakhir Glass pada Januari 2018 ini. Ini sebuah cerita tentang tiga orang "super heroes", tidak tepat benar sih disebut demikian. Disebut mutant pun tidak tepat, mungkin lebih pada "orang beruntung yang tidak beruntung". Karena dengan kekuatan super-nya, di akhir cerita ketiganya akhirnya mati juga.

Kematian yang ditunggui dan disaksikan oleh masing-masing orang yang sangat mencintainya, Elijah dengan ibunya, Danny dengan anak laki-lakinya, dan Kevin oleh gadis yang pernah diculiknya. Figur sentral dalam film ini tentu saja, Kevin dengan 20 kepribadian gandanya: mulai dari Patricia Jade, Orwell, Barry, Patricia Ann and Mary Reynolds, Dennis, Norma (a Southern woman), Luke, and Mr. Pritchard.

Dengan pemisah terjauh bila ia kembali menjadi Hedwig, anak kecil berusia 9 tahun sebagai kepribadiannya yang paling murni dan saat ia menjadi Monster ketika ia mencapai puncak keperkasaan sekaligus kekejamannya. Dan apa benang merah dari semua karakter itu? Cahaya! Ya mungkin kata itu yang paling sering disebut untuk menggambarkan perpindahan antar karakter Kevin Wendel Crumb!

Basuki Tjahaja Purnama, tokoh yang saya pikir sejenis "super hero" dalam wujud yang lain dibebaskan setelah ditahan selama 18 bulan. Beberapa saat sebelum ia benar-benar keluar dari penjara. Ia memberi isyarat dan pesan kepada masyarakat untuk tidak lagi dipanggil Ahok? Sejelek apa sehingga nama itu disishkan. Sama sekali tidak ada!

Sebagaimana tradisi Tionghoa, setiap anak akan diberi nama panggilan oleh ayahnya. Bukan tanpa makna tentu saja, Ahok salah satunya. ia berasal dari kata Banhok. Ban artinya puluhan ribu. Orang Jawa kampung seperti saya dalam pergaulan sehari-hari, yang sok ikut-ikutan gaya Singkek Ketandan, menyebut sepuluh ribu ceban, dua puluh ribu noban, lima puluh ribu goban. Sedang "hok" itu belajar. Jadi harapan ayahnya, ia ingin anaknya ribuan kali belajar agar lebih beruntung dari ayahnya.

Mungkin selalu ingat orang beruntung itu lebih tinggi derajatnya dari orang orang pintar (sic!). Tapi dengan berkelakar, Ahok juga dianggap sebagai akronim "Aku Harapan Anak Kampung".

Bila sekali lagi flash-back mengingat film Ahok yang tahun lalu diputar. Ternyata sekali bagaimana kedermawanan dan solidaritas sosial yang dimiliki keluarga Ahok. Sebuah keluarga Tiongoa yang sangat dihormati di kampungnya di Belitung sana. Sebuah keluarga yang memilih jatuh bangkrut, daripada membiarkan tetangganya kelaparan atau jatuh sakit. Saya tidak tahu seberapa "fiksi"-nyakah itu?

Tapi sekali lagi kalau ingat karakter ayah Ahok itu dimainkan Denny Sumargo, saya masih merasa itu setengah fiksi. Hehehe...

Lalu kenapa ia ingin dipanggil BTP saja!?

Saya semalaman berpikir kenapa begitu ya? Sampai tiba-tiba Hari Prast, mempublish ilustrasi siluet wajah Ahok dalam sinar bulan purnama. Saya selalu bilang pada teman-teman saya, kalau Prabowo ingin menang pertama-tama bajaklah dulu ilustrator paling yahud sak-Endonesah ini. Kalau mereka mampu!

Yang saya yakin sih, dianya yang tidak bakal mau.

Dulu Maladi mencipta sebuah lagu keroncong syahdu berjudul "Di Bawah Sinar Bulan Purnama". Di banyak situs, lagu ini sering ditulis sebagai karangan Sundari Sukotjo. Sedemikian dongoknya orang saat ini, gak bisa membedakan penyanyi, pengaransemen, dan pencipta lagu. Lagu yang sangat sering dikutip dalam kampanye atau orasi hanya untuk menunjukkan bahwa dalam kegelapan, masih selalu ada harapan.

Kegelapan yang bisa dipahami sebagai apa saja yang bermakna kemuraman, kemiskinan, kebingungan, keputus-asaan. Apa saja... Seorang teman, yang sedemikian membenci Ahok pernah berseloroh pada saya: "Tuh lihat siapa yang kamu dukung. Sudah dipenjara, ditinggal selingkuh istrinya. Hukuman apa lagi yang kurang menghinakan dia".

Saya tentu saja hanya tertawa, alih-alih membalas untuk beradu argumentasi dengannya. Dan betul Gusti ora sare. Waktu yang sedemikian pendek itu, menunjukkan satu-satu persatu para penghina, para pencaci, para penghukum: satu persatu tumbang oleh irama alam.

Alam itu adil sekali, ia bergerak dengan irama-nya sendiri. Dan dalam konteks inilah, Ahok kembali menyelaraskan dirinya dengan irama itu. Ia bahkan ingin mengembalikan lagi namanya seirama dengan alam. Ia ingin menjadi basuki (kebahagiaan), dalam bentuk cahaya, yang bersinar sebagai sebuah purnama.

Orang Jawa tradisional seperti saya ini, berharap ia menjadi purnamasidi. Bulan yang bersinar terang, sejuk tapi hangat. Apa yang disenandungkan Maladi sebagai:

Di bawah sinar bulan purnama/
Hati susah jadi senang/
Si miskin pun yang hidup sengsara/
Semalam itu bersuka/

Sugeng rawuh Pak BTP, welcome back! Kawinlah dulu, bersenang-senanglah dulu. Berpolitiklah (lagi) kemudian....

***