Tokoh Feminisme Pertama Dunia Ternyata dari Aceh

Banggalah sebuah negeri. Di abad ke 16, negeri itu, Indonesia, Aceh, sudah melahirkan perempuan kelas dunia.

Jumat, 22 April 2022 | 19:04 WIB
0
46
Tokoh Feminisme Pertama Dunia Ternyata dari  Aceh
Malahayati (Foto: kompas.com)

Malahayati (1550-1615).

Sebagian dari kita mengenalnya sekilas. Tapi jauh lebih banyak lagi yang belum mengenalnya sama sekali. 

Menyelami perannya di zaman itu, dapat kita katakan dengan argumen dan data yang kuat. 

Bahwa Feminis pertama di dunia itu bukan dari Eropa. Ia bukan pula dari Amerika Serikat. Feminis pertama di dunia ternyata dari Indonesia. Tepatnya, ia dari Aceh!

Namanya Malahayati. Ia hidup di tahun 1550 sampai 1615. Ia juga merupakan laksamana (panglima angkatan laut) perempuan pertama di dunia. (1)

Di abad ke 16 itu, Malahayati sudah berperan penting di ruang publik. Dia bukan hanya menjadi laksamana, tapi juga menggerakkan kaumnya, kaum perempuan, untuk berperan serta di sana. 

Menggerakkan kaum wanita di ruang publik sudah Malahayati kerjakan 230 tahun sebelum konvensi perempuan pertama di dunia yang digelar di Amerika Serikat.

Kita tahu bahwa dalam sejarah, first women right convention atau perjumpaan pertama kaum perempuan menyatakan hak-hak kaum perempuan. Perjumpaan itu pertama kali di dunia terjadi di tahun 1848 di Amerika Serikat. (2)

Sedangkan Malahayati sudah memimpin dan menggerakkan kaum wanita 230 tahun sebelum itu. Sekitar 230 tahun sebelum para wanita menyatakan pentingnya peran sosial, Malahayati sudah lebih dulu mengambil peran sosial itu. 

Ia tidak hanya ikut berperang, tetapi juga menjadi pemimpin militer yang signifikan efeknya bagi masyarakat.

Memang benar kalau kita membaca Simone de Beauvoir, seorang feminis dari Perancis, Ia menyatakan feminis yang pertama adalah Christine de Pizan. Christine hidup sekitar tahun 1364-1430. Berarti 200 tahun sebelum Malahayati. 

Tapi Christine de Pizan adalah penulis. Ia hanya menuliskan konsep mengenai pentingnya perempuan sebagai kelompok untuk menyadari perannya, tidak hanya di rumah tangga, tapi juga di dunia sosial. 

Christine de Pizan memang menyatakan itu, namun adalah Malahayati yang menjadi tokoh yang benar-benar mengambil peran sosial itu.

Malahayati yang menjadi tokoh pertama menggerakkan para wanita di ruang publik, bahkan memimpin peperangan, menjadi laksamana perempuan yang pertama pula.

Mari kita lihat apa yang dilakukan oleh Malahayati. Pada abad ke-16, Malahayati sudah berperang melawan Portugis. 

Ia pun menggerakkan para wanita yang disebut dengan Inong Balee. Ini nama untuk para janda yang para suami mereka sudah terlebih dahulu menjadi korban perang. (3)

Pada saat itu memang perang terjadi di berbagai waktu.

Kemudian oleh Malahayati, para janda ini diberikan pelatihan, diberikan semangat, diberikan perspektif.

Malahayati mengubah mereka menjadi satu unit pasukan untuk juga ikut bertarung dan berperang demi membela wilayah Kerajaan Aceh. Malahayati menggerakkan secara riel di lapangan, kaumnya, para wanita untuk mengambil peran sosial.

Malahayati pun bersekolah militer di tahun sebelum 1650. Itu berarti 250 tahun sebelum RA Kartini menyatakan perlunya perempuan bersekolah. 

Malahayati sendiri bersekolah di Aceh Royal Military Academy atau dalam bahasa Islamnya dikenal sebagai Ma'had Baitul Maqdis. 

Kartini di tahun 1900 menyatakan bahwa perempuan harus bersekolah. Namun 250 tahun sebelumnya, ada Malahayati yang sudah bersekolah. Bahkan bukan sekolah biasa, melainkan sekolah militer yang memberikan keterampilan militer.

Kisah Malahayati sudah menjadi novel yang ditulis oleh seorang novelis Belanda bernama Marie van Zeggelen. Sang penulis hidup pada tahun 1870-1957. 

Marie mengangkat kisah Malahayati dalam novelnya berjudul "Oude Glorie", kemuliaan masa lalu. 

Novel ini membuat Malahayati dikenal, bukan hanya di Belanda tapi juga di berbagai daratan China. 

Peran Malahayati dapat disejajarkab dengan Catherine the Great. Chaterine seorang perempuan di puncak kekuasaan yang dianggap luar biasa sekali perannya untuk menghidupkan Rusia. (4)

Catherine the Great ini hidup pada tahun 1762 hingga 1796. Di bawah kekuasannya, Rusia tumbuh lebih besar. Kebudayaan Rusia juga mengalami revitalisasi dan ia berhasil menumbuhkan Rusia menjadi satu dari the great powers in Europe. 

Chaterine membawa Rusia Tumbuh menjadi salah satu kekuatan besar di Eropa.

Karena peran Malahayati sejajar dengan Catherine the Great, kita bisa tahu betapa hebatnya Malahayati.

Malahayati, bukan hanya dihormati oleh pimpinan tentara pasukannya sendiri. Ia juga ditakuti oleh musuhnya di luar negeri. Ini terjadi karena reputasi militernya yang luar biasa. 

Ada beberapa hal yang membuat Malahayati dihormati. Pada tahun 1599, Malahayati mengalahkan dan menewaskan komando ekspedisi Belanda Cornelis de Houtman. 

Kita tahu saat itu, Belanda datang ke perairan Aceh dengan senjata yang jauh lebih modern dan dengan pengetahuan militer yang jauh lebih kokoh.

Namun kita juga mencatat di sini Malahayati berhasil mengalahkan mereka. Tidak tanggung-tanggung, bahkan komando ekspedisinya Cornelis de Houtman itu terbunuh oleh pasukan Malahayati.

Tidak hanya hebat dalam perang, sejarah juga mencatat Malahayati memimpin perundingan dengan Spanyol. 

Dalam berunding pun, Malahayati dianggap begitu kokohnya sehingga dalam perundingan itu dia berhasil memaksa Belanda untuk membayar denda 50 ribu gulden. 

Bukan besar atau kecil dendanya yang kita pentingkan. Namun ini hanya ilustrasi mengenai betapa dia bisa memenangkan perundingan dengan tokoh-tokoh dan para pelaku dari luar negeri yang saat itu bagian dari the great powers.

Berikutnya peristiwa di tahun 1602. Karena begitu hebatnya reputasi Malahayati dalam menjaga wilayah Aceh, bahkan Queen Elizabeth I berhati- hati. 

Ketika kapal Inggris harus melewati Selat Malaka, Elisabeth I tidak ingin terlibat dalam konflik kekerasan. Maka pasukan Inggris pun kemudian memilih jalur damai dan mengirimkan surat khusus kepada Malahayati yang diantarkan oleh James Lancaster.

Reputasi Malahayati pun bahkan sampai ke telinga Queen Elizabeth I. Pada waktu itu, Queen Elizabeth I dianggap sebagai ratu penguasa super power di zaman itu.

Di tahun 1615, Malahayati wafat dalam tugas. Ini pun membuat ia bertambah harum lagi. Bahkan dia menyerahkan nyawanya karena tugasnya sebagai laksamana. Tugas itu ia jalankan dengan sepenuh hati.

Malahayati pun rela pada akhirnya mati dalam peperangan.

Pada tahun 2017, Malahayati dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo.

Inilah secuplik kisah dari salah satu tokoh sejarah pahlawan wanita dari Aceh. Tidak banyak yang menduga bahwa Aceh menyimpan dan bahkan pernah melahirkan tokoh yang bahkan kalibernya dunia.

Kita tahu, di luar Malahayati itu juga begitu banyak tokoh-tokoh wanita lainnya di Indonesia yang punya peran begitu hebatnya. 

Namun jika tokoh-tokoh wanita itu berbaris, bisa kita katakan bahwa yang layak mendapatkan tempat paling depan, salah satunya adalah Malahayati. 

Itu karena Malahayati tokoh yang awal sekali berperan di dunia sosial. Sebagai tokoh perempuan, ia punya reputasi dan menonjol di era abad 16. Dan perannya diakui dunia.

Ketika itu, dunia sosial sangat didominasi oleh laki-laki. Namun Malahayati bisa tumbuh di sana dan menjadi pimpinan militer yang disegani.

Kisah Malahayati ini revisi dari orasi saya dalam Webinar Satupena bulan Maret 2022. Karena kuatnya isu dalam orasi itu, klaim feminisme pertama dunia dari Aceh, esai ini dijadikan pengantar buku.

Dalam buku ini juga dibahas aneka topik lain, karena ia merupakan kumpulan 38 orasi saya di berbagai kesempatan, dan beragam topik.

Banggalah sebuah negeri. Di abad ke 16, negeri itu, Indonesia, Aceh, sudah melahirkan perempuan kelas dunia.

***

CATATAN

1. Malahayati dari Aceh adalah laksamana, panglima angkatan laut perempuan pertama dalam sejarah

2. Konvensi kaum feminis pertama di dunia tahun 1848, sekitar 230 tahun lebih setelah wafatnya Malahayati

3. Inong Bale, pasukan janda yang dibentuk dan digerakkan Malahayati di abad ke 16

4. Beberapa sejarahwan mensejajarkan peran Malahayati dengan Chaterine the Great