O Tempora Mores! In Memoriam Jakob Oetama

Jakob memang salah satu orator ulung. Teknik retorikanya menarik. Repetisi, tekanan suara, lemah lembut, dan penguasaan pangggungnya luar biasa.

Kamis, 10 September 2020 | 00:38 WIB
0
152
O Tempora Mores! In Memoriam Jakob Oetama
Jakob Oetama (Foto: tribunnews.com)

Pak Jakob mengutip kata-kata Cicero ini ketika menyampaikan kuliah perdana di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), 8 September 2012. Itu adalah kata pembuka senator Cicero, ketika berdebat dengan Catilina. Lengkapnya sebagai berikut:

O tempora! O mores! Senatur haec intellegit, consul videt; hic tamen vivit. Vivit? Immo vero etiam in senatum venit, vit publici consili particeps, notat et designat oculis ad caedem unum quemque nostrum. Nos autem, fortes viri, satisfacere rei publicae videmur, si istius furorem ac tela vitamus. Ad mortem te, Catilina, duci iussu consulis iam pridem oportebat, in te conferri pestem, quam tu in nos machinaris.”

Hampir selalu menjadi Ketua saat Studium Generale, Pembukaan Tahun kuliah, dan Wisuda UMN, saya cukup intes bertemu dan bersama JO. Meski, sebelumnya, kerap juga ketika saya di Penerbitan. Tiap tahun, waktu presentasi, ditanyai beliau. Selalu membela kami, grup penerbitan buku pelajaran yang dinilainya "Penting, tapi perlu berjuang untuk untung."

Tahun 2007, saya dipindahtugaskan ke universitas, yang akan berdiri. Sebelumnya, seingat saya, telah menyatakan bersedia. Saya salah satu yang menandatangani kesetiaan jika nanti perguruan tinggi dibuka Kompas Gramedia. Waktu itu, di bedeng. Yang kini berdiri megah gedung Penerbitan, Jalan Palmerah Barat. Ada tabloid Citra di situ, saya kerap nyetor tulisan yang honornya lumayan.

Di sana pula, seingat saya, Mas Wendo diselundupkan --kantor Monitor-- di dalam sebuah mobil box ketika orang tak dikenal mencarinya. Iapun lolos tanpa dikenali.

Sebelumnya, kantor kami di basement gedung pusat Palmerah Selatan. Masih banyak gedung asli, khas Jawa. Kantor kami mirip bunker. Atasnya rumah tangga. Lalu pindah lagi, di atas koperasi karyawan, samping jalan, depan menara Kompas yang sekarang. Tadi petang (09.09.2020) saya masih melihatnya. Dan saya rindu!

Teddy Surianto, agaknya, ingat histori itu. Ia dirketur Penerbitan yang piawai. Membawahi unit-unit pendidikan, dan kami -PT Grasindo-- salah satu anak usaha yang diasuhnya. Ketika Jakarta masih lengang dan orang-orangnya ramah, tak seberingas sekarang. Dan saya pun menjadi dosen.

"Ini dulu di Grasindo, Pak," kembali Teddy Surianto, ketua Yayasan memperkenalkan.
"Ya, ya, saya ingat," katanya. "Penerbit pendidikan itu," sela JO.
Tanpa sengaja, kami ke kamar kecil. Saya lebih dulu. JO menyusul. Betapa kagetnya saya. Ia di samping.
"Bagaimana, Bung?" tanyanya.
"Baik, pak," jawab saya. Di KG, hanya JO disapa "Pak". Setinggi apa pun jabatan lain, Mas atau Mbak.

Jakob Oetama dan P.K. Ojong adalah pendiri Kompas Gramedia. Dwitunggal tokoh pers itu dikenal sebagai intelektual, sekaligus tokoh nasional.

Kesempatan emas saya bertemu beliau, sempat bincang-bincang ketika Pak Jakob, sebagai pendiri, berkunjung ke Universitas Multimedia Nusantara. Beliau mengatakan, media (khususnya media cetak) hari ini mengalami tantangan luar biasa. Bukan saja dari sisi content karena berjejalnya informasi di mana setiap orang senantiasa di-push informasi apa saja melalui multimedia, namun juga dari sisi ekonomi dan tuntutan zaman.

"Siapa yang tidak adaptif dan tidak mau berubah, akan mati. Exchange or die," begitu papar beliau.

Pada peresmian kampus UMN, 2 Desember 2009, saya berkesempatan bergambar bersama beliau. Di damping Viola Ojong, cucu pendiri KG yang lain P.K. Ojong, yang kini kuliah di UMN mengambil jurusan komunikasi, kami bergambar di lobi UMN, depan lift rektorat.

Viola saat itu salah satu dari 15 pasang mahasiswa yang mengenakan busana daerah, dalam rangka menyambut kedatangan Mendiknas, Muhamad Nuh. Busana yang dikenakan Viola menuansakan warna oriental.

"Ini cucu Ojong, sohib Bapak yang bersama-sama mendirikan Intisari dan Kompas," saya perkenalkan Viola pada Pak Jakob.
"Wah, hebat juga cucu pendiri KG sekolah di sini," ujar Jakob.
"Ya. Bahkan cucu Bapak juga dari Jogja ada di sini," sahut saya.

Dan kami pun ngobrol tentang masa lalu. Tentang visi misi Kompas Gramedia. Dan ihwal cita-cita para founding fahters mengenai pembangunan manusia Indonesia.

Dream comes true. Mimpi kini jadi nyata. Cita-cita para pendiri KG untuk terjun langsung dalam dunia pendidikan, kini kesampaian.

Pak Jakob siang hari 2/12-2009, usai makan siang, tampil di podium. Di atas panggung yang dirancang dengan memadukan modernitas dan budaya lokal hasil kreasi Dyandra itu, Pak Jakob memukau hadirin dengan orasi ilmiahnya. Mengangkat tema "The Rise and the Fall of the Media Industry in Indonesia", Jakob menyihir hadirin yang memenuhi function hall UMN.

Jakob memang salah satu orator ulung. Teknik retorikanya menarik. Repetisi, tekanan suara, lemah lembut, dan penguasaan pangggungnya luar biasa.

O tempora! O mores!

Ad mortem te, Catilina, duci iussu consulis iam pridem oportebat, in te conferri pestem, quam tu in nos machinaris.

***