Terpeleset

Sebagai eks wartawan Kompas selama 33 tahun, saya sangat tahu betapa di Indonesia hoax atau berita palsu itu sudah ada sejak lama.

Sabtu, 23 September 2023 | 13:20 WIB
0
241
Terpeleset
Prabowo Subianto (Foto: Facebook/James Luhulima)

Ada berita bahwa calon presiden, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, menampar dan mencekik Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi Berita itu pertama kali dimunculkan dalam Seword TV oleh Alifurrahman Asyari. Alif memang tidak menyebutkan nama Prabowo, ia hanya menyebut, ada calon presiden yang menampar wakil menteri. Namun, dari narasinya kita bisa menebak bahwa yang dimaksudkan dia adalah Prabowo.

Pada saat saya sedang mencerna apakah berita itu benar atau tidak… Muncul pula Rudi S Kamri lewat Kanal Anak Bangsa TV dan membahas hal yang sama. Bahkan, Rudi menambahkan Presiden Jokowi murka, semurka-murkanya, setelah mengetahui informasi itu. Itu belum semua. Rudi mengungkapkan, ia telah mengetahui informasi itu 10 hari sebelumnya. 

Tidak jelas siapa sumber berita bagi keduanya. Alif hanya menyebut, silakan cek ke katalogika. Sedangkan Rudi mengatakan, ia meng-cross check, lalu dia pendam. Akan tetapi, ia tidak menjelaskan kepada siapa ia meng-cross check berita itu. Hari ini, Rudi S Kamri meminta maaf telah menyebar berita bohong tersebut. 

Mengapa saya merasa perlu untuk mencerna kebenaran dari berita itu? Saya secara professional mengenal Prabowo, dan ia memang orang yang sangat temperamental dan meledak-ledak. Akan tetapi, selama ini, Prabowo hanya bersikap seperti itu di lingkungannya sendiri. Di pasukan, atau di Kementerian Pertahanan. Menampar, apalagi mencekik, orang di luar lingkungannya itu belum pernah terjadi. Itu sebabnya saya meragukan kebenaran berita itu.

Saya hari itu sempat melihat tayangan Rudi S Kamri tentang Prabowo menampar Wamen Pertanian, tetapi kemudian saya skip karena saya masih meragukan kebenaran dari berita itu. 

Dan, ternyata intuisi saya benar. Kejadian penamparan dan pencekikan itu tidak terjadi. Berita itu adalah hoax, atau berita palsu. Selain bantahan dari banyak pihak, termasuk Presiden Jokowi dan Prabowo sendiri, Wamen Pertanian Harvick Hasnul Qolbi sendiri bahkan tidak tercatat hadir dalam rapat kabinet di Istana itu.

Jokowi mengatakan, dalam situasi politik seperti saat ini banyak isu yang dimunculkan ke permukaan. "Tolong jika ada kabar-kabar seperti itu harus dicek kebenarannya." Ia dengan tertawa menambahkan, ”Pak Prabowo sekarang penyabar kok.” Sementara Prabowo mengatakan, ”Saya belum pernah bertemu Wamen Pertanian. Saya ketemunya selalu menterinya.”  

Terus terang saya kecewa dan sedih mengapa kedua pengamat itu tidak melakukan verifikasi sebelum memberikan komentar, padahal selama ini saya kerap melihat tayangan mereka dan mengaguminya. Terpeleset, itu mungkin kata yang tepat buat kedua orang itu. 

Sebagai eks wartawan Kompas selama 33 tahun, saya sangat tahu betapa di Indonesia hoax atau berita palsu itu sudah ada sejak lama. Saya ingat pada waktu saya ditemui oleh seorang personel intelijen muda dari Singapura pada akhir tahun 1990an. Dalam pertemuan itu, ia mengeluhkan betapa sulitnya melakukan tugasnya di Indonesia, terutama dalam mencari dan mengumpulkan fakta tentang suatu peristiwa tertentu yang terjadi. ”Sebagian besar orang akan mengatakan bahwa mereka tahu tentang peristiwa itu, dan mulai bercerita tentang peristiwa itu dengan versinya sendiri-sendiri, yang tidak jarang bertolak belakang. Seakan-akan jika menjawab mereka tidak tahu, itu merupakan aib bagi mereka,” ujarnya.

Menurut dia, jika ditanya siapa sumber berita mereka, mereka mengatakan sumbernya A satu, tanpa merasa perlu menjelaskan mengapa mereka bisa mengenal dan bertemu dengan sumber itu. Selain itu, kebanyakan orang Indonesia juga tidak biasa menyampaikan fakta telanjang (sebagaimana adanya). Jika ada orang yang berjalan sempoyongan, maka akan dikatakan orang itu mabuk. Padahal penyebab orang berjalan sempoyongan kan bisa macam-macam.

Saya juga ingat waktu kerusuhan terjadi di Jakarta dan sekitarnya, 12-15 Mei 1998, berbagai berita hoax bermunculan. Misalnya ada gerombolan orang yang bersiap-siap menyerang perumahan mereka untuk menjarah. Atau, menyebut kompleks pertokoan atau mall ini atau itu terbakar, atau dibakar, padahal kenyataannya tidak. Kabar itu menyebar dengan cepat lewat handphone. Pada masa itu, jejaring internet belum semaju saat ini sehingga penyebarannya tidak secepat dan semasif sekarang. Pada tanggal 12 Mei 1998 malam, Radio Sonora yang beroperasi 24 jam mengadakan siaran langsung dengan menerima telepon dari masyarakat yang melaporkan informasi tentang apa saja yang terjadi di sekitar mereka. 

Pada pukul 00.30, saya meninggalkan kantor. Di lantai lobi, banyak karyawan yang tidur di sana, mereka khawatir untuk pulang pada malam itu. Malam itu, di Jakarta dan sekitarnya terjadi penjarahan mana-mana, dan pada beberapa ruas jalan tertentu bahkan ada mobil-mobil yang dibakar. Banyak orang yang menginap di kantor, dan ada juga yang memarkir mobil di lajur darurat jalan tol, dan memilih tidur di mobil hingga pagi hari. Dengan berjalan hati-hati di antara orang-orang yang tidur di lantai, saya keluar pintu kantor menuju ke mobil. Turut bersama saya, wartawan Kompas, Atika Walujani Moedjiono, semula ia berniat menginap di kantor, tetapi karena tahu saya akan pulang ke rumah, ia ikut. Rumah kami berdekatan. Suaminya ikut dengan rekan saya mendahului dengan sepeda motor. Perjalanan dini hari itu sangat mencekam. Penjarahan terjadi mana-mana. Saya melewati Cirendeu dan Pondok Cabe, di depan toko serba ada Aneka Buana tampak orang-orang yang menjarah barang-barang berkerumun di sana. 

Dari jauh saya membunyikan klakson, orang-orang itu memberikan jalan, dan dengan kecepatan tinggi saya melewati mereka. Di sekitaran perempatan Gaplek, deket pusat pertokoan onderdil, ada beberapa mobil dibakar. Di dekat Bundaran Pamulang, banyak penjarah yang lalu lalang. Setelah menurunkan Atika di rumahnya, saya kembali perempatan Gaplek, rumah saya 1 km dari sana (ke arah Sawangan). Namun, saya mendengar ada pendengar Radio Sonora yang menelepon dan mengabarkan Cinere Mall (Plaza Cinere) dibakar massa. Saya tidak jadi pulang. Saya langsung meneruskan perjalanan ke Cinere Mall untuk melihat keadaannya. Ternyata hoax, Mall Cinere baik-baik saja. Saya langsung menghubungi Yos, rekan wartawan Radio Sonora, dan memberi tahu bahwa kabar Cinere Mall terbakar tidak benar. Saya lantas berpikir berapa banyak informasi dari pendengar Radio Sonora, yang dengarkan sepanjang perjalanan dari kantor ke rumah, yang tidak benar.

Verifikasi, atau pengecekan kembali sangat penting dilakukan, terutama di negara ini. Selalu saja ada orang yang menyatakan bahwa ia mengetahuinya dari sumber A satu, atau sumber yang terpercaya. Atau, ada saja orang yang menyatakan ikut berjuang melawan Belanda, ternyata setelah dicek pada masa itu umurnya baru 10 tahun.

***