Mengapa Masyarakat Punya Kebiasaan Antri Jelang Kenaikan Harga BBM?

Siapapun presidennya pasti akan menaikkan BBM kalau harga minyak dunia naik. Tanpa kecuali, sekalipun malaikat turun dari langit.

Minggu, 4 September 2022 | 13:32 WIB
0
52
Mengapa Masyarakat Punya Kebiasaan Antri Jelang Kenaikan Harga BBM?
Antri BBM (Foto: editor.id)

Harga Bahan bakar minyak atau BBM dinaikkan.

Presiden Jokowi yang mengumumkan kenaikan BBM tersebut dan berlaku 3 September 2022 jam 14:30.

Pengumuman kenaikan harga BBM ini berbeda dari biasanya. Selama ini kenaikan harga BBM berlaku tengah malam atau jam 12 malam.

Dan pada saat tengah malam aktivitas masyarakat dalam berkendara sangat sedikit, dibanding siang hari.

Sebenarnya kenaikan harga BBM sudah ditunggu-tunggu masyarakat, sampai pada mengantri mulai dari tanggal 1 September 2022.

Karena menyangka kenaikan harga BBM pada awal bulan September.

Setiap menjelang kenaikan harga BBM dari tahun ke tahun ada kebiasaan masyarakat kita mengantri untuk membeli BBM. Baik kendaraan bermotor roda dua atau kendaraan pribadi.

Hal ini menarik untuk dipelajari atau dikaji, mengapa masyarakat punya kebiasaan, rela antri setengah atau satu jam lebih hanya untuk membeli BBM menjelang harga dinaikkan?

Padahal negara kita tidak sedang dalam krisis BBM seperti Srilanka atau sedang konflik perang seperti Rusia vs Ukraina.

Masyarakat Srilanka rela mengantri BBM bukan dalam hitungan jam, namun hari. Bukan karena BBM mau dinaikkan mereka antri, tapi karena BBM nya tidak ada.

Negaranya sedang krisis ekonomi dan namanya krisis ekonomi tentu duit atau cadangan devisa untuk membeli atau mengimpor BBM tidak ada.

Atau kalau negara sedang konflik perang, masyarakat punya kecenderungan untuk menimbun sebagai cadangan.

Namun, dual hal diatas tidak terjadi di negeri tercinta yaitu Indonesia.

Negara yang kita cintai ini tidak sedang dalam krisis ekonomi atau terjadi konflik perang.

Tapi masyarakatnya mempunyai kebiasaan mengantri membeli menjelang kenaikan harga BBM.

Apakah masyarakat merasa rugi kalau tidak membeli atau mengisi BBM sebelum harga dinaikkan?

Atau masyarakat merasa ada rasa puas atau untung kalau bisa membeli atau mengisi BBM sebelum harga dinaikkan? 

Lain cerita, kalau yang antri itu pedagang atau pengecer BBM atau untuk dijual kembali.

Kendaraan roda dua rata-rata untuk terisi penuh membutuhkan empat liter. Kalau misalnya ada kenaikan harga BBM Rp3000, maka ada selisih Rp.12.000. Atau kalau terisi penuh lima liter ada selisih Rp15.000.

Inilah yang masyarakat dapatkan kalau mereka antri membeli menjelang kenaikan harga BBM.

Mungkin masyarakat menganggap itu sebagai keuntungan atau kebanggaan, bisa mendapatkan BBM sebelum harga dinaikkan.

Padahal, besoknya harga sudah naik dan BBM juga tersedia atau tidak langka untuk membeli atau mendapatkannya.

Mungkin itulah, mengapa ada sebagian masyarakat yang menggoyang-goyangkan kendaraan bermotor baik roda dua atau mobil waktu mengisi BBM.

Padahal BBM benda cair dan tangki kendaraan tidak ada sekat-sekat. Mengisinya pun ada tekanan kencang.

Mungkin mereka sangka seperti memasukkan gabah dalam karung yang harus digoyang-goyang supaya padat.

Siapapun presidennya pasti akan menaikkan BBM kalau harga minyak dunia naik. Tanpa kecuali, sekalipun malaikat turun dari langit.

***