Banjir dalam Gelas

Istilah ‘Gusti Allah Ora Sare’, yang sering dikutipkan, acap disalahpahami sebagai semua terserah Tuhan, maka kita juga pasrah, atau cuek saja. Toh nanti yang salah akan seleh.

Sabtu, 24 Oktober 2020 | 18:31 WIB
0
226
Banjir dalam Gelas
Anies Baswedan (Foto: Kompas.com)

Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, berkata bahwa banjir analoginya kayak air dalam gelas. Kalau dituangi satu liter tumpah. Mau ngomong apalagi kita, kalau pejabat pemerintah berwacana?

Tugas pemimpin, apalagi di eksekutif pemerintahan, tentu saja mengeksekusi, bukan berwacana. Kalau berwacana, sebenarnya itu tugas para akademisi, para waskita di bidang keilmuan. Tapi kalau mereka para pakar, yang kita harap berwacana justeru hanya sering ngetuit penuh hoax, fitnah, dan nada kebencian, atau keasyikan jadi yotuber (untuk lempar batu pakai mulut orang lain), apa pula yang kita (setidaknya saya sebagai rakyat kecil), bisa harapkan?

Padal, mestinya, yang kita harap dari orang macam Anies, dalam posisinya pula; bagaimana jalan keluarnya, agar air seliter tidak tumpah dalam gelas? Apakah memperbesar atau memperbanyak gelasnya? Melubangi gelas itu? Atau bagaimana agar volume air bisa diatur? Di situ perlunya ilmu dan pengetahuan. Di situ perlu orang yang ngerti secara teoritik, menelitinya, dan kemudian bisa menyimpulkan sumber masalah, dan kemudian mengatasinya.

Tapi, ya, sudahlah. Karena pers, atau media massa juga hanya memposisikan diri sebagai penyampai informasi, atau bagian dari mata rantai (baca: carut-marut) komunikasi, kita kini kehilangan yang bisa kita harap dari media massa. Dan itu terjadi di tengah lautan media sosial yang tak terkendali. Apalagi konon jumlah HP di Indonesia kini mencapai 320 juta. Jauh lebih banyak dari jumlah populasi penduduk Indonesia.

Meski kita juga harus tahu, tak sedikit anak yang kerepotan mengikuti sekolah daring. Karena tak punya HP. Maka, lupakan data 320 juta HP itu, meski Indonesia berada di posisi ‘4 Besar Pengguna HP Dunia’. Dan apa arti Kemendiknas membagi milyaran rupiah untuk pulsa gratis sekolah daring, ketika ada siswa tak punya HP? Itu juga soal bagaimana pemimpin mempersepsi gelas dan air, sebagaimana analogi Anies Baswedan.

Saya tidak tahu bagaimana cara kerja hukum semesta. Para ahli ilmu langit, yang ilmiah dan terukur, bukan yang ndleming, mengatakan bahwa semesta bekerja secara presisi. Tahun 1915, Mbah Kyai Albert Einstein sudah mengajukan teori relativitas umum, mengenai bagaimana alam tata surya ini bekerja secara presisi. Apa yang dikatakan Einstein, seratus tahun kemudian dibenarkan dan diperkuat penelitian Tim Astropnom Internasional, dengan memakai data dari NASA dan The European Southern OVLT. Semesta bekerja secara presisi, dengan hukum sebab akibat.

Bekerja secara presisi, bukan dengan ukuran-ukuran mistik. Yang bernama berkah semesta (boleh saja disebut berkah Tuhan atau Gusti Allah), tetap saja berangkat dari kerja-kerja manusia itu sendiri, dalam mengejawantahkan hukum semesta.

Istilah ‘Gusti Allah Ora Sare’, yang sering dikutipkan, acap disalahpahami sebagai semua terserah Tuhan, maka kita juga pasrah, atau cuek saja. Toh nanti yang salah akan seleh.

Padal, kenyataannya, jika yang salah nekad, dan yang tahu mendiamkan (atau bahkan menyesatkan), orang yang tak bisa bekerja bisa menang jadi gubernur. Dalam teori Einstein juga, gerak beraturan tidak selalu memunculkan keberaturan, tetapi bisa justru bahkan memunculkan gerak asimetris berlawanan, chaos, sebagaimana dalam dalil matematika. Penjelasannya bisa panjang di sini jika dituliskan. Jadi lain kali atau kapan-kapan saja, sambil ngopi.

Bayangkanlah, dari data yang ketangkap sebagai provokator demonstrasi UUCK, adalah anak STM, yang bisa mengutip tagar paling gahar 1998 lalu; “panjang umur perlawanan!” Sebagaimana istilah ‘darah juang’, yang kini juga banyak diadopsi. Padal juga, menyamakan panggilan Gejayan 1998 dengan Gejayan 2019, atau Gejayan 2020, sama bokisnya dengan gelas dan air itu. Meski sama-sama memanggil, beda nada dasar. 

@sunardianwirodono

***