Jarang Terjadi, Capres Kalah Dijadikan Menteri oleh Presiden Pemenang

Setelah kalah, ujung-ujungnya kembali kepada pelukan presiden Jokowi tapi dalam posisi bukan sebagai cawapres tapi sebagai pembantu atau menteri.

Selasa, 22 Oktober 2019 | 13:31 WIB
0
8114
Jarang Terjadi, Capres Kalah Dijadikan Menteri oleh Presiden Pemenang
Presiden Jokowi dan Prabowo (Foto: konfrontasi.com)

"Tak ada rotan,akar pun jadi".

Ungkapan di atas bisa untuk menggambarkan situasi atau kondisi politik terkait posisi Prabowo Subianto bersedia menjadi pembantu presiden Jokowi.

Seperti kita ketahui bersama, Prabowo Subianto adalah kompetitor atau pesaing Jokowi dalam pilpres 2019. Dan nasib belum berpihak padanya untuk bisa menjadi presiden.

Dan saat ini, ia mau menjadi menteri dan bawahan presiden Jokowi yang merupakan lawan berat dalam pilpres. Dan ini mungkin satu-satu di dunia, seorang capres yang kalah bisa atau mau menjadi seorang menteri yang merupakan rivalnya.

Dan ungkapan "tak ada rotan, akar pun jadi" atau "tak jadi presiden, menteri pun jadi", menjadi sikap pilihan politik Prabowo Subianto. Atau lebih baik mendapat sedikit atau menjadi menteri daripada tidak dapat apa-apa atau tidak menjadi presiden.

Padahal  waktu itu, sebelum pencalonan capres dan cawapres, Prabowo pernah dilamar oleh Jokowi dengan mengutus Luhut Binsar Panjaitan-untuk menjadi cawapres mendampingi Jokowi. Hanya tidak jadi, karena ada suatu permintaan yang susah untuk dipenuhi oleh Jokowi. Dan akhirnya kandas jalan masing-masing dengan mencari pendamping masing-masing juga.

Bahkan waktu itu juga sudah ada wacana calon tunggal alias tidak ada pesaingnya. Tapi para pengamat dan elit politik tidak setuju dengan alasan tidak demokratis atau matinya demokrasi. Biasa para pengamat selalu begitu dan terkadang prakmatis juga seperti elit politik. Padahal kalau calon tunggal, kue kekuasaan bisa "bagito" atau bagi rata di antara semua partai. Hemat biaya dan masyarakat tidak terpecah belah atau mengentalnya politik identitas.

Akhirnya setelah kalah, ujung-ujungnya kembali kepada pelukan presiden Jokowi tapi dalam posisi bukan sebagai cawapres tapi sebagai pembantu atau menteri.

Waktu tidak bisa diputar mundur, tapi biarlah adegan "menggebrak-nggebrak meja mimbar" menjadi saksi atau bagian sejarah dalam pilpres 2019. Dan jangan sampai nanti dalam rapat kabinet ada adegan gebrak meja lagi, apalagi sambil joged-joged. Terkadang sifat asli bisa muncul secara tiba-tiba dan tanpa sadar.

Seperti slogan TVRI: menjalin persatuan dan kesatuan.

***