Kesurupan Massal di Jagad Politik Kertanegara

Wajah-wajah penuh amarah, tegang, sayu, dan pucat. Bukan wajah-wajah penuh kegembiraan layaknya orang-orang yang merayakan kemenangan.

Sabtu, 20 April 2019 | 06:01 WIB
1
2167
Kesurupan Massal di Jagad Politik Kertanegara
Ilustrasi kesurupan (Foto: Piah.com)

Masyarakat kita mengenal istilah "kesurupan". Penyebabnya kalau secara psikologis bisa dikarenakan depresi, banyak pikiran atau halusinasi. Tetapi ada juga dari sisi spiritual karena gangguan jin atau dedemit penunggu suatu tempat.

Orang yang "kesurupan" biasanya tatapan matanya kosong atau hampa. Raut wajahnya lesu dan biacaranya meracau atau ngomyang dalam bahasa Jawa. Tetapi orang "kesurupan" juga mempunyai tenaga dua kalilipat dari keadaan normal. Makanya sering kali menangani orang "kesurupan" dipegangi oleh beberapa orang untuk membuat tenang. Karena sering meronta-ronta dan kadang malah bikin kalat kabut yang waras.

Dan sebagai obat penawar untuk menyembuhkan orang "kesurupan", masyarakat kita sering membacakan ayat-ayat suci atau di ruqiyyah  untuk mengusir jin atau dedemit yang dianggap merasuki badannya. Dan setelah tersadar,oarang  yang "kesurupan" seoalah-olah tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya.

Hanya saja fenonema "kesurupan" sekarang tambah makin rumit. Kenapa? Karena ada istilah "kesurupan massal". Penyebabnya sebenarnya dari satu orang yang awalnya "kesurupan" tetapi bisa merembet atau menjalar kepada orang yang ada di sekitarnya atau di sekililingnya.

Jadi satu orang "kesurupan" bisa mempengaruhi yang lain jadi ikut-ikutan "kesurupan". Biasanya "kesurupan massal" terjadi di sekolah-sekolah atau terjadi pada karyawan atau pegawai pabrik.

Nah, dalam jagad politik tanah air sekarang juga terjadi "kesurupan massal". Tak kalah ramainya dan heboh. Karena "kesurupan massal" dalam politik lebih parah dan ganas dari "kesurupan massal" yang bukan karena politik. Dibacakan ayat suci atau Kursi jin dan dedemit sudah pada minggat atau kabur. Tetapi "kesurupan massal" karena politik tidak mempan dibacakan ayat suci. Bahkan dilempar kursi malah jadi rebutan.

Penyebab "kesurupan massal" hanya gara-gara kalah dalam pilpres menurut versi quick count atau hitung cepat. Sang capres tidak terima kalah dalam hitung cepat yang dirilis oleh banyak lembaga survei. Malah meracau atau ngomyang tidak jelas dengan menuduh lembaga survei tersebut abal-abal dan harus diusir untuk tinggal di Antartika. Bukan sebaliknya? Bahkan deklarasi sampai tiga kali plus sekali "syukuran kemenangan" untuk menyatakan kemenangannya. Seperti minum obat tiga kali sehari.

Awal mulanya yang "kesurupan" satu orang. Tetapi akhirnya merembet atau menjalar kepada orang-orang di sekitarnya. Bahkan karena "kesurupan" sampai bingung menentukan arah kiblat untuk sujud syukur. Anehnya, disekitarnya banyak tokoh-tokoh agama yang menganut aliran ruqiyyah. Tetapi bukan memberi pencerahan atau mengobati, malah tokoh-tokoh agama ini juga ikut terkena "kesurupan massal" akibat pengaruh jin dan dedemit yang awalnya merasuki satu orang.

Wajah-wajahnya penuh amarah, tegang,sayu, pucat dan tertunduk lesu. Bukan wajah-wajah penuh kegembiraan atau kebahagiaan layaknya orang-orang yang merayakan kemenangan.

Inilah "kesurupan massal" dalam jagad politik tanah air. Sehat dan waras itu mahal harganya.

***