Ketika “Indonesia Barokah” Tak Berkah dan Dianggap Penyebar Hoaks

Minggu, 27 Januari 2019 | 20:42 WIB
0
530
Ketika “Indonesia Barokah” Tak Berkah dan Dianggap Penyebar Hoaks
Salah satu judul dalam tulisan Indonesia Barokah. (Foto: Istimewa).

Bakar! Begitu perintah Wakil Presiden M. Jusuf Kalla terkait beredarnya Tabloid Indonesia Barokah  yang disebar ke masjid-masjid dan pondok-pondok pesantren di berbagai daerah di Indonesia.

Pasalnya, Indonesia Barokah dianggap sebagai media penyebar hoaks. Karena itulah Wapres JK perintahkan pengurus masjid membakar tabloid “genderuwo” yang tidak jelas alamatnya (tapi wujudnya ada) tersebut.    

Melansir Republika.co.id, Sabtu (26 Jan 2019 12:48 WIB), KJ sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) telah memerintahkan kepada seluruh pengurus masjid yang telah menerima Indonesia Barokah untuk segera membakar tabloid tersebut.

Sebab, tabloid itu dianggap sebagai media penyebar hoaks. “Ya, karena itu melanggar aturan, apalagi mengirim ke masjid, saya harap jangan dikirim ke masjid. Semua masjid-masjid (yang menerima, red) itu dibakarlah, siapa yang terima itu,” kata JK.

Wapres JK mengeluarkan “perintah” itu usai menghadiri Penganugerahan Tanda Kehormatan Satyalancana kepada pedonor darah sukarela, di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta pada Sabtu (26/1/2019).

JK juga telah memerintahkan pada jajaran pengurus DMI di daerah untuk mengimbau kepada masjid-masjid supaya tidak mendistribusikan Indonesia Barokah kepada masyarakat. Wapres JK juga meminta supaya masjid dan rumah-rumah ibadah lain tidak dijadikan tempat untuk membuat dan menyebarkan kabar bohong, sehingga dapat memecah belah persatuan umat.

“Jangan masjid jadi tempat bikin hoaks-hoaks, macam-macam itu; jangan diadu. Kita sudah perintahkan DMI untuk kasih tahu bahwa jangan masjid menerima itu, karena berbahaya,” ujarnya lagi.

Wapres memperingatkan kepada seluruh pelaku di balik pemunculan Indonesia Barokah atau penerbit media penyebar hoaks bahwa ada hukum yang berlaku menindak penyebarluasan kabar bohong.

“Jangan seperti Obor Rakyat zaman dulu (Pilpres 2014, red). Itu kan masuk penjara, dihukum kan,” ujarnya.

Ribuan eksemplar Indonesia Barokah ditemukan di sejumlah masjid di daerah, antara lain di Solo, Jogjakarta, Purwokerto, dan Karawang.

Sebelumnya, Cawapres Sandiaga Salahuddin Uno menduga Indonesia Barokah digunakan oleh kelompok lawan sebagai alat kampanye hitam untuk menyerang dirinya dan Capres Prabowo Subianto.

“Itu saya serahkan kepada aparat hukum, itu adalah bagian 'black campaign' yang sudah kami sama-sama sepakati untuk tidak melakukannya. Akan tetapi, ternyata seperti 2014, versi 2019 keluar,” ujar Sandiaga di Jakarta, seperti dikutip Antara.com, Kamis (24/1/2019).

Indonesia Barokah memuat informasi yang diduga menyudutkan paslon 02 Prabowo – Sandi. Tabloid genderuwo tersebut digunakan sebagai alat kampanye hitam untuk menyerang paslon tersebut.

Pernyataan bahwa Indonesia Barokah menyebar hoaks dari Wapres JK tersebut tentu tidak main-main. Apalagi, sudah ada perintah “bakar” segala. Vonis JK ini harus segera ditindak-lanjuti oleh aparat penegak hukum.

Tampaknya pada Pemilu 2019 ini, JK juga akan jadi faktor penentu siapa pemenang Pilpres 2019 nanti. Sebagai Wapres yang sudah mendampingi Presiden Joko Widodo, tentunya titah JK sangat berpengaruh dalam konstestasi Pilpres 2019.

Bukanlah Produk Jurnalistik

Salam Redaksi Indonesia Barokah Edisi I/Desember 2018 menyebut, Tabloid “Indonesia Barokah” memiliki tagline “Membumikan Islam Rahmatan Lil 'Alamin” yang bermakna memberikan tambahan pengetahuan kepada masyarakat bahwa Islam adalah agama yang “Rahmatan Lil 'Alamin”, penuh kasih sayang dan kelembutan serta jauh dari kekerasan dan radikalitas.

“Sehingga dengan pemahaman dan penerapan Islam Rahmatan Lil 'Alamin ini kemudian menjadikan Indonesia yang penuh barokah,” tulisnya.  

“Tujuan diterbitkannya tabloid ini adalah untuk menjawab tantangan Islam di Indonesia saat ini yang rentan dengan paham-paham radikal yang mulai menyusupi dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.”

“Di mana paham tersebut bisa merusak tatanan kedamaian masyarakat Indonesia. Selain itu, tabloid ini juga bertujuan memberikan pemahaman Islam Wasathiyah serta mempererat tiga jenis ukhuwah, yaitu Ukhuwah Islamiyah,Ukhuwah Wathoniyah dan Ukhuwah Basyariyah.”

“Sasaran pembaca tabloid ini diantaranya adalah, para pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), jamaah masjid, pengurus dan pimpinan pesantren, santri, kepala madrasah dan guru madrasah serta para penyuluh agama.”

Jika menyimak isi Surat Redaksi di atas, penulis Indonesia Barokah ini diduga kuat adalah orang yang mengerti Islam yang berafiliasi dengan paslon 01 Joko Widodo – Ma’ruf Amin. Setidaknya, orang yang pernah mengenyam pendidikan pesantren.

Dugaan tersebut semakin kuat karena selama ini para pendukung Jokowi – Ma’ruf seringkali menggunakan “paham radikal” untuk menyerang Prabowo – Sandi. Apalagi, tabloid ini telah menuding, paham-paham radikal menyusupi dan berkembang di masyarakat.  

Sebuah tudingan yang sangat tendensius tentunya. Tujuan tudingan ini jelas untuk membuat masyarakat (orang Islam) menjauhi masjid-masjid karena khawatir dianggap sebagai “orang radikal” dan menentukan pilihannya pada paslon yang “toleran”.  

Pertanyaannya kemudian, apakah Indonesia Barokah itu adalah produk jurnalistik? Sebagai jurnalis, saya bisa sebut, tabloid genderuwo ini bukanlah produk jurnalistik. Apalagi, setelah ditelusur alamat redaksinya, ternyata tidak ditemukan alias fiktif.

Sehingga, bisa disebut bahwa produk yang ditulis itu tidak mencerminkan profesionalisme sebagai karya jurnalistik. Dari Salam Redaksi saja bisa dilihat betapa tidak akurasinya yang ditulis Indonesia Barokah tersebut.

Jadi, rasanya tidaklah tepat bila Badan Pemenangan Nasional (BPN) paslon Prabowo – Sandi berniat melaporkan Indonesia Barokah ini kepada Dewan Pers. Lebih tepat justru melaporkan kepada aparat berwenang (Kepolisian RI).  

Dan, Mabes Polri sudah sepatutnya segera mengusut siapa-siapa yang berada di balik tabloid yang pengirimannya via Pos Indonesia hingga menelan biaya sekitar Rp 1,4 miliar ini. Tentu ini sebuah nilai yang cukup fantastis dan pasti ada “bandarnya”.  

Dalam edisi perdana kali ini, tulis Indonesia Barokah, “kami mengangkat isu Reuni 212 yang diselenggarakan pada tanggal 2 Desember 2018 lalu. Reuni akbar tersebut disoal apakah gelaran tersebut merupakan pembelaan terhadap kepentingan umat atau hanya sebatas kepentingan politik semata.”

Dari sini juga jelas sekali bahwa pendukung paslon 01 sering menyerang acara Reuni 212 itu. “Pada reuni tersebut hadir dan memberikan orasi beberapa pimpinan partai di hadapan para peserta reuni,” tulis Indonesia Barokah dalam Salam Redaksi itu.

“Selain itu, kita mengangkat isu hoax yang terus menghantui masyarakat Indonesia. Pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu sebuah tabloid bernama “Obor Rakyat” disebarkan
ke pondok pesantren dan masjid masjid di sejumlah daerah di Pulau Jawa.”

“Edisi pertama tabloid tersebut terbit Bulan Mei 2014. Kala itu, mengangkat judul 'Capres Boneka' dengan karikatur Jokowi sedang mencium tangan Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Tim Kampanye Jokowi-JK pada saat itu langsung melaporkan beredarnya tabloid yang memuat berita hoax menyudutkan Jokowi.”

“Hingga kemudian kedua redaksi tabloid tersebut ditangkap dan divonis penjara. Namun, efek dari Obor Rakyat masih terus dirasakan hingga kini, bukan saja mengarah kepada Jokowi, tapi hoax menjadi senjata untuk saling menjatuhkan antar golongan.”

Perlu dicatat, untuk menulis Pemimpin Redaksi Setyardi Budiono dan Redaktur Pelaksana H. Darmawan Sepriyosa di Obor Rakyat saja penulis Indonesia Barokah tidak tahu. Makanya, saya bisa menyebutkan bahwa isi Indonesia Barokah bukanlah produk jurnalistik.

Amunisi hoaks masih saja digunakan Indonesia Barokah. “Dari kejadian tersebut bisa kita ambil kesimpulan, menyebarkan hoax bukan saja membahayakan diri sendiri tapi dampak besar akan terjadi dan meluas hingga mengancam keutuhan bangsa.”

Jika dikaitkan dengan tudingan hoaks yang sering diarahkan pada Capres Prabowo, tentunya tulisan Salam Redaksi Indonesia Barokah tersebut bisa menjadi indikasi bahwa isi tabloid ini memang diproduksi oleh pendukung Jokowi – Ma’ruf.

Bahkan, kabarnya, di belakangnya ada nama Irfan Wahid yang akrab dipanggil Ipang Wahid, putra KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), meski dibantahnya. “Buat kawan kawan semua, terkait tulisan di atas, terima kasih suda menanyakan,” ujarnya melalui akun FB-nya.

“Berikut adalah jawaban saya: Demi Allah saya bukan pembuat tabloid Indonesia Barokah. Saya juga tidak terlibat dalam bentuk apapun terkait tabloid tersebut. Semoga tabayyun ini bisa menjawab keingintahuan antum semua,” tegas Ipang Wahid.

Irfan Asyari Sudirman atau Ipang Wahid adalah Wakil Direktur Komunikasi Politik di TKN KIK. Dia putra tokoh NU Gus Sholah. Selain menggalang dukungan, di Timses paslon 01 ini, Ipang Wahid juga membuat konten kampanye kreatif Jokowi – Ma’ruf.

Tulisan “Prabowo Marah Media Dibelah”, Prabowo dituding berperan besar menggerakkan Reuni 212. “Kemarahan Prabowo semakin mengarah bahwa Prabowo berperan besar dalam menggerakkan Reuni 212 yang digelar di kawasan Munomen Nasional, Minggu (2/12/2018) lalu.”

Agar tidak timbul fitnah yang semakin liar, sudah seharusnya aparat polisi segera mengusut siapa-siapa berada di balik penerbitan Indonesia Barokah.

***