Probiotik Siklus, Solusi Atasi Virus Corona?

Sifat probiotik akan mengkoloni virus-virus yang “salah tempat” yang kemudian dikeluarkan dari tubuh manusia!

Senin, 23 Maret 2020 | 16:04 WIB
1
4711
Probiotik Siklus, Solusi Atasi Virus Corona?
Probiotik Siklus. (Foto: Palontaraq.id)

Dalam 2 hari ini (19 Maret 2020), setidaknya sudah ada 2 orang yang terselamatkan dengan bantuan Probiotik Siklus (PS). Jadi, kita sebenarnya tidak perlu repot-repot pesan obat impor seperti Avigan dan lain-lain.

Cukup dengan Probiotik Komunitas/Siklus. Pasien yang terpapar Virus Corona bisa sembuh. Itu kalau kita menggunakan konsep PS. Sifat dasar antibodi, bakteri/virus/ hewan, tanaman, dan manusia itu, jika disakiti, pasti akan melawan, untuk mempertahankan keberadaan dirinya.

Maka sudah barang tentu, kalian akan melawan semaksimal yang bisa kalian lakukan atau menyerah.

Pada saat tersakiti dengan des infektan atau apapun sejenisnya, kalian yang tidak mati (tentu sebagian mati, sebagian hidup) itu membiakkan diri beratus-ratus atau beribu-beribu kali lipat dibanding kalau tidak disakiti.

Padahal konsep yang ada saat ini, kalian harus dibunuh dengan antivirus atau antiseptik/des infektan.

Naluri virus, yang tidak mati, mereka akan menggandakan diri sebanyak-banyaknya  supaya eksistensi mereka tetap ada di muka bumi ini.

Mereka sebenarnya tidak ingin menyakiti, tetapi setiap ketemu media baru, tangan manusia, itu media asing yang menakutkan bagi mereka, sehingga mereka mereplikasi diri berkali lipat.

Pada saat mereka mampu bertahan hidup, tentu saja mereka sudah menjadi lebih kuat, sudah mengenali semua zat yang membunuhnya atau sudah merubah asesoris tubuhnya, sehingga bisa dipahami kalau akhirnya sekarang sudah diketahui sudah ada 5 jenis virus corona.

Jadi menjadi wajar, corona yang tersebar itu: jumlahnya jauh lebih banyak, telah mengalami mutasi genetik, dan lebih kuat

Masalahnya, siapa yang mempercayainya konsep itu? Maka pendekatan dengan konsep PS/Probiotik Komunitas (PK),barangkali akan menjadi pilihan yang paling menguntungkan, efisien, dan efektif.

Andaikan penglihatan dan pendengaran kita ini dibukakan hijabnya oleh Allah SWT dan bisa berkomunikasi dengan virus itu, bisa memahami sifat mereka, tidak tega menyemprotkan cairan des infektan kepada mereka.

Mereka juga menderita. Mereka takut mati, seperti hal nya manusia. Bagaimana gemuruhnya di kalangan mereka ketika itu datang. Serupa dengan hebohnya di kalangan manusia sendiri. Tapi sayangnya, siapa yang mempercayai ungkapan ini?

Menurut seorang formulator PS, virus corona itu basicnya seperti virus influenza. Habitatnya juga ada di kulit sekitar hidung manusia. Mereka bertugas membersihkan zat-zat patogen yang menempel di kulit sekitar hidung dan bibir atas.

Juga membantu membantu menjaga kelembaban kulit manusia. Sifat dasar virus/bakteri itu serupa dengan antibodi, manusia, hewan, tanaman, yaitu kalau mereka tersakiti, mereka akan memperkuat dirinya, dan menggandakan dirinya beratus-ratus kali lipat dibanding pada kondisi normal.

Hewan akan beranak sebanyak mungkin. Tanaman akan berbuah dan bertunas sebanyak mungkin. Manusia mempunyai anak sebanyak mungkin.

Corona itu, begitu masuk ke dalam tubuh kelelawar, mereka mereplikasi dirinya sebanyak mungkin. Hal itu dilakukan, karena itu tempat asing bagi mereka, dan itu membuat mereka ketakutan, maka mereka menggandakan dirinya sebanyak mungkin.

Begitu sang kelelawar ini dimakan manusia, maka corona ini beralih ke tubuh manusia dan langsung menggandakan diri lebih hebat lagi.

Pertanyaannya, kenapa kelelawar-kelelawar itu tidak sakit seperti manusia? Sebab, kelelawar tersebut ndablek, cuek, masa bodoh, dan “tidak berpikir”, sehingga antibodinya kuat, dan tidak tersakiti.

Maka kalau manusia ingin sehat, walaupun sudah terpapar Covid-19, bersikaplah seperti kelelawar!

Covid-19 yang tertuduh sebagai pembunuh massal sadis itu, berusaha dibunuh secara massal pula, dengan disemproti des infektan secara massal. Ada sebagian yang mati, ada sebagian yang masih hidup.

Barangkali yang masih hidup lebih banyak dibandingkan yang mati. Karena sudah menjadi sifatnya bakteri/virus itu, maka yang hidup ini menggandakan dirinya beratus-ratus atau bahkan beribu-ribu kali lebih banyak dan lebih kuat dibanding sebelumnya.

Kalau sebelumnya kemampuan terbangnya hanya sekitar 1,8-2 m, akan menjadi lebih jauh dibanding itu. Kemampuan terbang lebih jauh inilah yang menyebabkan mereka menjadi bersifat “airborne infection”.

Lalu karena jumlah mereka sangat banyak, mereka juga menemukan bakteri-bakteri lain yang mempunyai daya terbang lebih jauh. Corona menumpang pada bakteri lainnya, serupa dengan pesawat ulang alik yang numpang pada pesawat yang berbadan lebih besar.

“Jadi, akibat dari penyemprotan des infektan secara massal, menyebabkan mereka menjadi: lebih banyak, lebih kuat, mampu terbang lebih jauh, dan daya rusaknya lebih hebat,” ungkap formulator itu dalam tulisannya yang diizinkan untuk ditayangkan.

Maka, tidaklah mengherankan, kalau di Wuhan hanya ditemukan 3 varian corona, di Amerika Serikat sudah ditemukan 5 varian corona. Sehingga, menjadi mudah dimaklumi, kalau di AS, Italia, dan di Indonesia, angka kematiannya lebih tinggi dibandingkan di Wuhan.

Pada saat ditemukan di Timur Tengah yang disebut dengan MERS-CoV (middle east respirstory syndrome coronavirus) , siapa kambing hitamnya? Unta! Kenapa dipilih unta? Karena hewan itulah yang ada di sana.

Ketika di Wuhan, ya kelelawar yang ada di sana. Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Pertama, Tidak panik, tidak kawatir. Akibat ketakutan, kepanikan, maka daya tahan tubuh kita turun drastis. Daya tahan tubuh yang turun itu, serupa dengan, kalau kita takut sama gendruwo, mak lampir, wewe gombel, dan kawan-kawannya itu.

Begitu ketemu mereka, kita gak punya daya apapun, mau lari, hanya kosel-kosel di tempat, bahkan sampai terkencing-terkencing di celana. Kematian tidak ada hubungannya dengan corona.

Kalau waktunya mati, tidak ada corona pun, ya mati. Andaikan di demo besar-besaran sama corona, kalau belum waktunya mati, ya tetap sehat. “Corona itu sahabat kita, bukan musuh kita!” tegas formulator probiotik tadi.

Kedua, Perbaiki ibadah kita, mulai dari: Wudhu yang baik dan benar, Shalat yang baik dan benar, Dzikir (termasuk membaca Al Qur'an) yang baik dan benar. Basuhan air wudhu yang @3x, insya Allah mampu mendormenkan corona yang nempel, selanjutnya dijatuhkan ke tanah, dan mati.

Shalat, dzikir, membaca Al Qur'an yang baik dan benar, akan membuat kita tenang dan itu secara otomatis akan diikuti proses perbaikian sistem imunitas kita. Kalau imunitas baik, corona mah lewaaaat. Bukankah corona itu masuk kategori “self limiting disease”?

Ketiga, Semprotan. Semprotkan des infektan yang sudah di-mixed dengan PS, entah G8, G10, G12, atau G17. Supaya sifat aslinya yang bakterisid, menjadi lebih organik, dan tidak akan menyakiti dan membunuh mereka.

Hand sanitizer ber-PS. Semproti wajah, tangan dengan semua produk-produk yang sudah ber- PS . Bisa membuat sendiri, atau apapun yang terlebih dulu di-mixed denga PS.

Keempat, Perbaiki asupan nutrisinya, dan perbanyak air minum. Makan makanan bergizi, sayuran, empon-empon, kunyit-kunyian, pahit-pahitan, cukup membantu menstimulus antibodi kita.

Kelima, Minum PS. Keenam, Jangan terlalu terpengaruh postingan-postingan yang seringkali menakutkan. Harus bisa memilah dan memilih.

Antibiotikanya, disarankan: obat yang isinya “Levofloxacin” yang paten, terserah merknya apa.

Dalam 2 hari ini (19 Maret 2020), setidaknya sudah ada 2 orang yang terselamatkan dengan bantuan PS.

BioSyafa Natura

Komposisi PS G10 ini terdiri: Air Putih, Air Kelapa, dan Gula Pasir. Fermentasi dari bahan-bahan tersebut, akan menghasil suatu produk atau formula probiotik yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh, meningkatkan proses metabolisme tubuh, meningkatkan kualitas sistem pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, serta membantu mengobati berbagai macam penyakit.

Formula ini bila dikonsumsi secara rutin, bisa menjaga tubuh menjadi sehat, sehingga tidak mudah terserang berbagai macam penyakit. Adapun beberapa penyakit yang bisa dibantu penyembuhannya atau bisa diobati dengan formula ini antara lain:

Pengobatan fase awal (3 – 5 hari pertama), untuk kasus Hepatitis, HIV, Antraks, Lupus, AIH, Ebola. Juga, kasus Flu Burung, Flu Bebek, Flu Babi, Corona, SARS; baik pengobatan awal hingga lanjutan, tidak perlu diganti varian lain, atau bisa diganti dengan BioSyafa Plus.

Sifat probiotik akan mengkoloni virus-virus yang “salah tempat” yang kemudian dikeluarkan dari tubuh manusia!

***