Bukan hanya mendengar, Jokowi pemimpin yang juga melihat. Dalam mendengar ada perubahan sifat, dalam melihat ada perubahan hakekat, sebagai kata Jalaluddin Rumi.
Contoh adalah kepemimpinan, ujar Albert Schweitzer (1875–1965) teolog dan filsuf dari Jerman. Tetapi memberi contoh, bukan hal mudah. Setidaknya demikian Jokowi. Pidato pelantikannya jelas. Tapi apa kita mau berubah?
Perubahan itu mengundang banyak musuh, kata John F. Kennedy. Ini ujian proses transformasi sosial dan politik kita. Karena juga tak mudah mengikuti ujaran Mahatma Gandhi; Aku merasa bahwa di satu waktu, kepemimpinan berarti kekuatan; tapi hari ini hal itu berarti maju bersama-sama dengan orang lain!
Ketika mengajak Prabowo masuk koalisi, bikin poyang-payingan dan seolah isi dunia ambyar. Apakah kita siap?
Kesiapan hanya bagi yang sukses melakukan transformasi dirinya. Bahkan, pada titik ini dalam sejarah, transformasi paling radikal, meresap, dan mengguncang bumi, akan terjadi hanya jika setiap orang benar-benar berevolusi menjadi ego yang matang, rasional, dan bertanggung jawab. Tentu juga, karena keyakinan.
Sebagaimana nasihat Gus Dur, “Kalau ingin melakukan perubahan jangan tunduk terhadap kenyataan, asalkan yakin di jalan yang benar, maka lanjutkan.”
Pada sisi lain, kita tak bisa pula berharap Presiden sebagai aktivis, atau negarawan sekaligus. Namun bagaimana pun, Presiden adalah politisi terbaik sehingga berada di jabatan tertinggi.
Apa yang dilakukan Jokowi, dalam situasi transisi dan politik elit ini, ialah bersiasat, dan sebagiannya adalah kompromi. Belajar dari kegagalan Gus Dur, Jokowi berkelit di antara kelindan begitu banyak agenda oligarkis dan elite. Sluman-slumun-slamat yang bersliweran sekitar istana.
Pesan pidato Jokowi jelas. Termasuk ketika berani menyusupkan Prabowo dalam kabinetnya. Menjadikan mantan petinggi militer sebagai Menteri Agama. Memunculkan pengusaha gojek jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dan kita kemudian melihat bagaimana riuhnya pro-kontra di medsos. Yang ahli dan awam, sama-sama ribut.
Dari sini, Jokowi sukses mengguncang-guncang isi kepala kita. Jokowi sukses memecah lapisan pertama batu es. The President is shaking things up. Kalau pemerintahan Jokowi adem ayem, pasti ada yang salah. Ramainya gejolak karena ia sedang mengguncang.
Bukan hanya mendengar, Jokowi pemimpin yang juga melihat. Dalam mendengar ada perubahan sifat, dalam melihat ada perubahan hakekat, sebagai kata Jalaluddin Rumi. Karena pemimpin yang efektif, kata Peter F. Drucker, bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya. Effective leadership is not about making speeches or being liked; leadership is defined by results not attributes.
Sementara yang berubah pada “kita”?
Jika dulu kaum nyinyir Jokowi disebut kampreters, sekarang mungkin gantian para ningrat. Bisa berjudul SJW, kaum intelektual, mereka yang berada dalam comfortable zone, atau para penggiat media mainstream yang tergeser.
Diakui atau tidak, semua gara-gara Jokowi.
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews