Ibarat Saham, Ahok dalam "Resistance" atau "Support"

Tapi, sepertinya BTP atau Ahok akan bisa melewati masa resistance atau penolakan dari sebagian publik atau masyarakat, bahkan pengamat.

Jumat, 22 November 2019 | 10:42 WIB
0
233
Ibarat Saham, Ahok dalam "Resistance" atau "Support"
Basuki Tjahaja Purnama (Foto: liputan6.com)

Sejak Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok datang ke kantor Kementerian BUMN dan menemui Erick Thohir sebagai menteri BUMN yang baru-nama Ahok muncul ke publik lagi. Apalagi pertemuan antara BTP atau Ahok dengan Erick Thohir terkait penawaran jabatan untuk menduduki posisi sebagai Komisaris atau Direksi BUMN di Pertamina.

Setelah pertemuan itu, nama Ahok mulai ramai diperbincangkan di dunia maya atau medsos dan diperbincangkan juga di media massa atau televisi. Tentu ada yang pro dan kontra.  Ada yang meresponya positif dan negatif.Dan ada yang setuju dan tidak setuju. Dan itu wajar. Karena akan tidak bisa memuaskan semua orang atau masyarakat.

Nah menarik menganalisa nama BTP atau Ahok lewat analisa seperti market saham. Dalam dunia pasar modal atau saham ada yang dinamakan "resistance dan suport".  Resistance lebih dimaknai atau diartikan adanya "penolakan" dan suport diartikan sebagai "dukungan".

Nama BTP atau Ahok menimbulkan resistance atau adanya "penolakan" dari sebagian publik yang sifatnya sebagai respon market atas penempatan BTP yang akan menjabat sebagai Komisaris atau Direksi. Dan ini merupakan ujian bagi BTP atau Ahok yang akan menjabat sebagai pejabat di BUMN.

Dan jikalau atau apabila Ahok bisa melewati masa-masa rawan atau resintance atau penolakan dari sebagian publik atau masyarakat-maka nama BTP atau Ahok akan mengalami "break out" atau akan melambung dan tidak bisa terbendung lagi. Alias melewati tahap rawan ke tahap aman.

Masuknya nama BTP atau Ahok dalam jajaran pejabat BUMN juga sebagai sentimen positif yang akan menaikkan namanya kembali. Dalam pasar saham sentimen positif akan menjadi berita yang baik dan akan menaikkan market saham.

Namun begitu, apabila resistance atau penolakan Ahok yang akan menjadi pejabat BUMN semakin besar dan masif maka nama ia menjadi sentimen negatif dan turun atau memasuki fase suport atau dukungan. Yang artinya kalau dalam harga saham akan turun. Dan artinya BTP atau Ahok tidak akan menjabat sebagai Komisaris atau Direksi BUMN karena penolakan semakin besar.

Tapi, sepertinya BTP atau Ahok akan bisa melewati masa resistance atau penolakan dari sebagian publik atau masyarakat, bahkan pengamat.

Kita lihat saja awal bulan ini.Apakah BTP atau Ahok akan dilantik menjadi pejabat BUMN atau tidak.

Menurutku sih "Yes".

***