Prabowo dan Emosi yang Tak Terjaga

Sungguh Indonesia butuh pemimpin yang mampu mengendalikan emosinya, sebab negeri ini sangat luas dan permasalahannya kompleks.

Jumat, 12 April 2019 | 12:11 WIB
0
289
Prabowo dan Emosi yang Tak Terjaga
Sumber foto: Detik.com

Debat Capres sudah melewati babak keempat dan masa menuju TPS semakin dekat. Prabowo versus Jokowi kali kedua di musim Pilpres ini semakin bikin gereget pemirsa. Swing voters yang menonton pun sepertinya terbagi dua, memilih berdasarkan program kerja atau memilih berdasarkan karakter semata. 

Di babak keempat ini beberapa kali Prabowo terlihat tak kuasa menahan tekanan emosi dari dalam dirinya walau tersengal ia berusaha tenang. Babak yang mengangkat tema Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan serta Hubungan Internasional ini seharusnya bisa dilumat dengan baik oleh seorang Prabowo Subiato.

 Sepak terjangnya di militer dan hubungan internasional seharusnya bisa dilukiskan dengan tenang dalam setiap jawaban maupun pernyataannya dalam debat. Bayangkan, sekelas menantu seorang penguasa negeri selama 32 tahun tentu isu-isu seputar tema di atas itu sudah makanannya sehari-hari bukan? Apalagi ia bertugas di militer, kopassus pulak... Rasanya debat sudah selesai sebelum dimulai.

Tapi apa dinyana... seorang eks militer harus teraduk emosinya pada debat di ranah pengalamannya sendiri. Di sesi Pertahanan dan Keamanan Prabowo bahkan sempat menegur salah seorang penonton yang tertawa saat Prabowo menyebutkan bahwa pertanahan NKRI rapuh. Emosi seorang Prabowo bisa dipicu oleh totalitasnya menghayati isu yang diangkat yaitu mengenai pertahanan. 

Bisa jadi Prabowo memiliki pengalaman tersendiri mengenai sistem pertahanan negara yang membuatnya merasa gemas. Tapi, mungkin juga emosinya hanya karena terbawa ritme pertanyaan dan jawaban dari lawan debatnya yaitu Jokowi. 

Apalagi, Jokowi terlihat sangat tenang bahkan beberapa kali melempar senyum saat mendengar pemaparan yang disampaikan Prabowo. Tersudutkan atau kaget melihat kesiapan prima sang lawan? Cuma Prabowo yang memahaminya sendiri.

Tapi, sering meluapnya emosi bahkan sampai menegur pihak lain yang tak seharusnya dilibatkan memberi preseden buruk terhadap seorang calon pemimpin negeri. Belum saja menghadapi masalah negeri yang sedemikian rumitnya seorang Prabowo sudah sering meletupkan emosinya. 

Bagaimana jika ada hal sensitif yang disampaikan kepala negara lain terhadap negara kita yang diterima dalam keadaan yang kurang baik oleh Prabowo. Akan emosi dan menuding kepala negara lainnya kah dia?

Dalam pernyataan lainnya, Prabowo sempat dengan bangganya mengatakan bahwa dirinya lebih TNI dari pada banyak TNI lainnya. Prabowo mengatakan bahwa pengalamannya dalam operasi-operasi militer menunjukkan bahwa dirinya adalah seseorang yang nasionalis dan patriot. Sedikit citra pongah tersembul di balik ucapannya. Sebuah pernyataan yang bagi saya cukup kontradiktif diucapkan seorang mantan perwira pecatan TNI. 

Sungguh Indonesia butuh pemimpin yang mampu mengendalikan emosinya. Negeri ini sangat luas dan permasalahannya kompleks. Belum lagi, rakyat Indonesia yang seringkali 'ngeyel' terhadap setiap aturan yang dibuat. 

Kita butuh pemimpin yang berjiwa teduh untuk meneduhkan rakyat. Tak cuma itu, Indonesia darurat optimisme yang membuat banyak pihak patah arang dalam mencapai kesejahteraan. Pesimisme bisa melahirkan banyak masalah baru seperti s malas, hilangnya kreatifitas hingga sikap berburuk sangka.

Seorang penulis dan filusuf dari Inggris, James Allen mengatakan bahwa 

"Pengendalian diri adalah kekuatan. Pikiran yang tepat adalah penguasaan. Ketenangan adalah kekuatan".

Dalam debat kali ini terlihat pihak mana yang lebih menguasai tema-tema yang diangkat. Tapi, semua kembali ke pilihan para pemilih. Lebih menyukai karakter tegas ala Prabowo atau ramah ala Jokowi?

***