Akhir Petualangan Edy Mulyadi KM 50, Kuntilanak, Gendruwo dan Meong

Jika Polisi tidak bertindak maka kami khawatir akan menimbulkan situasi politik dan keamanan menjadi terganggu.

Senin, 24 Januari 2022 | 21:54 WIB
0
147
Akhir Petualangan Edy Mulyadi KM 50, Kuntilanak, Gendruwo dan Meong
Edy Mulyadi (Foto: suara.com)

Top. Akhirnya. Edy Mulyadi pembuat hoaks. Terkait namanya dengan PKS. Dari sejak kelahiran PKS, kami warga Kalimantan, tahu kadernya ya sekelas Hidayat Nur Wahid, pengagum pentolan teroris ISIS Yusuf al-Qaradawi. PKS menolak Nusantara. Sama dengan bekas caleg PKS Edy Mulyadi. Otaknya sama.

Kami juga tahu Edy Mulyadi. Dalam konferensi pers dia pakai pakaian udeng Sunda, menghina Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Meong.

Kami warga Kalimantan paham. Hembusan hoaks Edy Mulyadi sebar tanpa ampun. Ibu Kota Negara Nusantara dia sebut dibangun oleh RRC. Yang faktanya oleh Indonesia dengan investasi dari UEA.

Tak hanya itu. Kami warga Kalimantan mencatat. Catatan Edy Mulyadi begitu hebat. Ngaku wartawan senior. Senyatanya dia tukang buat onar. Sejak berhasil membuat hoaks KM 50, dia menjadi bintang dan menjadi bintang berita. Media darling kelompok kadal gurun, Khilafah, anti-NKRI.

Kami warga Kalimantan paham. Edy Mulyadi merasa berhasil menghantam polisi terkait pembunuhan 6 teroris FPI, dan merasa menang karena polisi tidak menangkapnya. Dia merasa kuat karena merasa menjadi bagian elit pembuat onar. Maka caleg PKS ini menjadi besar kepala.

Kami bangga terhadap Pulau Kalimantan. Meski Edy menghina kami. Panajem Paser Utara Kalimantan disebut dia sebagai tempat jin buang anak. Nusantara disebut sebagai tempat yang pasarnya Genderuwo, Kuntilanak, dan penghuninya hanya monyet.

Kami warga Kalimantan menyadari, bahwa Edy Mulyadi sengaja menggiring opini rasis dan kebencian terhadap suku Dayak dan penduduk lain di Panajam Paser Utara.

Penghinaan tak terbatas, dengan membangun sentimen anti-China. Kebencian Edy yang sengaja dibuat untuk mendeskreditkan Pemerintah. Caranya dengan menebar kebencian bahwa yang akan menghuni Nusantara adalah warga RRC. Hoaks yang luar biasa.

Edy Mulyadi pikir. Dia telah sangat kuat. Dia bebas menghina, menyebar hoaks, menggiring opini kebencian. Yang disasar pun warga Kalimantan, pulau yang memberikan kekayaan bejibun ribuan triliun orang seperti haji Sam, Boy Thohir, LBP, Zulkifly Hasan, Aburizal Bakri, TW, dan beberapa orang lain. 

Kami warga Kalimantan, meskipun kami tidak terlalu kaya. Pulau kami kaya mineral emas, batubara, bauksit dan uranium. Tapi disebut Edy Mulyadi sebagai tempat jin membuang anak, genderuwo dan celetukan yang pantas menghuni adalah hany monyet.

Kami warga Kalimantan, bukan monyet, bukan genderuwo, bukan khilafah, bukan PKS, bukan teroris. Kami warga Kalimantan adalah manusia. Kami mencintai NKRI. Kami juga hormat kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Kami warga Kalimantan mengimbau Polisi segera menangkap Edy Mulyadi. Hentikan kegilaan tuduhan yang menyakiti kami jutaan warga Kalimantan. Jika Polisi tidak bertindak maka kami khawatir akan menimbulkan situasi politik dan keamanan menjadi terganggu.

Terlebih penting lagi, Edy Mulyadi akan mengulangi seperti setelah kasus hoaks KM 50. Polisi tidak perlu ragu, inilah saatnya menghentikan petualangan politik bekas caleg PKS.

Kami warga Kalimantan menuntut Polisi menangkap Edy Mulyadi, untuk menjaga Nusantara. Dari hoaks yang dibuat oleh Edy Mulyadi. Dan, yang terpenting, kami bukan monyet, bukan Genderuwo, bukan Kuntilanak. Demikian Pak Polisi.

Ninoy Karundeng

***