Bangsa Lontong

Karena takut berhadapan dengan aparat negara. Meskipun harganya diri mereka diinjak oleh penguasa dan abdi hukum yang jumawa.

Senin, 17 Agustus 2020 | 17:24 WIB
0
55
Bangsa Lontong
Panat pinang 17 Agustusan (Foto: Seva.id)

Bangsa ini sejak wilayahnya ditetapkan oleh PBB sampai sekarang, tumbuh sesuai dengan jati diri. Watak dan pembawaannya.
Sebagian besar penduduk bangsa ini masih miskin meski jargon pusat berujar bangga kita sudah masuk negara maju.

Sebagian besar rakyat Indonesia berpendidikan rendah. Menerima keadaan dengan pasrah. Pasrah dalam artian menjalani apa yang mereka bisa. Untuk makan dan hidup. Tak sekalipun mereka berharap untuk mati untuk menanggalkan kesulitan hidup.

Presiden dan pemimpin berganti. Mereka yang perutnya lapar mengamini. Semoga kehidupan mereka lebih baik. Namun mereka tertawa asin melihat para pemimpin berubah jumawa dan tidak peka. Sudah biasa.

Ratu itu pertama kali tugasnya adalah bagi bagi berkah untuk para punggawanya. Rakyat jelata dikasih apa adanya. Sekilo beras merekapun matanya berbinar karena paling tidak hari ini mereka bisa makan.

Yang penting bagi mereka adalah tidak ada kerusuhan. Tidak ada pembantaian. Tidak ada penyembelihan.

Meskipun korupsi mencolok mata. Karena setenggang waktu, duit itupun kadang masuk kantong mereka. Tanpa diduga bahkan tanpa dirasa.

Pola kehidupan ini yang menyebabkan mereka tidak ingin melihat wilayah bernama Indonesia terpecah belah. Karena mereka tahu persis, proses kearah itu akan menyebabkan kehidupan mereka tambah sengsara.

Mereka sudah kebal dengan janji surga. Karena mereka tahu mereka akan dilupakan setelah pembuat janji merengkuh kekuasaan.

Dari itu, kaum jelata menghindar dari urusan negara dan abdi negara. Mereka patuh apapun kebijakan yang diturunkan. Baik dari pemerintah pusat sampai kelurahan. Karena takut berhadapan dengan aparat negara. Meskipun harganya diri mereka diinjak oleh penguasa dan abdi hukum yang jumawa.

Semata mereka lakukan semua ini untuk mempertahankan kemerdekaan mereka. Kemerdekaan mencari penghidupan untuk bisa makan. Kemerdekaan yang bagaikan lontong. Bisa panjang bisa pendek. Tergantung sisi kehidupan mereka yang tengah mereka jalani.

Dihari ini. Menit ini. Detik ini. Ditanggal 17 Agustus.

***