Indonesiaku [14] Pahlawan dan Penghianat, Cuma Beda-beda Tipis

Sejarah ditulis oleh pemenang, bukan oleh pecundang. Saya tidak tahu apakah Eurico itu pahlawan atau penghianat, sebagaimana saya tidak paham apakah dia itu pemenang atau pecundang?

Jumat, 26 Juli 2019 | 08:03 WIB
0
180
Indonesiaku [14] Pahlawan dan Penghianat, Cuma Beda-beda Tipis
Eurico Guterres (Foto: itoday.co.id)

Saya teringat buku Mind Mapping atau “Peta Pikiran” karya Tony Buzon yang saya baca beberapa tahun lalu. Bahwa tiba-tiba saya menghubungkan buku itu dengan kenangan saya akan Timor Timur yang sekarang sudah menjadi Timor Leste, entahlah, saya tidak tahu jalan ceritanya. Yang jelas ketika saya mendapatkan satu kata kunci Timor Timor dan pada saat bersamaan teringat Tony Buzon. 

Maka mengalirlah kata-kata kunci seperti: Integrasi, Aneksasi, Jajak Pendapat, Provinsi Ke-27 RI, Insiden Santa Cruz, Balibo, Bahasa Tetun, Portugis, Timor Leste, Xanana Gusmao, Eurico Guterres, Milisi Aitarak, Fretilin, BJ Habibie, Prabowo, Gardapaksi dan seterusnya.

Sebagai jurnalis, peta pikiran Buzon sudah lama saya praktikkan ketika hendak menggelindingkan isu baru dalam dunia jurnalistik. Kadang tidak selamanya harus menunggu berita yang turun dari langit. Berita (baca isu) harus dicari, digali dan bahkan diciptakan. Kalau Anda mau menggelindingkan isu yang “seksi” mengenai persiapan Pemilu 2014, 2019, 2024 dan seterusnya, mungkin terlalu luas. Sangat luas.

Akan tetapi, jika berpikir ala Buzon, maka dengan mudah Anda menemukan kata-kata kunci seperti berikut: kotak suara, surat suara, distribusi kotak dan surat suara, kendala pendistribusian, tenggat waktu pendistribusian, kualitas cetakan, protes partai politik, percetakan, tender, penyimpangan, korupsi, komisi pemilihan umum, dan seterusnya.

Demikianlah cara peta pikiran bekerja yang cukup membantu.

Tetapi kembali ke peta pikiran Timor Timor, saya menangkap sosok Eurico Guterres. Sejujurnya, saya juga menangkap sesosok bayangan BJ Habibie kalau bicara soal lepasnya Timor Timur dari pangkuan Ibu Pertiwi. Mengapa saya tangkap sosok Eurico ini? Sebab, bagi saya Eurico adalah taste case. Setidak-tidaknya taste case bagaimana pahlawan atau penghianat diterakan kepada seseorang lalu ditulis dalam buku sejarah kebangsaan.

Bagaimana “pahlawan” dan “penghianat” ditulis dalam sejarah. Si Pitung, kalau tokoh ini pernah ada, jelas “pahlawan” di mata Indonesia, meski dia pencuri dan penjahat kelas berat. Bagi penjajah Belanda, Si Pitung pastilah sosok tengik. Itu contoh gampangnya.

Bernama lengkap Eurico Barros Gomes Guterres, ia dikenal sebagai milisi pro-Indonesia alias antikemerdekaan bagi Timor Timur. Pria kelahiran 1971 itu direkrut militer untuk kepentingan Indonesia dan beberapa waktu lalu dituduh melakukan sejumlah pembantaian di Timor Timor. Ia juga dituding menjadi pemimpin satu gerakan untuk membumihanguskan Dili pasca jajak pendapat. Seperti kita mafhum bersama, jajak pendapat itu telah memerdekakan rakyat Timor Timur menjadi bangsa berdaulat di negara Timor Leste.

Bukan bermaksud protes atas merdekanya rakyat Timor Timur, tetapi bagi saya itu jajak pendapat yang aneh. Mengapa aneh? Karena jajak pendapat itu hanya diikuti rakyat Timor Timur saja. Andai jajak pendapat serupa diajukan pada rakyat Aceh atau Papua, bisa jadi keduanya menjadi negara merdeka.

Bukankah jajak pendapat seharusnya diikuti oleh seluruh rakyat Indonesia meski itu untuk menentukan nasib rakyat Timor Timur? Ingat Negara Bagian Quebec di Kanada. Jajak pendapat untuk memerdekaan Quebec itu dilakukan secara nasional oleh seluruh rakyat Kanada. Hasilnya, Quebec memang belum boleh merdeka.

Sudahlah. Kita kembali ke Eurico. pasca jajak pendapat yang mengharu biru itu Eurico dinyatakan bersalah, dijatuhi hukuman 10 tahun penjara tiga tahun setelah jajak pendapat dilakukan. Putusan ini dikuatkan di tingkat kasasi di Mahkamah Agung.  April 2008 lalu Eurico Guterres mengajukan peninjauan kembali dan berhasil. Ia bebas dari segala tuduhan sehubungan telah ditemukannya “bukti baru”.

Bukti baru itu tentu saja membebaskan Eurico dari terali besi Cipinang. Belakangan saya mendapat informasi, Eurico menjadi calon anggota legislatif Partai Amanat Nasional untuk daerah pemilihan Kupang.

Mengapa Kupang? Wajar, karena di sana terdapat warga Timor Timur yang lebih memilih menjadi warga negara Indonesia daripada memilih menjadi warga Timor Leste. Sebelumnya, warga Timor Timur yang kini bermukim di perbatasan dengan Timor Leste itu adalah warga yang prointegrasi dan menentang kemerdekaan Timor Leste.

Dalam konteks jajak pendapat yang digagas BJ Habibie, jelas mereka adalah kaum pecundang. Dalam buku sejarah Timor Leste mungkin ditulis warga yang prointegrasi ini adalah para “pengkhianat bangsa”. Sosok Eurico di mata rakyat Timor Leste mungkin saja masuk kategori “penjahat perang”. Tetapi coba tanya apa pendapat rakyat Timor Leste sekarang mengenai BJ Habibie?

Sekarang dari sisi Indonesia. Bagaimana negeri ini memandang dan memperlakukan warga Timor Timur prointegrasi yang kini bermukim di Kupang atau di perbatasan Timor Leste? Sebagai warga teladan yang selayaknya dilindungi atau warga pengkhianat yang layak dibiarkan begitu saja? Lantas sebagai apa Indonesia menganggap Eurico? Sebagai “pahlawan” atau “penghianat” bangsa?

Saya khawatir, keraguan pemerintah Indonesia memperlakukan rakyat Timor Timur prointegrasi apalagi sampai mengabaikan hak hidup mereka, berakibat pada pelemahan semangat anak-anak negeri dalam membela Tanah Air-nya sendiri. Saya juga khawatir, dengan memenjarakan dan memperlakukan dengan buruk para pejuang prointegrasi berakibat pula pada pelemahan semangat anak-anak negeri untuk membela Tanah Air-nya sendiri.

Bukankah ini bisa “dipelintir” manakala suatu saat terjadi peristiwa seperti itu lagi: mengapa harus gagah-gagahan menjadi orang yang prointegrasi (Indonesia) kalau harus berujung di terali besi penjara?

Saya tidak tahu presis bagaimana buku sejarah tentang Timor Timur pascajajak pendapat ditulis. Sejarah ditulis oleh pemenang, bukan oleh pecundang. Saya tidak tahu apakah Eurico itu pahlawan atau penghianat, sebagaimana saya tidak paham apakah dia itu pemenang atau pecundang?

***