Saran untuk My President, Hati-hati dengan Papua!

Papua sangat penting, strategis dan akan terus jadi rebutan negara-negara luar. Mereka sudah ukur kondisi masyarakatnya, bila dieksploitasi bisa menjadi titik mati bagi siapapun pemimpin Indonesia.

Kamis, 22 Agustus 2019 | 18:50 WIB
0
261
Saran untuk My President, Hati-hati dengan Papua!
Presiden Joko Widodo bersama anak Papua (Foto: Cybersulut.net)

Tujuh tahun yang lalu saya memosting status ini di bawah ini, yang sangat dibutuhkan bagi para pemimpin di level manapun dalam memimpin organisasi;

"Dulu saya berpikir bahwa menjalankan sebuah organisasi setara dengan memimpin sebuah orkestra simfoni. Tapi akhirnya saya berpikir itu tidak cukup, dibutuhkan sesuatu yang lebih, seperti sebuah musik jazz, ada improvisasi lebih yang dibutuhkan ." - (Warren Bennis).

Saat ini pengaruh faham demokrasi liberal ke Indonesia banyak yang belum memahami makna dasarnya. Akibatnya pikiran kebebasan mengalahkan budaya, norma dan etika serta budi pekerti yang berlaku. Kita lebih liberal dari Amerika mbahnya demokrasi itu.

Pak Jokowi sudah membaca ini, karena itu menegaskan, pendidikan menjadi bagian penting dalam membangun dan menata ulang manusia Indonesia. Rasanya kok tidak cukup, perlu improvisasi lebih seperti musik jazz, beatnya unik, tapi tidak monoton.

Kalau boleh menyarankan, seperti saat pidato politik pertamanya, Pak Jokowi memang harus berubah, harus berani, tegas, jangan terlalu percaya para pengambil hati yang punya kepentingan pribadi besar, walaupun itu inner circle sekalipun.

Banyak yang berusaha mendekat memanfaatkan saat dia kuat, tapi akan meninggalkan presiden saat lemah. Catatan sejarah Pak Harto yang ditinggal menteri-menterinya tetap ada.

Pak Jokowi yang InsyaAllah dilantik 20 Oktober 2019, akan berselancar di ombak politik, yang (maaf) di antara mereka banyak yg cuma mikir kepentingan pribadi dan partainya (45% ? Wooow). Posisi JKW kuat, legitimate sebagai pemenang pilpres, tapi ada saja yang mikir mau menjatuhkan dia... tidak hanya dari dalam tapi dari luar negeri.

Kebutuhan utamanya kini adalah intelijen, yaitu informasi yang sudah diolah, dinilai dan dikonfirmasi. Tanpa intelijen yang akurat, keputusannya bisa bias dan bisa berbalik memukulnya. Tapi intelijen yang mana? 

Saya membaca ada tiga indikasi yang butuh pendalaman intelijen, yaitu kasus black out listrik, Mandiri dan kini Papua.

Menurut penulis, bila tidak didalami, ketiganya bisa meluruhkan citranya, menyebabkan peluang bertahan sisi politiknya bisa lemah. Pak Habibie dahulu tidak bisa terus bertahan karena soal Timtim. Saat itu kita sudah keluar uang banyak, membangun infrastruktur dan sarana, jatuhnya ribuan korban TNI, toh lepas juga saat Habibie jadi presiden, internasional bermain

Nah, kini Papua, penulis nilai lebih rawan, pulau ini sangat penting, strategis dan akan terus jadi perebutan negara-negara luar. Mereka sudah ukur kondisi masyarakatnya, bila dieksploitasi bisa menjadi titik mati bagi siapapun pemimpin Indonesia. Saat ini waktu kritis menuju 20 Oktober, semoga tidak keliru membacanya.

Semoga orang-orang pintar di sekelilingnya itu bisa membaca sikon geopolitik dan geostrategi di sekitar Indonesia... terkait OBOR dengan High Road. Penulis hanya bisa memberi saran yang kecil dan sederhana ini untuk pria sederhana yang mendapat wahyu Cokroningrat bernama Joko Widodo. Good luck my president.

Marsda Pur Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen.

***