Cara Berpolitik Megawati Dilalui dengan Kerja Keras

Rabu, 23 Januari 2019 | 20:39 WIB
0
315
Cara Berpolitik Megawati Dilalui dengan Kerja Keras
Megawati Soekarnoputri (Foto: Koranbogor.com)

Selamat Ulang Tahun untuk Ketua Umum PDI-Perjuangan, Megawati Sukarnoputri

Salah satu yang memberi warna berbeda adalah cara berpolitik yang berbeda. Hampir semua anak presiden dan pejabat Indonesia, akan selalu ndhompleng, di dalam medan yang sama orang tuanya. Jalur yang ditempuh itu sudah dibuka oleh orang tuanya.

Perbedaan cukup siginfikan, di mana masa lalu politis yang membuat posisi Mega terlempar jauh dari hingar bingar perpolitikan nasional. Nama belakang dengan unsur Sukarno menambah beban dan masalah cukup lama.

Desukarnosasi demikian masif dan marak, apalagi bagi keturunannya secara langsung. Keturunan ideologis dan juga biologis. Sangat tidak mudah, toh bisa dilampaui.

Coba bayangkan dengan Tutut yang hari lahirnya berdekatan, merasakan didikan langsung dari sang penguasa Orba. Ke mana-mana ikut, mengelola usaha, yayasan, dan puncaknya menjadi menteri, yang ujungnya membawa Soeharto ikut terjungkal. Mega tidak cukup seberuntung itu. Kuliah saja tidak sempat selesai karena kisruh politik yang  membuat kacau keadaan.

Pendidikan tidak bisa tuntas karena terkendala kepentingan kekuasaan saat itu, berbeda dengan anak  presiden selanjutnya yang karena mungkin manja, sehingga tidak menyelesaikan pendidikan. Toh bisa memiliki berbagai usaha, bahkan kini punya partai politik.

Tentu bukan karena kemampuan dan kapasitas yang mumpuni, namun karena uang dan bisa membeli apa saja. Termasuk membeli kader dan pemikir politik.

Cara berpolitik Mega yang dilalui dengan kerja keras, bahkan berdarah-darah itu memang menghasilkan kristalisasi ideologi dan kemampuan berjuang. Merasakan tersingkirkan di mana posisi sedang membutuhkan dukungan itu yang justru mebuat kuat.

Bayangkan bagaimana pribadi yang ketika sedang memerlukan dukungan dan mendapatkan fasilitas. Bisa dibandingkan sendiri di tengah kancah politik nasional, dalam diri Tutut, Titik, Tommy, ataupun yang kekinian dalam diri AHY dan Ibas.

Negarawan bukan sebatas politikus. Ini juga membedakan, di mana banyak hanya mengejar kekuasaan dan kursi semata dengan mengabaikan proses dan usaha dengan menjunjung etika.

Proses yang dilalui dengan relatif normal, tidak menggunakan pendekatan kekuasaan. Lihat bagaimana pemilu pun mengalahkan Mega ketika maju pilpres. Padahal setelah itu toh ada partai berkuasa melambung sangat luar biasa.

Berbeda pilihan politik belum tentu menjadi musuh. Beda kasus dengan SBY dan itu bisa dipahami luka batin yang cukup kuat. Bagaimana bisa masak bareng dengan Prabowo dan mengatakan, hubungan baik-baik saja mengapa di bawah ribut terus. Ini jelas cukup berbeda dibandingkan dengan kebanyakan politikus negeri ini.

Keberanian memutuskan untuk mengatakan cukup dan tidak maju lagi, dengan mengatakan mosok mau kalah sampai tiga kali dan membiarkan kader terbaik untuk maju. Majunya pun dengan wajar, tidak dengan menjelek-jelekan rival.  Memberikan pembelajaran usai kalah dua kali berturut dan menjadi “oposisi” yang relatif normal dan wajar.

Membuktikan bahwa partai berkuasa atau partai di luar kekuasaan sama baiknya dan bisa berperan sama besar dan bermartabat. Bersama Gerindra mengawal pemerintahan dengan baik. Malah yang masuk penjara dari sisi dewan dan pemerintah yang sama-sama dari partai pemenang waktu itu. Ingat Jero Wacik dan alamarhum Sutan Batugana.  Bisa melakukan peran demokrasi sama baiknya.

Keberadaan sebagai partai pemenang, namun berulang kali dikerjain oleh para petualang politik namun disikapi dengan normatif, tidak membuat gaduh, sabotase, dan sejenisnya jelas membedakan dengan partai lain. Lihat bagaimana partai-partai lain berlompatan seperti ikan bawal airnya diobok-obok, dan melompat ke mana-mana. Golkar, PAN, dan juga partai lain. PDI-Perjuangan tidak melakukan itu, dan itu tergantung ketua umumnya bukan?

Sikap penghormatan pada Soeharto, ini paling memberikan pembelajaran yang berbeda jauh. Di mana suksesi antara Sukarno dan Soeharto yang tidak baik, pun dari Soeharto ke era reformasi pun demikian. Toh sikapnya bertolak belakang.

Soeharto memberlakukan tumpes kelor, termasuk bahkan pemikiran Soekarno saja dilarang. Malah nasib Soeharto masih lebih baik tidak dibawa ke peradilan, malah kini anak-anaknya tanpa merasa berdosa dan menilai Orba sangat baik dan layak dihidupkan lagi.

Pembersihan pengaruh yang secara masif dilakukan bahkan bisa dianggap  subversif bagi yang mengidolakan, membaca, membahas, atau berdiskusi mengenai pemikiran dan buah pikir Sukarno.

Beda jauh dengan masa reformasi yang bahkan mengatakan enak zamanku to, padahal kalau baik-baik saja mengapa  harus terjungkal? Jelas tidak bukan?  Ini yang membedakan kualitas berdemokrasi yang menjunjung etika.

Padahal jika melihat usia, Soeharto dan Mega jauh berbeda, ini bukan soal usia, namun soal keberanian menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa permainan politik pun bisa dilakukan dengan etika dan menjunjung moralitas yang selaras dengan Pancasila dan hidup beragama yang menjadi kebanggaan bangsa ini?

Masih ada beberapa kelemahan sebagai partai modern dan itu ke depan toh bisa diatasi. Melihat beberapa terobosan yang sudah ditampilkan, bisa memberikan harapan baik bagi bangsa dan negara ini.

Salam.

***