"Filsuf" Rocky Gerung dan Filsafat Pemihakan

Sabtu, 2 Maret 2019 | 07:03 WIB
2
461
"Filsuf" Rocky Gerung dan Filsafat Pemihakan
diskusi Membongkar

Nama Rocky Gerung menderu-deru di langit dan jagad narasi Indonesia. Lebih seru mengalahkan pakar-pakar filsafat beneran lainnya. Kata-katanya menyihir. Kadang seperti membisu ketika muncul stigma keberpihakan filsafat pada politik keterbelahan. Rocky sedang meniti angin dan kini berada di atas awan. Ia menjadi "icon" ILC-nya Karni Ilyas, sebuah acara politik populer di televisi milik Aburizal Bakrie.

Rocky tampil menjadi narasumber bagi sengkarut diskusi tentang politik yang belang bonteng. Mungkin suara Rocky Gerung sangat memuaskan bagi oposisi pemerintah saat ini yang selalu diterkam berita buruk, mengarah hoax yang membobardir Indonesia belakangan ini. Oposisi jadi merasa punya gacoan sekaligus jagoan, pion yang konon mengusung akal sehat tetapi dengan mudahnya terpedaya begitu saja oleh hoax terbesar "of the year" Ratna Sarumpaet. Oh.... "I need you badly", Babe!

Harus diakui, Rocky Gerung tampil dalam momen tepat untuk berbicara sebagai sosok yang memperkenalkan filsafat dalam khasanah perpolitikan Indonesia yang terbelah, meski kefilsufan-nya tetap saja dipertanyakan banyak orang.

Saya sendiri cukup familiar dengan filsafat, paling tidak tahu tokoh-tokohnya semacam Hegel, Frieddrich Nietzsche. Mengenai kajian filsafat bolehlah membaca dari buku Romo Mudji Sutrisno, membaca majalah basis sejak pimpinannya Romo Dick Hartoko sampai Romo G P Sindhunata. Tetapi saya tidak berani mengatakan bahwa saya menguasai filsafat. Kalau ditanya ya tidak bodoh-bodoh amatlah karena paling tidak pernah mendapat mata kuliah filsafat Pancasila dan estetika seni sewaktu kuliah.

Pekan ini saya meskipun datangnya cukup terlambat gara-gara mencari alamat D’Consulate Cafe yang membingungkan hanya mendapatkan buntut diskusi yang dipandu oleh Pepih Nugraha. Mantan COO dan pendiri Kompasiana dan sekarang sedang mengelola PepNews.com dan menjadi pembicara dalam berbagai pelatihan penulisan dan motivasi literasi. Sebagai narasumber adalah Faisal Assegaf, Wisnu Nugroho dan Reza AA Wattimena, dosen sekaligus Doktor Filsafat jebolan Universitas di Muenchen, Jerman

Rupanya diskusi bertema Membongkar “Sodomi” Akal Sehat Rocky Gerung. Kajian filsafat Rocky Gerung itu mendapat antusiasme tinggi. Banyak pertanyaan tentang filsafat. Mengkritisi tentang bagaimana Rocky Gerung menempatkan filsafat dalam keseruan diskusi di forum-forum semacam ILC dan menyinggung tentang sepak terjangnya dalam jagad politik tanah air.

Istilah-istilah populer filsafat terangkat berkat Rocky Gerung yang digelari filsuf oleh sementara orang. Yang sangat terkenal dalam perkataannya ada mengusung kata "dungu". Rocky sering menyindir orang lain bahkan Presiden dengan kata "dungu". Banyak orang menganggap ia kebablasan menggunakan terminologi dungu untuk kebijakan-kebijakan Petahana yang bagi Rocky tidak ada baik-baiknya. 

Ia sangat kritis tapi cenderung kebablasan. Rocky dalam berbagai forum mengatakan ia bukan memihak oposisi, ia hanya menjadi kritis oleh kebobrokan politik sekarang ini terutama ditujukan kepada Presiden terpilih 2014–2019.

Maka banyak pihak gerah dengan perulangan kata dungu yang selalu diulang-ulang dalam forum diskusi. Beruntung Rocky hidup dalam suasana kebebasan pers yang terjamin. Kalau hidup di zaman orde baru dan berani kritis seperti sekarang ini bisa saja Rocky sudah “lenyap” dalam peredaran. Ia sudah diculik oleh sebuah tim dan dibuang entah kemana seperti nasib Widji Thukul.

Presiden sabar mendengarkan makian oposisi dan menempatkan diri sebagai penjaga demokrasi Indonesia. Presiden tidak kelihatan marah melihat fenomena tokoh-tokoh yang cenderung “nakal” dalam menarasikan dirinya.

Hanya dalam kontes pemilu ini tentu ada pendukung yang tidak terima jika pemimpinnya dihina-dina sedemikian rupa. Sebegitu parahnyakah situasi politik saat ini sehingga dengan gampangnya orang mengeluarkan kata kata semacam dungu, sodomi, sontoloyo.

Bisa jadi ada pernyataan penanya yang mengatakan bahwa kosa kata yang sering muncul semacam dungu, sontoloyo, sodomi itu akan begitu populer di mata generasi mendatang karena politisi atau netizen sekarang ini selalu mengulang-ulang kata-kata yang tidak seharusnya didengar oleh generasi mendatang.

Politik memang memabukkan, politik itu magnet yang mengundang komentar. Artikel- artikel atau berita politik laris manis mendapat tanggapan dan terus diserbu pembaca. Diskusi- diskusi politik amat diminati seperti yang terjadi di D’ Consulate Kafe Jalan Wahid Hasyim Menteng Jakarta Pusat.

Faizal Aseggaf pengamat politik ketua Progres 98, penulis yang amat kritis ketika menyoroti tentang kebijakan Susilo Bambang Yudhoyono bicara tentang mengapa ia mengambil kata "Sodomi" untuk mengistilahkan sepak terjang Rocky Gerung dalam jagat politik saat ini. Ia ingin mengungkapkan apa yang dilakukan Rocky Gerung tak lebih sekedar “sodomi akal sehat” yang digaungkan sendiri.

Sodomi akal sehat yang dimaksud Faizal  narasi yang diciptakan  di berbagai media sosial  dan tayangan televisi khususnya di Indonesia Lawyer Club, di luar kepatutan  sosial dan politik yang hidup di negeri Pancasila. Bisa jadi akan ada politikus yang akan disandera hak politiknya seperti ketika Mantan Perdana Mentri Malaysia Anwar yang dikorbankan karena kasus ”Sodomi” oleh lawan politiknya.

Rocky Gerung di sisi lain bermanfaat untuk membuka kedok orang- orang yang berlindung di dalam tema penyelamatan bangsa dan orang-orang yang “dungu” karena membiarkan konflik politik terjadi hingga negara terlihat sedang goyah karena rakyat sudah jenuh dengan situasi dan kondisi tidak menentu. Isu–isu tentang utang negara dan pemerintah yang abai terhadap rakyatnya kesia-sian infrastruktur yang tidak berdampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat.

Dalam diskusi itu juga disinggung oleh seorang peserta diskusi betapa Harian Kompas cenderung cari selamat dengan mengusung jurnalisme kepiting. Di mana di satu sisi Kompas kritis terhadap ketidakadilan dalam masyarakat tetapi Kompas juga menerapkan jurus lari tungganglanggang jika harus mengritisi pemerintah.

Hal itu diakui oleh Wisnu Nugroho yang saat ini menjadi Pemimpin Redaksi Kompas.com. Kompas menurut dia tidak akan tersinggung dengan sematan apapun termasuk istilah jurnalisme kepiting. Karena hal-hal realistis. Sebagai sebuah organisasi Kompas harus bijaksana. Secara realistis Kompas adalah media paling sukses dalam hal managemen. Kompas termasuk paling sukses mengelola media jurnalisme karena banyak media yang banyak gulung tikar karena kesulitan finansial.

Tentu Kompas perlu juga memperhatikan kesejahteraan dan masukan modal agar bisa menjalankan roda perusahaannya. Jika sebuah perusahaan media sudah mapan dan tidak kekurangan akan mudah untuk menegakkan idealisme, lain dengan media yang masih kesulitan finansial dan perlu suntikan dana dari pihak lain, tentu idealisme akan sulit terbangun karena kedekatan dengan penyumbang.

Hanya  perusahaan dan managemen yang sudah selesai dengan dirinya sendiri yang akan mampu bertindak idealis sementara yang masih butuh bantuan dana dari pihak lain akan kesulitan berlaku adil dan cenderung memihak.

Terkait tentang Rocky Gerung, Wisnu mengatakan, “Media harus memberitakan kebenaran sesuai kaidah jurnalistik. Media nggak bisa ikut-ikutan. Kita harus menjernihkan apa yang sedang diperdagangkan dan dipertentangkan. Salah satu tugas media adalah memberikan dan menyampaikan kebenaran. Tapi kebenaran itu, kebenaran jurnalisme.”

Sementara Reza Wattimena mengatakan, salah satu yang menyebabkan terkenalnya Rocky gerung di ruang publik karena mutu pendidikan masyarakat masih rendah.

Menutup sesi diskusi Reza berharap filsafat mampu memberi pencerahan pada generasi muda. Ia ingin filsafat diperkenalkan sebagai ilmu yang dekat dengan milenial. Bukan membuat pusing dan membikin pingsan mahasiswa memahami filsafatyang terkesan rumit.

Maka sebagai dosen, Reza mengenalkan filsafat dengan banyak humor ketawa-ketiwi. Seperti Stand Up Comedy. Dengan cara humor dan cair filsafat tidak harus membikin orang menjadi “gila”.

 

***