3 Ajaran Soeharto yang Bersifat Laten, Apa Itu?

Kamis, 14 Maret 2019 | 08:20 WIB
0
1461
3 Ajaran Soeharto yang Bersifat Laten, Apa Itu?
Soeharto dan Soekarno (Foto: BBC)

Kok ada, ya, orang percaya dan mengikuti pembohong? Kok ada, ya, pemuja-muja kebodohan yang dipamerkan dengan sombong? Kok ada, ya, yang meyakini bahwa ini adalah itu dan itu adalah ini, tanpa bisa menjelaskan kenapa?

Saya tak ingin menyebut nama, tapi itu agak susah karena menjadi tidak konkrit. Makanya ketika saya menyebut Tengku Zulkarnaen bisa menjadi wasekjen MUI, bagaimana ceritanya? Dia keturunan China dan muallaf, ngutip ayat sering meleset. Kenapa dia lebih didengar daripada omongan Pak Gus Mus? Atau Pak Quraish Shihab yang keturunan Arab?

Demikian juga orang bisa berbondong-bondong mengikuti ustadz ini ustadzah itu, padahal sering dari khutbahnya meluncur kata-kata yang tak pernah diujarkan, dianjurkan, apalagi diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu’ allaihi wassallam. Jauh dari citra budi sang rasulullah.

Memang ada persoalan fundamental kita. Entah itu bernama pendidikan atau mentalitas, yang selama satu generasi jaman Orde Bauk Soeharto sama sekali tak digarap. Dibanding kejahatan ekonominya, kejahatan kemanusiaannya jauh lebih besar dan buruk resikonya. Meski telah 20 tahun Soeharto longsor, toh soehartoisme belum juga bisa hilang.

Ada tiga ‘ajaran’ Soeharto yang menurut saya bersifat laten, yakni; Formalisme, Pragmatisme, dan Vandalisme (uraian lengkapnya dalam novel politik saya, ‘Anonim, My Hero!’, 2004).

Formalisme dalam berpikir, dengan sistem sekolah dan beragama kita, hingga mengabaikan esensi.

Pragmatisme dalam berperilaku dan bertindak. Segala sesuatunya hanya bersendikan aspek kemanfaatan dan keuntungan diri-sendiri.

Vandalisme dalam berkuasa, ialah konsep tiji-tibeh yang bersifat merusak karena kemutlakan-kemutlakan. Merasa paling benar mutlak, pihak lain salah mutlak. Hanya tatanannya yang benar, tatanan lain dirusaknya.

Ada yang berkampanye akal sehat atau akal waras. Belum lama lalu, untuk menebar virus akal sehat mesti memakai ambulans, mensiasati penghadangan massa yang menolak. Si influenzer berdalih; tak menggunakan mobil ambulans karena mobil itu tak dibunyikan sirine-nya. Ini kekonyolannya kesekian.

Jika mobil ambulans tidak dibunyikan sirine-nya tak disebut ambulans, mengapa memilih menaiki mobil itu? Dia sendiri terjebak dalam frame yang ditolaknya. Mengapa tak memakai andong atau cikar, atau mobil pick-up yang terbuka? Dalam berlogika saja mlungker-mlungker, bagaimana kita percaya pada integritasnya sebagai pertaruhan seorang intelektual?

Banyak pengikutnya, karena di negeri ini, mudah mencari korban penipuan, hanya dari keahlian berkata-kata. Jadi influenzer kewarasan, tapi ujung-ujung mendiskreditkan Jokowi dan mengajak milih Prabowo.

Itu mah bukan akal sehat, tapi akal gemblung. Persis penjual jamu di pasar malam, dengan segala macam ilmu sulap dan akrobatiknya.

Makanya revolusi mental mental-mentul, karena dari yang merasa elite dan silite, sering ceboknya masih belepotan. Njijiki.

***

Catatan: Judul Asli Artikel ini adalah "Elite dan Silite", diubah disesuaikan dengan karakter pembaca PepNews tanpa mengubah substansi.