Untung Rugi Bagi PDIP Jika Ahok Bergabung

Senin, 21 Januari 2019 | 21:10 WIB
0
1757
Untung Rugi Bagi PDIP Jika Ahok Bergabung
Ahok gabung PDIP? [Kompas.com]

Sebentar lagi politisi fenomenal, mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok akan bebas. Kian ramai pekabaran tentangnya. Meski dipenjara, Ahok memang masih saja seorang media darling. Ada kabar ia akan menikahi polwan lajang. Ada pula kabar burung soal dirinya pindah agama. Ada-ada saja.

Oh iya, kabarnya pula, Ahok minta disapa sebagai BTP. Jangan Ahok lagi. Namun karena mengucapkan 3 suku kata itu ribet di lidah saya, baiknya kita ambil jalan tengahnya. Kita sebut beliau Bas. Atau mungkin Mas Bas. Deal!

Bukan pernikahan Mas Bas dan Puput yang menarik perhatian saya. Selain kabar itu tak jelas ujung pangkalnya, juga karena orang kawin dan menikah bukan urusan publik. Saya justru penasaran pada langkah politik Mas Bas setelah bebas.

Tempo hari, saya lupa kapan persisnya, sejoli Mas dalam memerintah Jakarta, Mas DJarot, pernah kasih kabar jika sebebasnya dari penjara, Mas Bas akan bergabung menjadi anak buah Bu Mega, jadi kader PDIP.

Kabar itu diperkuat restu Mas Bas kepada stafnya, Ima Madiah untuk jadi caleg DPRD DKI dari PDIP. Kata Ima Madiah, Mas Bas merekomendasikan PDIP karena selain nasionalis dan berpegang teguh kepada Pancasila, kader-kader PDIP sangat militan di lapangan. Mereka berpolitik bukan karena ada logistik.

Sebenarnya kabar itu biasa-biasa saja. Sebagai politisi dari etnis dan keyakinan relijius minoritas, wajar jika Mas Bas bergabung ke PDIP. Jika bukan PDIP ya PSI. Apalagi parpol yang memperjuangkan kesetaraan antar identitas di ranah sipil-politik? Oh iya, PKB dan Nasdem boleh pula.

Namun pernyataan Sekjend PDIP Hasto Kristiyanto justru membuat kabar ini jadi menarik. Om Hasto terkesan dingin-dingin saja, bahkan sepertinya agak kuatir jika Mas Bas bergabung. Soalnya, Om Hasto katakan, Mas Bas sebaiknya jangan buru-buru bergabung dengan PDIP. Lebih baik menikmati dulu waktu-waktu pribadinya setelah bebas.

Memang, Om Hasto juga katakan jika Mas Bas benar ingin join PDIP, ia dipersilakan membuat pernyataan tertulis untuk minta bergabung.

Rasa-rasanya, dua pernyataan ini mengindikasikan Om Hasto meski welcome, kurang antusias. Ya kurang lebih seperti Om-Tante kalau menerima tamu kenalan yang jadi caleg atau seorang penjaja asuransi.

Tentu saja ini cuma perasaan saya. Rasa itu timbul oleh pernyataan Om Hasto tadi, yang saya baca dari koran Jawa Pos versi daring. Namun baiklah dalam artikel ini Om-Tante berasumsi saja perasaan saya ada benarnya. Tanpa berasumsi begitu artikel ini berhentilah sampai di sini.

Nah. Karena perasaan itu-- Om Hasto kurang antusias menyambut Mas Bas--saya lantas tertarik untuk berhitung untung rugi bergabungnya Mas Bas bagi PDIP. Mungkin dengan itu saya bisa mengerti alasan Om Hasto kurang antusias.

Kira-kira ada dua keuntungan PDIP jika Mas Bas bergabung. Pertama, Mas Bas seorang tokoh, politisi bersih, teguh berprinsip. Pengikutnya banyak. Jika Mas Bas bergabung, PDIP akan turut menikmati peningkatan kepercayaan rakyat, juga tambahan pasukan, para Ahokers.

Kedua, karena Mas Bas politisi minoritas, bergabungnya ke PDIP akan mempertebal citra PDIP sebagai partai nasionalis pembela keberagaman. Rakyat Indonesia yang risau galau oleh menguatnya sentimen identitas akan ramai-ramai bernaung di bawah bayangan Banteng, berharap dengan begitu Indonesia kembali adem.

Namun harus diakui pula, Mas Bas membawa serta potensi kerugian bagi PDIP.

Tinggal beberapa puluh hari lagi pencoblosan pemilu dan pilpres tiba. Apapun langkah politik parpol dan capres-cawapres, hendaklah dihitung matang, jangan sampai jadi blunder.

Selain banyak kawan dan penggemar, Mas Bas juga banyak musuh fanatik, terutama orang-orang penderita tengeng.

Maksud saya orang-orang yang leher nalar dan nuraninya kaku-kaku sehingga sakit jika harus menolehkan kepala jika diajak melihat dengan sudut pandang lain. Kebencian mereka kepada Mas Mas sudah melampaui ubun-ubun, sudah hingga ke bulu-bulunya.

Mungkin ini yang membuat Om Hasto rada kurang iklas menyambut kabar Mas Bas hendak bergabung ke PDIP. Om Hasto khawatir, kebencian orang-orang kepada Mas Mas akan menular kepada capres Joko Widodo. Padahal sebagian orang-orang itu sudah berpindah haluan pilpres ke pihak Jokowi semenjak KH Ma'ruf Amin jadi cawapres. Ini adalah potensi kerugian pertama.

Kerugian kedua, tipikal Mas Mas ini sepertinya lone wolf. Seorang lone wolf  kurang bisa bekerja dalam tim. Sebaliknya Ibu Mega selalu menyerukan kepada para kader PDIP untuk menjaga kekompakan. Hanya dengan kekompakan, PDIP bisa jadi parpol yang solid, satu irama satu komando dalam berpolitik.

Dikhawatirkan, Mas Mas tidak bisa menerima langgam organisasional PDIP dan karenanya justru berdampak merugikan timbulnya gesekan dengan kader lain.

Sekarang andai Om Hasto bertanya kepada saya, setelah menambah-kurangkan poin-poin untung-rugi di atas, apa sebaiknya sikap PDIP?

Menurut saya, lebih baik PDIP segera menyambut Mas Bas. Soal kekurangan-kekurangan jangan terlalu dipikirkan.

Kalau yang dipermasalahkan semata-mata para pembenci Mas Mas, toh orang-orang itu pula yang bukan main-main bencinya kepada PDIP. Bagi mereka PDIP adalah benteng keberagaman nusantara, benteng Pancasila; sementara Mas Mas adalah simbol kemenangan Pancasila--dari aspek persatuan dan kemanusiaannya. Maka mau Mas Bas bergabung atau tidak, tiada banyak berbeda. Sama saja. PDIP tetap mereka benci.

Lagi pula Mas Bas bisa ditugaskan untuk berkampanye ke kawasan Timur Indonesia, tempat kewarasan masih betah, tinggal dan bermain riang gembira; tempat di mana saudara berbeda agama dicintai seperti tetangga sekeyakinan.

Soal watak Mas Bas yang cenderung lone wolf,  tak perlu terlalu dicemaskan. Ingat saja, karakter individu kerab berubah menurut perkawanannya. Toh banyak orang-orang PDIP yang sebelum jadi kader--bahkan yang kader sekalipun--masih abai terhadap karakter partai progresif revolusioner itu, bukan?

Nah, begitu kira-kira. Jadi saran saya, jika nanti Om Hasto ditanyai wartawan lagi, komentarnya diubah. Jangan lagi bicara Mas Bas sebaiknya jangan buru-buru bergabung. Katakan saja, "Tentu PDIP sangat senang tokoh bersih dan berprinsip seperti Mas Bas bergabung.

Jika ingin bergabung, kami persilakan. Jika ia memilih parpol lain, kami menghormatinya. PDIP yakin, di manapun Mas Bas berpolitik, ia tetap seorang sekutu bagi keberagaman Indonesia."

Kira-kira begitu hemat saya. Satyam Eva Jayate. Tabik.

***


Sumber:

  1. Tribunnews.com (02/09/2018) "Ahok ke Stafnya: Kalau Mau Berjuang ya Lewat PDI Perjuangan" 
  2. Jawapos.com (19/01/2019) "Hasto: Kita Beri Kesempatan Ahok Menikmati Hidup Pribadinya Dulu"