Menakar Loyalitas Tokoh yang Ada di Tim Sukses Prabowo-Sandi

Minggu, 20 Januari 2019 | 19:17 WIB
0
310
Menakar Loyalitas Tokoh yang Ada di Tim Sukses Prabowo-Sandi
Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno/Dawainusa.com

Bukanlah pekerjaan mudah bagaimana merekrut orang-orang yang bisa dipercaya dalam mendukung kemenangan pasangan Prabowo-Sandi di Pilpres 2019.

Partai koalisi pendukung, seperti PKS, PAN, Demokrat, dan Berkarya tentunya menyetorkan kadernya untuk duduki posisi tertentu di dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Selain diisi kader partai pendukung, BPN juga diisi orang-orang tertentu yang bukan kader partai.

Seperti yang dikatakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Ahmad Muzani, bahwa koalisinya tidak akan pernah berupaya mengajak pihak-pihak yang selama ini mendukung Joko Widodo untuk masuk ke tim pemenangannya. Alasannya, karena koalisinya hanya diisi oleh orang-orang yang betul-betul rela karena tim pemenangan ini tidak digaji dan dijanjikan apa pun.

Pada kenyataannya tidak seperti itu. Ada juga tokoh-tokoh yang coba didekati dengan berbagai macam cara, termasuk ditawari untuk mengikuti ajang Pilgub Jawa Timur, seperti yang dilakukan untuk Yeny Wahid. Hal yang sama juga dilakukan kepada Anies Baswedan di Jakarta.

Bagi orang-orang tertentu, jabatan adalah sebuah prestise yang sayang untuk dilepaskan, meskipun untuk itu dia harus  tak lagi sepaham secara politik dengan kawannya selama ini.

Ketika Yenny Wahid menyatakan menolak bergabung dengan Prabowo-Sandi dan lebih memilih Jokowi-Ma’ruf, lantas membuat Sandi pun mendekati salah satu cucu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari, yaitu Irfan Yusuf Hasyim atau Gus Irfan, bahkan menunjuknya sebagai juru bicara (jubir) baru. Itulah gaya politik pemecah belah NU yang dipahami  dan dipakai dalam perekrutan tim sukses.

Begitu  pula dengan nama-nama yang sudah beken, seperti Sudirman Said, Rizal Ramli, Ferry Mursyidan Baldan, atau Anies Baswedan. Nama keempatnya memang tak asing lagi di telinga kita. Mereka adalah mantan menteri Jokowi yang terdepak melalui prosedur resuffle kabinet.

Secara kasatmata, masyarakat bisa melihat dan menilai sikap para mantan itu kepada Jokowi melalui komentar-komentarnya. Meski begitu, ada juga mantan menteri Jokowi yang tetap menaruh hormat kepada mantan atasannya itu. Jadi tidak semua mantan menteri kecewa karena diberhentikan.

Namun, ada juga tokoh yang sebelumnya menjadi pendukung Prabowo, mengalihkan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf. Ambil contoh dukungan mantan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) dan mantan wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mizwar. Keduanya mantan pejabat daerah yang mengalihkan dukungannya kepada Jokowi karena pertimbangan realitas yang terjadi selama 4 tahun terakhir ini.

Begitu juga mantan penasehat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Usamah Hisyam dan Kapitra Ampera yang sebelumya berharap Ijtima Ulama benar-benar menghasilan sosok pemimpin Islam yang taat, ternyata hasilnya mengecewakan.

Bagi mereka,  Prabowo bukanlah muslim yang taat ibadah, sehingga tak ada pilihan lain, kecuali mendukung Jokowi yang kebetulan bersanding dengan ulama besar KH Ma’ruf Amin.

Memilih orang yang bisa dipercaya dan mampu bekerja dengan baik, bukanlah pekerjaan mudah. Begitu pula yang dilakukan Presiden Jokowi ketika memilih dan memilah para pembantunya untuk duduk di kursi kabinet.

Ketika ada kebutuhan yang amat medesak, sehingga harus merotasi atau bahkan mengganti beberapa orang menteri.

Namun, jika ada menteri yang diberhentikan itu tidak merasa puas dan mengalihkan pilihan politiknya ke lawanya,  itu adalah pilihan yang juga harus dihormati Jokowi.

Akhirnya, bisa disimpulkan, mereka yang merapat karena jabatan, maka loyalitasnya akan hilang seiring hilangnya jabatan.

Namun, bila loyalitasnya itu disandarkan untuk kemaslahatan bangsa dan negara, melalui keberlanjutan pembangaun, sampai kapan pun tak akan bergeser.

Salam.

***