Timnas Indonesia Takkan Pernah Juara Jika Pesepabola Masih Saja Memukuli Wasit

Kalau saja pemukulan wasit tetap berlangsung dari waktu ke waktu. Sepanjang itu pulalah, harapan untuk juara tidak perlu saya pupuk. Kadang kecewa itu muncul karena adanya harapan.

Minggu, 2 Januari 2022 | 11:22 WIB
0
387
Timnas Indonesia Takkan Pernah Juara Jika Pesepabola Masih Saja Memukuli Wasit
Timnas Sepakbola Indonesia (Koleksi Bola Okezone)

Keriuhan pertemuan kedua antara Indonesia dan Thailand yang menghasilkan skor imbang 2-2. Sekalipun imbang, juara tetap saja ke Thailand yang sudah menyarangkan empat gol pada pertemuan sebelumnya.

Para penonton yang berada di Café Frozzy, Makassar, tadi malam. Tetap saja mereka bergembira dengan hasil ini. Walau tidak menggengam juara. Untuk keenam kalinya dalam ajang AFF, Indonesia hanya bisa sampai runner-up. Belum juara sekalipun.

Pada kesempatan pertandingan pertama sebelumnya sayapun melewatkan nobar. Semasa itu saya berada di Malino untuk persiapan diskusi dengan KNPI Gowa, Sulawesi Selatan. Bukan saja persiapan acara pagi hari esok, juga terkait dengan udara dingin yang menyenangkan untuk dilewati dengan tidur lebih awal.

Usai mandi pagi, saya membukan handphone. Ketika sudah melihat notifikasi kekalahan 4-0, sayapun menutup gawai, dan meneruskan aktivitas untuk sarapan. Kampung saya di Camba yang dingin selalu menyimpan kerinduan untuk menikmati dingin. Walau tidak suka dengan mesin pendingin ruangan.

Unggahan kawan dalam sebuah percakapan media sosial yang menyertakan video pemukulan wasit. Itu terjadi di liga sepakbola Indonesia. Dengan menggunakan mesin pencari Google, saya menemukan nama sang wasit, Romi Daeng Rewa. Sebagaimana dimaklumatkan oleh Kompas edisi 25 Desember 2021.

Bahkan lamanweb Detik menyebutnya pengeroyokan. Ini sebuah tragedi dimana untuk menjalankan ekosistem pesepakbolaan, wasit salah satu pilarnya.

Kalaulah antara wasit dan pemain tidak saling mengapresiasi tugas dan peran masing-masing, maka harapan untuk juara tidak perlu dipertahankan. Bahkan bolehjadi begini.

Indonesia tidak pernah juara, kalau saja wasit tetap dipukuli.

Otoritas sepakbola perlu tegas bagi pemain sepakbola yang memukuli wasit, tidak diperkenankan lagi menjalani pertandingan sepakbola. Supaya ini menjadi hukuman bagi siapapun memilih jalan pukulan sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah.

Setidaknya bukan saja wasit, juga pemain. Begitu pula penonton. Termasuk bagian itu, pemilik modal yang mendanai sebuah klub sepak bola. Ada pula di dalamnya media dan seluruh perangkatnya. Tak tertinggal, perguruan tinggi, dan juga ada peran yang dimainkannya untuk menghasilkan akademisi.

Berdiri di lapangan setiap saat, pelatih. Manajer dan pengurus klub, serta official lainnya.

Kesemuanya inilah yang menjadi bagian-bagian dalam ekosistem sepakbola. Semuanya perlu saling erat-mengeratkan. Saya menganalogikan dengan sebuah mesin, sebutlah sepeda motor. Kalaulah satu komponen, seperti ban kempes. Maka, tetap saja tidak bisa berjalan untuk digunakan mencapai tujuan.

Apa yang hendak dicapai dengan adanya timnas sepakbola? Setidaknya memberi bonus Kesehatan. Juga terkait dengan minat dan hobi. Ada juga penghasilan dan uang yang berada dalam kitarannya.

Kalaulah dengan sepakbola hanya akan muncul orang cedera yang digotong dari lapangan sepakbola dengan adanya tindakan pemukulan dari pemain sepakbola, bukan sepakbolanya yang perlu dihentikan.

Justru pemain yang suka memukul itu yang kemudian perlu diberhentikan.

Masih banyak urusan lain yang perlu segera ditangani polisi. Ada korupsi, ada penyalahgunaan jabatan, dan juga kasus-kasus penting lainnya. Kalaulah pemukulan wasit, ini dapat dicegah dengan regulasi yang sudah jelas, dan disertasi penegakan hukum.

Baik pemain, maupun wasit memiliki peran dan sumbangsih yang sama pentingnya. Tanpa keduanya, permainan sepakbola tidak bisa berjalan. Olehnya, perlu kesamaan pandangan dan juga saling apresiasi sehingga atmosfer kompetisi sepakbola tanah air bisa berjalan.

Kalau saja pemukulan wasit tetap berlangsung dari waktu ke waktu. Sepanjang itu pulalah, harapan untuk juara tidak perlu saya pupuk. Kadang kecewa itu muncul karena adanya harapan. Supaya kecewa tak wujud, maka memunculkan harapan perlu saya pangkas sejak sekarang.

***